Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Monday, October 15, 2018

Yosua 24: 14-24 | Ibadah yang Tulus, Ikhlas dan Setia



Bacaan firman Tuhan: Yosua 24: 14-24

Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"


Begitu besar perbuatan Tuhan bagi umatNya, inilah yang dirasakan oleh Yosua. Sehingga Yosua tidak ingin umat Israel melupakan segala perbuatan Tuhan. Sebab Tuhan yang memanggil, membentuk dan sampai kepada tanah yang dijanjikan oleh Tuhan.

Yosua menyadari usianya yang sudah lanjut, adalah sangat penting mengingatkan kembali umat Israel segala perbuatan Tuhan dan juga tentang kesetiaan mereka kepada Tuhan. Maka Yosua melakukan pembaharuan perjanjian di Sikhem. Yang mana Sikhem adalah tempat pertama kali Tuhan menjanjikan tanah kanaan kepada Abram dan mendirikan mezbah bagi Tuhan (Kejadian 12: 6-7).

Yosua ingin menekankan bahwa kemenangan dan keserhasilan yang mereka raih itu adalah perbuatan Tuhan. Tuhanlah yang telah membimbing umatNya, mulai leluhur mereka Abraham, Ishak, Yakub, Musa dan sampai saat itu. Jika Tuhan sudah begitu baiknya pada mereka, dan ternyata mereka meninggalkan Tuhan dan pergi menyembah ilah lain, tentu Tuhan akan murka.

Maka pembaharuan perjanjian ini tidak lain adalah mempertegas iman mereka kembali kepada Tuhan. Yosua berkata kepada seluruh umat Israel “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;….Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!".

Dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Yosua ini tidak lain adalah mengevaluasi iman kepada Tuhan. Maka penting bagi kita untuk terus mengevaluasi iman kepada Tuhan, bisa karena kesibukan dan rutinitas dan berbagai macam persoalan yang kita hadapi hingga kita terlena akan dunia sehingga melupakan hubungan kita dengan Tuhan.

Lihatlah langkah hidup kita, entah kita sudah menyimpang ke kiri atau ke kanan (Yosua 1: 7). Kita memaksakan berjalan, sementara kaki kita sudah begitu berat untuk melangkah karena sebenarnya jalan hidup kita itu sudah salah. Semakin kita jalan, semakin kita tersesat dan semakin berputus harapan. Maka berhentilah sejenak, perhatikan langkah hidup kita.

Jika kita hendak meneliti dengan dalam, tentang perjalanan kehidupan kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri segala perbuatan Tuhan yang besar bagi hidup kita. Maka adalah layak bagi kita menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Itulah sebabnya Yosua berpesan kepada umat Israel “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia(ay. 14).

Inilah ibadah yang dikehendaki oleh Tuhan,
Tulus dan Ikhlas: Adalah bentuk kesungguhan dari dalam diri kita untuk datang kepada Tuhan. Bukan karena paksaan atau motif lainnya selain karena keinginan kita untuk bersekutu dengan Tuhan yang selalu mengasihi kita. Kita datang kepada Tuhan adalah karena kita mengenal Dia adalah keselamatan kita.
Hal seperti inilah yang sangat ditentang oleh Tuhan Yesus, ketika ibadah itu menjadi formalitas dan ajang untuk memuliakan diri dan bukan lagi untuk memuliakan Tuhan. Kemunafikan sangat berlawanan dengan ketulusan dan keiklasan.

Setia: Dia adalah Allah yang cemburu, yang tak ingin diduakan. Tuhan itu bukan penyelamat alternatif, mengimani Tuhan bukan untuk uji coba. Iman kita kepada Tuhan harus dari totalitas kehidupan kita. Apa yang dikatakan Tuhan itulah yang kita perbuat, dan apa yang dijanjikan Tuhan hanya itulah yang menjadi harapan kita.

Tentang bagaimana kesungguhan kita datang beribadah kepada Tuhan, hal itu akan tampak dan kelihatan dari sikap hidup kita. Bagaimana ketulusan, keikhlasan dan kesetiaan kita untuk beribadah pada Tuhan semuanya akan terlihat juga dari perbuatan hidup kita.

Ini jugalah yang ditekankan oleh Yosua atas jawaban umat Israel yang berkata bahwa hanya kepada Tuhan mereka beribadah, Yosua menyampaikan “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri” (ay.22). Bahwa janji yang mereka ucapkan itu dengan sendirinya akan terbukti dari perbuatan mereka, dan segala konsekuensi atas janji mereka juga akan nyata dalam diri mereka. Hal ini juga sejalan dengan apa yang Paulus katakan di Roma 12: 1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.



No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Blog Archive

Popular Posts

Yosua 24: 14-24 | Ibadah yang Tulus, Ikhlas dan Setia



Bacaan firman Tuhan: Yosua 24: 14-24

Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"


Begitu besar perbuatan Tuhan bagi umatNya, inilah yang dirasakan oleh Yosua. Sehingga Yosua tidak ingin umat Israel melupakan segala perbuatan Tuhan. Sebab Tuhan yang memanggil, membentuk dan sampai kepada tanah yang dijanjikan oleh Tuhan.

Yosua menyadari usianya yang sudah lanjut, adalah sangat penting mengingatkan kembali umat Israel segala perbuatan Tuhan dan juga tentang kesetiaan mereka kepada Tuhan. Maka Yosua melakukan pembaharuan perjanjian di Sikhem. Yang mana Sikhem adalah tempat pertama kali Tuhan menjanjikan tanah kanaan kepada Abram dan mendirikan mezbah bagi Tuhan (Kejadian 12: 6-7).

Yosua ingin menekankan bahwa kemenangan dan keserhasilan yang mereka raih itu adalah perbuatan Tuhan. Tuhanlah yang telah membimbing umatNya, mulai leluhur mereka Abraham, Ishak, Yakub, Musa dan sampai saat itu. Jika Tuhan sudah begitu baiknya pada mereka, dan ternyata mereka meninggalkan Tuhan dan pergi menyembah ilah lain, tentu Tuhan akan murka.

Maka pembaharuan perjanjian ini tidak lain adalah mempertegas iman mereka kembali kepada Tuhan. Yosua berkata kepada seluruh umat Israel “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;….Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!".

Dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Yosua ini tidak lain adalah mengevaluasi iman kepada Tuhan. Maka penting bagi kita untuk terus mengevaluasi iman kepada Tuhan, bisa karena kesibukan dan rutinitas dan berbagai macam persoalan yang kita hadapi hingga kita terlena akan dunia sehingga melupakan hubungan kita dengan Tuhan.

Lihatlah langkah hidup kita, entah kita sudah menyimpang ke kiri atau ke kanan (Yosua 1: 7). Kita memaksakan berjalan, sementara kaki kita sudah begitu berat untuk melangkah karena sebenarnya jalan hidup kita itu sudah salah. Semakin kita jalan, semakin kita tersesat dan semakin berputus harapan. Maka berhentilah sejenak, perhatikan langkah hidup kita.

Jika kita hendak meneliti dengan dalam, tentang perjalanan kehidupan kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri segala perbuatan Tuhan yang besar bagi hidup kita. Maka adalah layak bagi kita menyembah dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Itulah sebabnya Yosua berpesan kepada umat Israel “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia(ay. 14).

Inilah ibadah yang dikehendaki oleh Tuhan,
Tulus dan Ikhlas: Adalah bentuk kesungguhan dari dalam diri kita untuk datang kepada Tuhan. Bukan karena paksaan atau motif lainnya selain karena keinginan kita untuk bersekutu dengan Tuhan yang selalu mengasihi kita. Kita datang kepada Tuhan adalah karena kita mengenal Dia adalah keselamatan kita.
Hal seperti inilah yang sangat ditentang oleh Tuhan Yesus, ketika ibadah itu menjadi formalitas dan ajang untuk memuliakan diri dan bukan lagi untuk memuliakan Tuhan. Kemunafikan sangat berlawanan dengan ketulusan dan keiklasan.

Setia: Dia adalah Allah yang cemburu, yang tak ingin diduakan. Tuhan itu bukan penyelamat alternatif, mengimani Tuhan bukan untuk uji coba. Iman kita kepada Tuhan harus dari totalitas kehidupan kita. Apa yang dikatakan Tuhan itulah yang kita perbuat, dan apa yang dijanjikan Tuhan hanya itulah yang menjadi harapan kita.

Tentang bagaimana kesungguhan kita datang beribadah kepada Tuhan, hal itu akan tampak dan kelihatan dari sikap hidup kita. Bagaimana ketulusan, keikhlasan dan kesetiaan kita untuk beribadah pada Tuhan semuanya akan terlihat juga dari perbuatan hidup kita.

Ini jugalah yang ditekankan oleh Yosua atas jawaban umat Israel yang berkata bahwa hanya kepada Tuhan mereka beribadah, Yosua menyampaikan “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri” (ay.22). Bahwa janji yang mereka ucapkan itu dengan sendirinya akan terbukti dari perbuatan mereka, dan segala konsekuensi atas janji mereka juga akan nyata dalam diri mereka. Hal ini juga sejalan dengan apa yang Paulus katakan di Roma 12: 1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.



Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Epistel / Ibadah / Iman dengan judul Yosua 24: 14-24 | Ibadah yang Tulus, Ikhlas dan Setia . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2018/10/yosua-24-14-24-ibadah-yang-tulus-ikhlas.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Unknown -

Belum ada komentar untuk " Yosua 24: 14-24 | Ibadah yang Tulus, Ikhlas dan Setia "