Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Friday, July 18, 2014

Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum (Matius 13: 24-30 + 36-43)

Bacaan Firman Tuhan: Matius 13:  24-30 + 36-43
Begitu kita membaca perumpamaan ini, pasti kita akan menemukan kejanggalan, yaitu pada ayat 30 “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai..”. Mengapa gandum dan lalang dibiarkan sama-sama bertumbuh? Sementara kebiasaan jika ada lalang maupun tumbuhan-tumbuhan pengganggu pasti akan disiangi dan mencabuti tumbuhan perusak tersebut, namun mengapa pemilik ladang mencegah hamba-hambanya untuk mencabutnya? Yang pasti alasan yang dibuat oleh pemilik ladang adalah faktor resiko karena mungkin gandum ikut tercabut ketika mencabut lalang, karena jika tiba waktu menuai akan kelihatan dengan jelas mana gandum dan lalang. Namun pelajaran awal untuk kita memahami perumpamaan ini:

          1. Tuan pemilik ladang hanya menaburkan benih yang baik
          2. Gandum dan Lalang akan tumbuh bersama, di tanah yang sama dan sama-sama menerima sinar matahari dan hujan.
          3. Sulit membedakan antara Gandum dan Lalang sampai waktu menuai tiba
          4. Tugas pemisahan antara Gandum dan Lalang adalah penuai yang disuruh oleh pemilik ladang dan bukan tugas hamba-hambanya.

Perumpamaan Tuhan Yesus ini mengingatkan kita bahwa akan ada waktu dimana Tuhan akan melakukan penghakiman terakhir yaitu kedatangan Kristus kembali sebagai hakim. Inilah proses menuai yang akan dikerjakan oleh malaikat-malaikat Tuhan. Sehingga yang bertanggungjawab untuk proses pemisahan antara gandum dan lalang itu adalah yang berasal dari atas yaitu para malaikat yang telah ditugaskan oleh Anak Manusia.

Dalam kehidupan kita di dunia ini kejahatan dan kebaikan akan berjalan bersama. Seperti pemilik ladang yang menaburkan benih yang baik, demikian jugalah iblis (si jahat) menaburkan benih lalang yang menaburkan kejahatan dalam kehidupan ini. Secara kasat mata akan sulit membedakan mana lalang dan mana gandum, sebab benih-benih iblis-pun akan tumbuh layaknya seperti gandum, namun yang pasti seiring waktu berjalan benih itu akan sama-sama bertumbuh dan mengeluarkan identitasnya secara alami yaitu melalui buah yang dikeluarkannya.

Iblis akan menaburkan benih kejahatan dalam kegelapan, ketika hamba-hamba Tuan pemilik tanah sedang tertidur. Selalu ada waktu iblis akan menaburkan benih kejahatannya, gereja-pun tidak dapat mencegah masuknya orang munafik. Namun Tuan pemilik tanah persis mengetahui siapa penabur benih kejahatan itu dan mana anak-anak kejahatan yang ditaburkan itu.

Waktu menuai menjadi hari penuh sukacita baik bagi penabur maupun penuai (Yoh. 4:36). Pada akhir zaman, semua pelaku kejahatan akan dicampakkan kedalam dapur api seperti lalang yang dibakar, dan orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan sorga.

Dalam perumpamaan ini, yang harus dapat dipahami bahwa memang tugas kita bukanlah untuk membedakan mana gandum dan mana lalang. Cukuplah kita mengetahui bagaimana ciri-ciri dari anak-anak iblis dan fokuslah pada pertumbuhan hidup kita menjadi benih (gandum) yang baik yang akan menghasilkan buah pada waktunya. Sebab jika tidak demikian kita bisa terkecoh mengikuti permainan iblis, alih-alih kita mau membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang jahat yang pada akhirnya kita bisa menjadi gandum yang mati bersama dengan lalang. Sebab bagaiamanapun juga, tanpa kita membedakannya, lalang akan tetap berakhir kepada pemusnahan dalam api, dan Tuhan akan kekal menjadi Tuan pemilik ladang yang menantikan buah dari gandum. Sehingga kita harus terus berupaya mempertahankan tujuan kehidupan kita menjadi benih yang akan menghasilkan pada waktunya.

Akan ada banyak himpitan-himpitan kejahatan yang ditaburkan iblis diantara kita, tapi kita harus ingat bahwa akan ada waktunya Tuhan akan cabut semua kejahatan-kejahatan yang ditaburkan oleh iblis untuk mencoba menghimpit kita supaya menjadi lalang kejahatan.

Sekarang jika kita kembali ke atas, mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan kebaikan itu bertumbuh bersama, seperti gandum dan lalang yang dibiarkan tumbuh bersama oleh pemilik ladang? Bahwa sepanjang waktu sampai kepada akhir zaman Tuhan masih tetap membuka kesempatan bagi orang pendosa untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kita juga sebagai anak-anak Tuhan diharapkan untuk tetap memperlihatkan jati diri kita sebagai anak-anak Tuhan penabur kebaikan yang membawa pengaruh yang baik kepada orang-orang yang masih hidup dalam kejahatan.

1 comment :

Alwin Iswanto Lase said...

Tidak seharunya orang baik dan jahat itu dipisahkan
Biarkan hidup bersama maka yang benar-benar baik akan bertahan.
Terimakasih
menang BERSAMA
Hidup Adalah Perjuangan

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Blog Archive

Popular Posts

Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum (Matius 13: 24-30 + 36-43)

Bacaan Firman Tuhan: Matius 13:  24-30 + 36-43
Begitu kita membaca perumpamaan ini, pasti kita akan menemukan kejanggalan, yaitu pada ayat 30 “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai..”. Mengapa gandum dan lalang dibiarkan sama-sama bertumbuh? Sementara kebiasaan jika ada lalang maupun tumbuhan-tumbuhan pengganggu pasti akan disiangi dan mencabuti tumbuhan perusak tersebut, namun mengapa pemilik ladang mencegah hamba-hambanya untuk mencabutnya? Yang pasti alasan yang dibuat oleh pemilik ladang adalah faktor resiko karena mungkin gandum ikut tercabut ketika mencabut lalang, karena jika tiba waktu menuai akan kelihatan dengan jelas mana gandum dan lalang. Namun pelajaran awal untuk kita memahami perumpamaan ini:

          1. Tuan pemilik ladang hanya menaburkan benih yang baik
          2. Gandum dan Lalang akan tumbuh bersama, di tanah yang sama dan sama-sama menerima sinar matahari dan hujan.
          3. Sulit membedakan antara Gandum dan Lalang sampai waktu menuai tiba
          4. Tugas pemisahan antara Gandum dan Lalang adalah penuai yang disuruh oleh pemilik ladang dan bukan tugas hamba-hambanya.

Perumpamaan Tuhan Yesus ini mengingatkan kita bahwa akan ada waktu dimana Tuhan akan melakukan penghakiman terakhir yaitu kedatangan Kristus kembali sebagai hakim. Inilah proses menuai yang akan dikerjakan oleh malaikat-malaikat Tuhan. Sehingga yang bertanggungjawab untuk proses pemisahan antara gandum dan lalang itu adalah yang berasal dari atas yaitu para malaikat yang telah ditugaskan oleh Anak Manusia.

Dalam kehidupan kita di dunia ini kejahatan dan kebaikan akan berjalan bersama. Seperti pemilik ladang yang menaburkan benih yang baik, demikian jugalah iblis (si jahat) menaburkan benih lalang yang menaburkan kejahatan dalam kehidupan ini. Secara kasat mata akan sulit membedakan mana lalang dan mana gandum, sebab benih-benih iblis-pun akan tumbuh layaknya seperti gandum, namun yang pasti seiring waktu berjalan benih itu akan sama-sama bertumbuh dan mengeluarkan identitasnya secara alami yaitu melalui buah yang dikeluarkannya.

Iblis akan menaburkan benih kejahatan dalam kegelapan, ketika hamba-hamba Tuan pemilik tanah sedang tertidur. Selalu ada waktu iblis akan menaburkan benih kejahatannya, gereja-pun tidak dapat mencegah masuknya orang munafik. Namun Tuan pemilik tanah persis mengetahui siapa penabur benih kejahatan itu dan mana anak-anak kejahatan yang ditaburkan itu.

Waktu menuai menjadi hari penuh sukacita baik bagi penabur maupun penuai (Yoh. 4:36). Pada akhir zaman, semua pelaku kejahatan akan dicampakkan kedalam dapur api seperti lalang yang dibakar, dan orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan sorga.

Dalam perumpamaan ini, yang harus dapat dipahami bahwa memang tugas kita bukanlah untuk membedakan mana gandum dan mana lalang. Cukuplah kita mengetahui bagaimana ciri-ciri dari anak-anak iblis dan fokuslah pada pertumbuhan hidup kita menjadi benih (gandum) yang baik yang akan menghasilkan buah pada waktunya. Sebab jika tidak demikian kita bisa terkecoh mengikuti permainan iblis, alih-alih kita mau membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang jahat yang pada akhirnya kita bisa menjadi gandum yang mati bersama dengan lalang. Sebab bagaiamanapun juga, tanpa kita membedakannya, lalang akan tetap berakhir kepada pemusnahan dalam api, dan Tuhan akan kekal menjadi Tuan pemilik ladang yang menantikan buah dari gandum. Sehingga kita harus terus berupaya mempertahankan tujuan kehidupan kita menjadi benih yang akan menghasilkan pada waktunya.

Akan ada banyak himpitan-himpitan kejahatan yang ditaburkan iblis diantara kita, tapi kita harus ingat bahwa akan ada waktunya Tuhan akan cabut semua kejahatan-kejahatan yang ditaburkan oleh iblis untuk mencoba menghimpit kita supaya menjadi lalang kejahatan.

Sekarang jika kita kembali ke atas, mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan kebaikan itu bertumbuh bersama, seperti gandum dan lalang yang dibiarkan tumbuh bersama oleh pemilik ladang? Bahwa sepanjang waktu sampai kepada akhir zaman Tuhan masih tetap membuka kesempatan bagi orang pendosa untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kita juga sebagai anak-anak Tuhan diharapkan untuk tetap memperlihatkan jati diri kita sebagai anak-anak Tuhan penabur kebaikan yang membawa pengaruh yang baik kepada orang-orang yang masih hidup dalam kejahatan.

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Akhir Zaman / Dosa / Epistel / Perumpamaan Tuhan Yesus dengan judul Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum (Matius 13: 24-30 + 36-43) . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2014/07/perumpamaan-tentang-lalang-di-antara.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

1 Komentar untuk " Perumpamaan Tentang Lalang di Antara Gandum (Matius 13: 24-30 + 36-43) "

Alwin Iswanto Lase said...

Tidak seharunya orang baik dan jahat itu dipisahkan
Biarkan hidup bersama maka yang benar-benar baik akan bertahan.
Terimakasih
menang BERSAMA
Hidup Adalah Perjuangan