Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Wednesday, October 19, 2016

Lukas 18: 9-14 | Manakah Jalan Menuju Kehormatan?



Bacaan Firman Tuhan: Lukas 18: 9-14
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Orang-orang yang selalu memikirkan perkara-perkara duniawi akan selalu ada saja tingkahnya yang aneh. Salah satunya adalah mencari kehormatan, tetapi ternyata apa yang diperbuatnya justru merendahkan dirinya dihadapan Tuhan dan juga sesamanya manusia. Dia menganggap sudah terhormat jika dia menonjolkan kemampuan, kepintaran, kekayaan. Tetapi justru sebaliknya dengan penonjolan diri Tuhan sangat membenci hal yang seperti itu dan juga sesamanya juga tidak akan suka melihat tingkah seperti itu. Sebenarnya semua manusia menginginkan kehormatan, sebab tidak ada orang yang mau untuk direndahkan. Namun, ada saja orang yang sesat pikirannya tentang hal kehormatan dan juga cara untuk menggapai kehormatan. Maka nas ini ingin mengarahkan kita untuk memahami bagaimana kehormatan yang sesungguhnya sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Bahwa ternyata ada juga orang yang tidak saja hanya meninggikan diri pada sesamanya manusia, tetapi kepada Tuhan juga.

Maka, mari kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah kehormatan itu?” biasanya orang akan mengatakan bahwa memiliki banyak anak, banyak harta, perkataannya didengarkan, memiliki pangkat yang tinggi sudah dapat dibilang orang terhormat. Namun apakah itu kehormatan? “Ya, benar!” itu adalah kehormatan. Tetapi itu bukanlah inti dari kehormatan. Bisa diibaratkan seperti padi. Tidak semua padi itu baik, yang dikatakan baik adalah ketika padi itu berisi beras. Padi yang berisi atau tidak secara kasat mata tidak dapat kita bedakan, namun yang pasti bahwa orang akan selalu melihat isi dari padi itu, bukan kulitnya. Apa yang ada di dalam itulah yang berharga bukan kulitnya.

Sama seperti itu juga dengan kehormatan. Jika dari luar kita akan sebut itu sebagai padi, namun jika sudah dipegang dan digiling akan kelihatan mana yang lebih banyak beras atau kulinya. Seperti itulah kehormatan di dunia ini, tidak akan ada nilainya jika isinya kosong. Tetapi kehormatan yang berasal dari Tuhan akan bertahan selamanya. Maka pertanyaannya adalah: “Bagaimanakah seseorang itu dikatakan terhormat?” pastinya, perbuatannya harus menjadi kesukaan Tuhan, entah apapun yang dia punya dalam dunia ini, tetap dia berbuat yang terbaik dan takut akan Tuhan. Itulah orang yang benar-benar terhormat, sebab tidak ada siapapun yang memiliki kehormatan itu selain Tuhan sendiri, harus Tuhan yang memberikannya. Sebab itu mari kita lihat bagaimana jalan menuju kehormatan: 

1.        Bukan melalui sikap tinggi hati seperti orang farisi
Tuhan Yesus membuat sebuah perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai, supaya melalui perilaku kedua orang itu kita akan mengenal jalan menuju kehormatan yang sesungguhnya. Dalam permulaan perumpamaan itu Tuhan Yesus mengatakan: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa”. Arti dari perkataan itu, bahwa sebenarnya kedua orang itu ingin mendapatkan kehormatan, sebab mereka sama-sama ingin mencari jalan untuk dekat dengan Tuhan, itulah sebabnya mereka datang untuk berdoa ke bait Allah dan sama-sama mereka ingin supaya Tuhan menerima doa mereka. Tetapi cara dan isi doa mereka berbeda. Orang farisi itu berdoa: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Jika pada permulaan doanya dia memuji Tuhan, tetapi selanjutnya dia memuji diri sendiri. Seandainya dia memuji Tuhan tidak akan mungkin dirinya meninggikan diri dan merasa benar dari orang lain dan juga apa yang telah diperbuatnya untuk melakukan perintah Tuhan tanpa dia sebut sebenarnya Tuhan sudah tahu. 

2.     Tetapi, melalui kerendahan hati seperti pemungut cukai.
Berbeda dengan orang farisi, pemungut cukai ini justru berdiri jauh berdoa dan tidak berani menengadah ke langit. Dan dalam doanya sambil memukul diri dia berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Kita dapat melihat bagaimana dia sangat perhatian atas dosanya kepada Tuhan sehingga membawanya kepada Tuhan supaya dirinya diampuni.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu pengenalan akan dosa. Sebab tidak seorangpun yang layak dihadapan Tuhan tanpa mengenal dosanya dan yang mau mengaku dihadapan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan tentang perumpamaanNya itu “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak”. Orang farisi itu datang kehadapan Tuhan tetapi dengan pembenaran diri, tetapi pemungut cukai itu datang kehadapan Tuhan dengan pembenaran oleh Tuhan.

Maka dari itu jelaslah siapa yang mendapatkan kehormatan yang tertinggi dari Tuhan, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kehormatan yang tertinggi adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.


Sumber: Khotbah Pdt. Dr.Justin Sihombing (Diterjemahkan dari buku “Ibana do Pardameanta I”)

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Lukas 18: 9-14 | Manakah Jalan Menuju Kehormatan?



Bacaan Firman Tuhan: Lukas 18: 9-14
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Orang-orang yang selalu memikirkan perkara-perkara duniawi akan selalu ada saja tingkahnya yang aneh. Salah satunya adalah mencari kehormatan, tetapi ternyata apa yang diperbuatnya justru merendahkan dirinya dihadapan Tuhan dan juga sesamanya manusia. Dia menganggap sudah terhormat jika dia menonjolkan kemampuan, kepintaran, kekayaan. Tetapi justru sebaliknya dengan penonjolan diri Tuhan sangat membenci hal yang seperti itu dan juga sesamanya juga tidak akan suka melihat tingkah seperti itu. Sebenarnya semua manusia menginginkan kehormatan, sebab tidak ada orang yang mau untuk direndahkan. Namun, ada saja orang yang sesat pikirannya tentang hal kehormatan dan juga cara untuk menggapai kehormatan. Maka nas ini ingin mengarahkan kita untuk memahami bagaimana kehormatan yang sesungguhnya sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Bahwa ternyata ada juga orang yang tidak saja hanya meninggikan diri pada sesamanya manusia, tetapi kepada Tuhan juga.

Maka, mari kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah kehormatan itu?” biasanya orang akan mengatakan bahwa memiliki banyak anak, banyak harta, perkataannya didengarkan, memiliki pangkat yang tinggi sudah dapat dibilang orang terhormat. Namun apakah itu kehormatan? “Ya, benar!” itu adalah kehormatan. Tetapi itu bukanlah inti dari kehormatan. Bisa diibaratkan seperti padi. Tidak semua padi itu baik, yang dikatakan baik adalah ketika padi itu berisi beras. Padi yang berisi atau tidak secara kasat mata tidak dapat kita bedakan, namun yang pasti bahwa orang akan selalu melihat isi dari padi itu, bukan kulitnya. Apa yang ada di dalam itulah yang berharga bukan kulitnya.

Sama seperti itu juga dengan kehormatan. Jika dari luar kita akan sebut itu sebagai padi, namun jika sudah dipegang dan digiling akan kelihatan mana yang lebih banyak beras atau kulinya. Seperti itulah kehormatan di dunia ini, tidak akan ada nilainya jika isinya kosong. Tetapi kehormatan yang berasal dari Tuhan akan bertahan selamanya. Maka pertanyaannya adalah: “Bagaimanakah seseorang itu dikatakan terhormat?” pastinya, perbuatannya harus menjadi kesukaan Tuhan, entah apapun yang dia punya dalam dunia ini, tetap dia berbuat yang terbaik dan takut akan Tuhan. Itulah orang yang benar-benar terhormat, sebab tidak ada siapapun yang memiliki kehormatan itu selain Tuhan sendiri, harus Tuhan yang memberikannya. Sebab itu mari kita lihat bagaimana jalan menuju kehormatan: 

1.        Bukan melalui sikap tinggi hati seperti orang farisi
Tuhan Yesus membuat sebuah perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai, supaya melalui perilaku kedua orang itu kita akan mengenal jalan menuju kehormatan yang sesungguhnya. Dalam permulaan perumpamaan itu Tuhan Yesus mengatakan: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa”. Arti dari perkataan itu, bahwa sebenarnya kedua orang itu ingin mendapatkan kehormatan, sebab mereka sama-sama ingin mencari jalan untuk dekat dengan Tuhan, itulah sebabnya mereka datang untuk berdoa ke bait Allah dan sama-sama mereka ingin supaya Tuhan menerima doa mereka. Tetapi cara dan isi doa mereka berbeda. Orang farisi itu berdoa: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Jika pada permulaan doanya dia memuji Tuhan, tetapi selanjutnya dia memuji diri sendiri. Seandainya dia memuji Tuhan tidak akan mungkin dirinya meninggikan diri dan merasa benar dari orang lain dan juga apa yang telah diperbuatnya untuk melakukan perintah Tuhan tanpa dia sebut sebenarnya Tuhan sudah tahu. 

2.     Tetapi, melalui kerendahan hati seperti pemungut cukai.
Berbeda dengan orang farisi, pemungut cukai ini justru berdiri jauh berdoa dan tidak berani menengadah ke langit. Dan dalam doanya sambil memukul diri dia berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Kita dapat melihat bagaimana dia sangat perhatian atas dosanya kepada Tuhan sehingga membawanya kepada Tuhan supaya dirinya diampuni.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu pengenalan akan dosa. Sebab tidak seorangpun yang layak dihadapan Tuhan tanpa mengenal dosanya dan yang mau mengaku dihadapan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan tentang perumpamaanNya itu “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak”. Orang farisi itu datang kehadapan Tuhan tetapi dengan pembenaran diri, tetapi pemungut cukai itu datang kehadapan Tuhan dengan pembenaran oleh Tuhan.

Maka dari itu jelaslah siapa yang mendapatkan kehormatan yang tertinggi dari Tuhan, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kehormatan yang tertinggi adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.


Sumber: Khotbah Pdt. Dr.Justin Sihombing (Diterjemahkan dari buku “Ibana do Pardameanta I”)

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Doa / Keselamatan / Khotbah Minggu / Perumpamaan Tuhan Yesus dengan judul Lukas 18: 9-14 | Manakah Jalan Menuju Kehormatan? . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2016/10/lukas-18-9-14-manakah-jalan-menuju.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Pdt. Porisman D.M Lubis -

Belum ada komentar untuk " Lukas 18: 9-14 | Manakah Jalan Menuju Kehormatan? "