Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Thursday, September 24, 2015

Markus 9: 38-50 | Siapa penyesat dan siapa yang tersesat?



Bacaan Firman Tuhan: Markus 9: 38-50

"Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?" - Markus 9: 50 

Nas Firman Tuhan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya sebelumnya di Markus 9: 30-37 yaitu perkataan Yesus yang tidak dimengerti para muridNya dan juga pembicaraan murid-muridNya tentang siapa yang terbesar diantara mereka. Dalam nas khotbah kali ini ini memperlihatkan pada kita bahwa ternyata murid Yesus juga belum mengerti sepenuhnya akan apa yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Pikiran tentang siapa yang terbesar diantara mereka masih jelas terlihat ketika Yohanes mengungkapkan bahwa mereka telah mencegah orang yang diluar murid Yesus yang selalu bersamaNya untuk mengusir setan dalam nama Yesus. Anggapan murid-murid Yesus bahwa mereka tidak memiliki hak untuk berbuat sesuatu atas nama Yesus sementara mereka bukanlah bagian dari murid-murid yang selalu bersama Yesus.

Yesus menjawab: “Tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” Jawaban Yesus sebenarnya memiliki makna yang sama dengan apa yang diungkapkanNya sebelumnya. Bahwa akan tiba waktunya Yesus akan menderita, disiksa dan akan dibunuh, dan orang-orang yang berbuat atas nama Yesus saat itu bisa saja kembali berbalik untuk mengumpat Yesus.

Percakapan dan pemahaman murid-murid Yesus sebenarnya masih berputar-putur sesuatu perbuatan dan mengharapkan sesuatu secara lahiriah (kedagingan). Hal ini kembali ingin diperjelas Tuhan Yesus, bahwa kepercayaan dalam hal mengikut Yesus jauh dari ambisi-ambisi lahiriah. Tetapi sebaliknya bahwa pengikut Kristus itu memiliki hati untuk berbagi kebaikan kepada setiap orang tanpa harus memandang siapa yang layak atau tidak layak untuk berbagi kebaikan.

Hal ini jelas dipertegas Yesus, bahwa bagaimana kita sebagai orang Kristen itu selayaknya menyatakan kebaikan kepada orang lain karena telah diikat dalam dan karena nama Yesus. Maka pengikut Kristus supaya “Jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain dan menyingkirkan batu sandungan bagi diri sendiri”. Yesus ingin memberikan pemahaman yang lebih luas bagi kita tentang kehidupan pengikutNya.


Tuhan Yesus menegaskan bagaimana beratnya hukuman bagi orang yang menyesatkan orang lain karena telah menjadi batu sandungan bagi orang lain karena telah membuatnya jauh dari Tuhan. Begitu juga hukuman yang akan diterima seseorang yang karena mengikuti keinginan dagingnya sehingga meninggalkan perintah Tuhan.

Pertama, membuka diri untuk kebaikan. Yesus mengharapkan bahwa orang yang telah percaya kepada Kristus untuk tidak sekali-kali menjadi penghalang bagi orang lain untuk percaya kepada Yesus hanya karena pikiran yang sempit dalam memahami perintah Tuhan. Orang Kristen itu harus terbuka menerima dan memberi kebaikan kepada orang lain. Pengikut Kristus akan memperlihatkan dirinya mudah untuk menyerap kebaikan dan lebih mudah lagi menyalurkan kebaikan. Kita dipacu menjadi pelayan bagi sesamanya bukan berpacu menjadi yang terbesar diantara sesamanya. 

Kedua, menutup diri untuk dosa. Yesus menggambarkan bagaimana sebenarnya tangan, kaki dan mata yang sangat rentan untuk jalur masuknya dosa dalam kehidupan kita. Pengikut Kristus harus mampu menguasai kehidupan dagingnya supaya tidak menjadi jalur masuknya dosa dalam diri.
Keinginan daging dapat menjadi batu sandungan bagi diri sendiri. Jika tidak mampu untuk menguasainya, maka dosalah yang akan berkuasa atas diri kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan lebih baik memenggal dan mencungkil bahagian tubuh yang melakukan dosa sebelum dosa itu menjalar lebih jauh ke seluruh tubuh.

Melawan godaan dunia yang menyesatkan, melawan keinginan daging adalah merupakan penderitaan yang harus kita hadapi, tetapi itu hanya untuk sementara waktu. Karena lebih baik kita menderita karena menolak dosa masuk dalam hidup kita daripada kita membiarkan dosa masuk dalam diri yang berakibat kehilangan hidup selama-lamanya. 

***
Khotbah:


Sekiranya nas ini diterapkan mungkin sudah banyak orang Kristen yang sudah tidak punya tangan, kaki dan mata. Namun walaupun Tuhan Yesus mengatakan bahwa:
“jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka”
“Jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka”
“Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka”

Untungnya Tuhan Yesus tidak perintahkan kita melakukan seperti yang diucapkannya tadi. Sebab Yesus sedang memakai gaya bahasa yang keras untuk memperlihatkan pada kita bahwa apa yang sedang Dia ajarkan adalah masalah yang sangat serius.

Mengapa Yesus anggap itu serius? Karena itu adalah masalah hidup. Setiap organisasi dibentuk pasti memiliki anggaran rumah tangga yang harus dijalankan dan ditaati oleh anggota. Setiap peralatan pasti memiliki SOP atau standar operasional prosedur. Maka manusia pun demikian, Yesus menekankan bahwa manusia harus hidup sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Jika tidak, maka aka nada konsekuensi yang akan kita terima.

Tuhan menciptakan kita bukan asal-asalan. Tuhan menjadikan kita begitu sangat sempurna. Maka manusia juga harus menghargai kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan, tidak asal hidup dengan sesuka kita menjalani hidup ini tanpa mau diarahkan dan dituntun oleh Tuhan.

Tuhan menciptakan mata kita untuk melihat, dengan mata segala sesuatu dapat terlihat. Tetapi kita tidak bisa melihat semuanya dengan sesuka hati kita, sebab ada batasan dan aturan sesuatu yang tidak layak untuk kita lihat.

Tuhan menciptakan tangan kita, maka kita bisa bekerja dan berbuat dalam hidup. Walaupun tangan ini bisa berbuat segala sesuatu, tetapi ada batasan dan aturan mana hal yang tidak dapat untuk tidak kita perbuat.

Tuhan menciptakan kaki, maka kita dimampukan untuk berada disegala sudut dunia ini. Tetapi walaupun kita bisa untuk pergi kemanapun, ada batasan dan aturan mana tempat yang tidak layak untuk kita kunjungi.

Dalam kehidupan kita ini ada banyak kasus-kasus yang terjadi yang memperlihatkan bagaimana manusia itu menjalani kehidupan dengan sesukanya, tanpa pikir panjang banyak orang mengikuti keinginan dagingnya. Contohnya: perselingkuhan, perceraian, aborsi, sex bebas, perjudian, korupsi, pencurian, pembunuhan dan kejahatan-kejahatan lainnya. Dan kita orang-orang Kristen hidup diantara kehidupan yang seperti itu, bahkan tidak jarang juga kita menemukan orang Kristen yang melakukan yang seperti itu. 

Maka, Tuhan Yesus ingin mengajar kita bagaimana untuk memperoleh keselamatan hidup, maka kita tidak bisa memakai kehidupan ini dengan keinginan daging. Jika kita mengikuti nafsu duniawi maka kita akan menerima akibat dari nafsu kita sendiri.

Yesus ingin mengajar kita untuk melihat kehidupan itu dalam jangka yang panjang. Sebagaimana yang Yesus katakan, bahwa Ia menjanjikan kehidupan yang kekal. Maka orang percaya itu jangan berfikir pendek yang hanya akan membuat jerat ataupun batu sandungan bagi diri sendiri. Karena setiap orang yang berjalan diluar petunjuk Tuhan akan membawa celaka bagi dirinya sendiri.

Maka kita diarahkan oleh firman Tuhan, supaya menjalani kehidupan ini hanya di dalam nama Yesus dan hanya karena nama Yesus. Tetapi jangan jadi salah mengerti, nanti kita bisa terjebak asal-asalan menggunakan nama Yesus. “sedikit-sedikit kita sudah bilang….dalam nama Yesus…..”. maksudnya apapun yang dapat kita perbuat mari kita perbuat bukan karena keinginan daging kita, kita berbuat sesuatu didorong oleh hawa nafsu kita, tetapi kita berbuat sesuatu hanyalah karena kehendak Tuhan Yesus saja.

Segala sesuatu yang kita perbuat di dalam dank arena nama Yesus, firman Tuhan mengatakan pada kita saat ini, kita tidak akan pernah kehilangan upah yang besar dari Tuhan. Maka pertanyaan yang menjadi perenungan bagi kita, sebagaimana yang Yesus katakana: “Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu”. “Apa yang menggarami dirimu?” apakah kita masih digarami oleh kerakusan, ketamakan dan nafsu dunia ini? Atau kita telah digarami oleh kuasa firman Tuhan?
 

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Markus 9: 38-50 | Siapa penyesat dan siapa yang tersesat?



Bacaan Firman Tuhan: Markus 9: 38-50

"Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?" - Markus 9: 50 

Nas Firman Tuhan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya sebelumnya di Markus 9: 30-37 yaitu perkataan Yesus yang tidak dimengerti para muridNya dan juga pembicaraan murid-muridNya tentang siapa yang terbesar diantara mereka. Dalam nas khotbah kali ini ini memperlihatkan pada kita bahwa ternyata murid Yesus juga belum mengerti sepenuhnya akan apa yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Pikiran tentang siapa yang terbesar diantara mereka masih jelas terlihat ketika Yohanes mengungkapkan bahwa mereka telah mencegah orang yang diluar murid Yesus yang selalu bersamaNya untuk mengusir setan dalam nama Yesus. Anggapan murid-murid Yesus bahwa mereka tidak memiliki hak untuk berbuat sesuatu atas nama Yesus sementara mereka bukanlah bagian dari murid-murid yang selalu bersama Yesus.

Yesus menjawab: “Tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” Jawaban Yesus sebenarnya memiliki makna yang sama dengan apa yang diungkapkanNya sebelumnya. Bahwa akan tiba waktunya Yesus akan menderita, disiksa dan akan dibunuh, dan orang-orang yang berbuat atas nama Yesus saat itu bisa saja kembali berbalik untuk mengumpat Yesus.

Percakapan dan pemahaman murid-murid Yesus sebenarnya masih berputar-putur sesuatu perbuatan dan mengharapkan sesuatu secara lahiriah (kedagingan). Hal ini kembali ingin diperjelas Tuhan Yesus, bahwa kepercayaan dalam hal mengikut Yesus jauh dari ambisi-ambisi lahiriah. Tetapi sebaliknya bahwa pengikut Kristus itu memiliki hati untuk berbagi kebaikan kepada setiap orang tanpa harus memandang siapa yang layak atau tidak layak untuk berbagi kebaikan.

Hal ini jelas dipertegas Yesus, bahwa bagaimana kita sebagai orang Kristen itu selayaknya menyatakan kebaikan kepada orang lain karena telah diikat dalam dan karena nama Yesus. Maka pengikut Kristus supaya “Jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain dan menyingkirkan batu sandungan bagi diri sendiri”. Yesus ingin memberikan pemahaman yang lebih luas bagi kita tentang kehidupan pengikutNya.


Tuhan Yesus menegaskan bagaimana beratnya hukuman bagi orang yang menyesatkan orang lain karena telah menjadi batu sandungan bagi orang lain karena telah membuatnya jauh dari Tuhan. Begitu juga hukuman yang akan diterima seseorang yang karena mengikuti keinginan dagingnya sehingga meninggalkan perintah Tuhan.

Pertama, membuka diri untuk kebaikan. Yesus mengharapkan bahwa orang yang telah percaya kepada Kristus untuk tidak sekali-kali menjadi penghalang bagi orang lain untuk percaya kepada Yesus hanya karena pikiran yang sempit dalam memahami perintah Tuhan. Orang Kristen itu harus terbuka menerima dan memberi kebaikan kepada orang lain. Pengikut Kristus akan memperlihatkan dirinya mudah untuk menyerap kebaikan dan lebih mudah lagi menyalurkan kebaikan. Kita dipacu menjadi pelayan bagi sesamanya bukan berpacu menjadi yang terbesar diantara sesamanya. 

Kedua, menutup diri untuk dosa. Yesus menggambarkan bagaimana sebenarnya tangan, kaki dan mata yang sangat rentan untuk jalur masuknya dosa dalam kehidupan kita. Pengikut Kristus harus mampu menguasai kehidupan dagingnya supaya tidak menjadi jalur masuknya dosa dalam diri.
Keinginan daging dapat menjadi batu sandungan bagi diri sendiri. Jika tidak mampu untuk menguasainya, maka dosalah yang akan berkuasa atas diri kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan lebih baik memenggal dan mencungkil bahagian tubuh yang melakukan dosa sebelum dosa itu menjalar lebih jauh ke seluruh tubuh.

Melawan godaan dunia yang menyesatkan, melawan keinginan daging adalah merupakan penderitaan yang harus kita hadapi, tetapi itu hanya untuk sementara waktu. Karena lebih baik kita menderita karena menolak dosa masuk dalam hidup kita daripada kita membiarkan dosa masuk dalam diri yang berakibat kehilangan hidup selama-lamanya. 

***
Khotbah:


Sekiranya nas ini diterapkan mungkin sudah banyak orang Kristen yang sudah tidak punya tangan, kaki dan mata. Namun walaupun Tuhan Yesus mengatakan bahwa:
“jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka”
“Jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka”
“Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka”

Untungnya Tuhan Yesus tidak perintahkan kita melakukan seperti yang diucapkannya tadi. Sebab Yesus sedang memakai gaya bahasa yang keras untuk memperlihatkan pada kita bahwa apa yang sedang Dia ajarkan adalah masalah yang sangat serius.

Mengapa Yesus anggap itu serius? Karena itu adalah masalah hidup. Setiap organisasi dibentuk pasti memiliki anggaran rumah tangga yang harus dijalankan dan ditaati oleh anggota. Setiap peralatan pasti memiliki SOP atau standar operasional prosedur. Maka manusia pun demikian, Yesus menekankan bahwa manusia harus hidup sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Jika tidak, maka aka nada konsekuensi yang akan kita terima.

Tuhan menciptakan kita bukan asal-asalan. Tuhan menjadikan kita begitu sangat sempurna. Maka manusia juga harus menghargai kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan, tidak asal hidup dengan sesuka kita menjalani hidup ini tanpa mau diarahkan dan dituntun oleh Tuhan.

Tuhan menciptakan mata kita untuk melihat, dengan mata segala sesuatu dapat terlihat. Tetapi kita tidak bisa melihat semuanya dengan sesuka hati kita, sebab ada batasan dan aturan sesuatu yang tidak layak untuk kita lihat.

Tuhan menciptakan tangan kita, maka kita bisa bekerja dan berbuat dalam hidup. Walaupun tangan ini bisa berbuat segala sesuatu, tetapi ada batasan dan aturan mana hal yang tidak dapat untuk tidak kita perbuat.

Tuhan menciptakan kaki, maka kita dimampukan untuk berada disegala sudut dunia ini. Tetapi walaupun kita bisa untuk pergi kemanapun, ada batasan dan aturan mana tempat yang tidak layak untuk kita kunjungi.

Dalam kehidupan kita ini ada banyak kasus-kasus yang terjadi yang memperlihatkan bagaimana manusia itu menjalani kehidupan dengan sesukanya, tanpa pikir panjang banyak orang mengikuti keinginan dagingnya. Contohnya: perselingkuhan, perceraian, aborsi, sex bebas, perjudian, korupsi, pencurian, pembunuhan dan kejahatan-kejahatan lainnya. Dan kita orang-orang Kristen hidup diantara kehidupan yang seperti itu, bahkan tidak jarang juga kita menemukan orang Kristen yang melakukan yang seperti itu. 

Maka, Tuhan Yesus ingin mengajar kita bagaimana untuk memperoleh keselamatan hidup, maka kita tidak bisa memakai kehidupan ini dengan keinginan daging. Jika kita mengikuti nafsu duniawi maka kita akan menerima akibat dari nafsu kita sendiri.

Yesus ingin mengajar kita untuk melihat kehidupan itu dalam jangka yang panjang. Sebagaimana yang Yesus katakan, bahwa Ia menjanjikan kehidupan yang kekal. Maka orang percaya itu jangan berfikir pendek yang hanya akan membuat jerat ataupun batu sandungan bagi diri sendiri. Karena setiap orang yang berjalan diluar petunjuk Tuhan akan membawa celaka bagi dirinya sendiri.

Maka kita diarahkan oleh firman Tuhan, supaya menjalani kehidupan ini hanya di dalam nama Yesus dan hanya karena nama Yesus. Tetapi jangan jadi salah mengerti, nanti kita bisa terjebak asal-asalan menggunakan nama Yesus. “sedikit-sedikit kita sudah bilang….dalam nama Yesus…..”. maksudnya apapun yang dapat kita perbuat mari kita perbuat bukan karena keinginan daging kita, kita berbuat sesuatu didorong oleh hawa nafsu kita, tetapi kita berbuat sesuatu hanyalah karena kehendak Tuhan Yesus saja.

Segala sesuatu yang kita perbuat di dalam dank arena nama Yesus, firman Tuhan mengatakan pada kita saat ini, kita tidak akan pernah kehilangan upah yang besar dari Tuhan. Maka pertanyaan yang menjadi perenungan bagi kita, sebagaimana yang Yesus katakana: “Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu”. “Apa yang menggarami dirimu?” apakah kita masih digarami oleh kerakusan, ketamakan dan nafsu dunia ini? Atau kita telah digarami oleh kuasa firman Tuhan?
 

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Dosa / Khotbah Minggu / Mengikut Yesus dengan judul Markus 9: 38-50 | Siapa penyesat dan siapa yang tersesat? . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2015/09/markus-9-38-50-siapa-penyesat-dan-siapa.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Markus 9: 38-50 | Siapa penyesat dan siapa yang tersesat? "