Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Monday, February 18, 2013

Bagaimana menjadi pengikut Yesus (LUKAS 14:25-33)

Bacaan Firman Tuhan: LUKAS 14:25-33
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Dalam mengambil suatu tindakan ataupun keputusan yang bijak, pastinya kita sudah melakukan perhitungan akan kesanggupan ataupun resiko yang akan terjadi. Demikian halnya dengan orang yang berkendaraan, jika salah perhitungan ataupun memaksakan melaju kendaraan sementara dia tidak mempunyai perhitungan yang pasti, akibatnya adalah kecelakaan.

Demikian halnya dalam pengajaran Tuhan Yesus kali ini yang membuat suatu perumpamaan seorang yang mendirikan menara tanpa anggaran biaya dan juga seperti seorang raja yang hendak berperang tanpa memperhitungkan pasukannya dengan pasukan lawannya.

Makna dari perumpamaan itu mengarah kepada hal mengikut Yesus. Mengikut Yesus bukanlah hal yang sepele, menjadi seorang Kristen itu bukan untuk ‘ikut-ikutan’ tetapi harus menjadi pengikut, berasal dari kata “ikut” maka kita harus siap untuk maju ke depan dengan mempercayakan diri kepada yang kita ikuti tanpa ragu dan dengan tulus menuruti perintah dan teladan yang ada di depan kita. Mengikut Yesus berarti harus menjadi muridNya, siap untuk di ajar di bimbing, di arahkan oleh Guru Agung kita yaitu Yesus Kristus.

Untuk memahami pengajaran Yesus melalui perumpamaanNya itu dapat dikatakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan untuk memperoleh kemenangan harus terlebih dahulu melihat kesiapan dan kematangan kita menghadapi tujuan yang hendak kita capai. Maka dalam hal menjadi murid Yesus, kita perlu melihat diri kita, kesiapan, tekat dan keputusan yang matang. Sebab untuk mengikut Yesus ada banyak yang harus kita korbankan untuk benar-benar menjadi pengikutNya.

Tuhan Yesus mengajarkan hal mengikut Yesus ketika banyak orang yang mengikuti Yesus dari belakang dan menyatakan bahwa untuk mengikutiNya harus meninggalkan apa yang ada padanya bahkan keluarga sekalipun dan harus siap memikul salib.

Masih banyak dari orang Kristen yang bisa dikatakan sulit memahami ucapan Yesus yang mengatakan Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Banyak yang bertanya apakah demikian adanya untuk mengikut Yesus? Menjadi muridNya harus membenci bapa, ibu, anak, istri dan saudara-saudaranya?. Kata “membenci” yang dimaksud disini bukanlah seperti yang kita pahami secara umum, tetapi “tidak mengacuhkan”

Jika dari konteks nas ini disampaikan oleh Yesus pada saat itu, maka nas ini tidak perlu kita jauh dan pusing untuk menerjemahkan maksudnya. Karena memang orang yang banyak yang tertarik dan takjub akan perbuatan dan pengajaran Yesus adalah orang-orang yang masih terikat oleh agama dan adat Yahudi. 

Sebagaimana kita mengetahui bahwa Yesus sudah melihat bagaimana kebencian dan penolakan para pemuka Yahudi kepada Yesus. System kekerabatan keluarga dan agama yang mengitu kental dalam diri orang Yahudi akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang mau mengikut Yesus. Jika siap mengikut Yesus menjadi muridNya berarti siap untuk dikucilkan dan di singkirkan dari komunitas kekerabatan keluarga dan juga agama. Bagaimana seorang pengikut siap untuk tidak lagi di anggap sebagai bapa, ibu, anak ataupun sebagai saudara. Maka seorang pengikut Yesus harus siap untuk mengacuhkan itu semua.

Namun dalam konteks kita saat ini (terkecuali seseorang yang masih menganut agama lain dan sedang bergumul untuk menentukan keputusan untuk percaya kepada Yesus) dapat dikatakan bahwa kita yang sudah lahir dari keluarga yang sudah percaya kepada Yesus bukanlah maksudnya kita menjadi membenci keluarga kita. Tetapi kita dapat memahami ucapan Yesus ini dalam hal kesungguhan menjadi seorang Kristen. Contohnya: bagaimana kita siap untuk dikatakan tidak ‘gaul’ ataupun kita siap untuk di ejek atau di lecehkan bahkan siap untuk di rendahkan ketika kita memiliki komitmen untuk tidak ikut melakukan perbuatan yang melanggar firman Tuhan. Atau contoh lain bisa juga kita siap menjadi “pejabat miskin” karena kita tidak mau untuk korupsi, atau kita siap meninggalkan kekasih atau “pacar” jika harus meninggalkan iman kita kepada Yesus.
  
Ada beberapa refleksi yang dapat kita pelajari dari nas ini:
1.      Jangan jadi pengikut Yesus yang asal-asalan
Tuhan Yesus menggambarkan dengan “garam yang menjadi tawar”, bahwa garam mempunyai fungsi yang baik dan banyak manfaatnya, namun jika garam itu sendiri tidak mempunyai rasa asin sebagaimana hakikatnya garam, maka tidak akan ada artinya selain untuk dibuang. Jangan kita asal-asalan menjadi orang Kristen, hanya sebatas agama di KTP (kartu identitas) namun harus benar-benar menjadi orang Kristen yang setia dan taat akan Firman Tuhan. 

Buat apa kita menjadi Kristen jika hidup kita sendiri tidak mencerminkan ajaran Kristen sesungguhnya. Seorang yang menamakan dirinya Kristen seharusnya seperti garam yang mempunyai dampak yang baik bagi sekitarnya, namun apalah gunanya jika garam itu menjadi tawar?

2.      Menjadi Kristen harus benar-benar mempersiapkan diri menjadi pengikut Kristus
Jika Tuhan Yesus mengatakan untuk meninggalkan sanak saudara ataupun apa yang ada pada kita untuk mengikut Yesus bukan artinya untuk meninggalkannya dan membencinya, namun kita harus utamakan Firman Tuhan dalam hidup kita diatas segalanya dan juga memakai apa yang ada pada kita untuk Tuhan Yesus. 

Jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Tuhan Yesus akibatnya adalah kita akan terjerumus akan godaan iblis, kita ingat bagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis dipadang gurun di dalam Matius 4:1-11, bahwa Yesus lebih mengutamakan apa yang difirmankan oleh Allah daripada kepentingan diriNya sendiri. Misalkan kita jatuh sakit, jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Allah, maka kita akan pergi ke dukun dengan harapan yang penting bisa sembuh, sehingga Allah telah kita sampingkan. Jika tidak sanggup untuk memikul salib, silahkan tinggalkan Yesus............. 

Bacaan Firman Tuhan: LUKAS 14:25-33
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Dalam mengambil suatu tindakan ataupun keputusan yang bijak, pastinya kita sudah melakukan perhitungan akan kesanggupan ataupun resiko yang akan terjadi. Demikian halnya dengan orang yang berkendaraan, jika salah perhitungan ataupun memaksakan melaju kendaraan sementara dia tidak mempunyai perhitungan yang pasti, akibatnya adalah kecelakaan.

Demikian halnya dalam pengajaran Tuhan Yesus kali ini yang membuat suatu perumpamaan seorang yang mendirikan menara tanpa anggaran biaya dan juga seperti seorang raja yang hendak berperang tanpa memperhitungkan pasukannya dengan pasukan lawannya.

Makna dari perumpamaan itu mengarah kepada hal mengikut Yesus. Mengikut Yesus bukanlah hal yang sepele, menjadi seorang Kristen itu bukan untuk ‘ikut-ikutan’ tetapi harus menjadi pengikut, berasal dari kata “ikut” maka kita harus siap untuk maju ke depan dengan mempercayakan diri kepada yang kita ikuti tanpa ragu dan dengan tulus menuruti perintah dan teladan yang ada di depan kita. Mengikut Yesus berarti harus menjadi muridNya, siap untuk di ajar di bimbing, di arahkan oleh Guru Agung kita yaitu Yesus Kristus.

Untuk memahami pengajaran Yesus melalui perumpamaanNya itu dapat dikatakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan untuk memperoleh kemenangan harus terlebih dahulu melihat kesiapan dan kematangan kita menghadapi tujuan yang hendak kita capai. Maka dalam hal menjadi murid Yesus, kita perlu melihat diri kita, kesiapan, tekat dan keputusan yang matang. Sebab untuk mengikut Yesus ada banyak yang harus kita korbankan untuk benar-benar menjadi pengikutNya.

Tuhan Yesus mengajarkan hal mengikut Yesus ketika banyak orang yang mengikuti Yesus dari belakang dan menyatakan bahwa untuk mengikutiNya harus meninggalkan apa yang ada padanya bahkan keluarga sekalipun dan harus siap memikul salib.

Masih banyak dari orang Kristen yang bisa dikatakan sulit memahami ucapan Yesus yang mengatakan Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Banyak yang bertanya apakah demikian adanya untuk mengikut Yesus? Menjadi muridNya harus membenci bapa, ibu, anak, istri dan saudara-saudaranya?. Kata “membenci” yang dimaksud disini bukanlah seperti yang kita pahami secara umum, tetapi “tidak mengacuhkan”

Jika dari konteks nas ini disampaikan oleh Yesus pada saat itu, maka nas ini tidak perlu kita jauh dan pusing untuk menerjemahkan maksudnya. Karena memang orang yang banyak yang tertarik dan takjub akan perbuatan dan pengajaran Yesus adalah orang-orang yang masih terikat oleh agama dan adat Yahudi. 

Sebagaimana kita mengetahui bahwa Yesus sudah melihat bagaimana kebencian dan penolakan para pemuka Yahudi kepada Yesus. System kekerabatan keluarga dan agama yang mengitu kental dalam diri orang Yahudi akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang mau mengikut Yesus. Jika siap mengikut Yesus menjadi muridNya berarti siap untuk dikucilkan dan di singkirkan dari komunitas kekerabatan keluarga dan juga agama. Bagaimana seorang pengikut siap untuk tidak lagi di anggap sebagai bapa, ibu, anak ataupun sebagai saudara. Maka seorang pengikut Yesus harus siap untuk mengacuhkan itu semua.

Namun dalam konteks kita saat ini (terkecuali seseorang yang masih menganut agama lain dan sedang bergumul untuk menentukan keputusan untuk percaya kepada Yesus) dapat dikatakan bahwa kita yang sudah lahir dari keluarga yang sudah percaya kepada Yesus bukanlah maksudnya kita menjadi membenci keluarga kita. Tetapi kita dapat memahami ucapan Yesus ini dalam hal kesungguhan menjadi seorang Kristen. Contohnya: bagaimana kita siap untuk dikatakan tidak ‘gaul’ ataupun kita siap untuk di ejek atau di lecehkan bahkan siap untuk di rendahkan ketika kita memiliki komitmen untuk tidak ikut melakukan perbuatan yang melanggar firman Tuhan. Atau contoh lain bisa juga kita siap menjadi “pejabat miskin” karena kita tidak mau untuk korupsi, atau kita siap meninggalkan kekasih atau “pacar” jika harus meninggalkan iman kita kepada Yesus.
  
Ada beberapa refleksi yang dapat kita pelajari dari nas ini:
1.      Jangan jadi pengikut Yesus yang asal-asalan
Tuhan Yesus menggambarkan dengan “garam yang menjadi tawar”, bahwa garam mempunyai fungsi yang baik dan banyak manfaatnya, namun jika garam itu sendiri tidak mempunyai rasa asin sebagaimana hakikatnya garam, maka tidak akan ada artinya selain untuk dibuang. Jangan kita asal-asalan menjadi orang Kristen, hanya sebatas agama di KTP (kartu identitas) namun harus benar-benar menjadi orang Kristen yang setia dan taat akan Firman Tuhan. 

Buat apa kita menjadi Kristen jika hidup kita sendiri tidak mencerminkan ajaran Kristen sesungguhnya. Seorang yang menamakan dirinya Kristen seharusnya seperti garam yang mempunyai dampak yang baik bagi sekitarnya, namun apalah gunanya jika garam itu menjadi tawar?

2.      Menjadi Kristen harus benar-benar mempersiapkan diri menjadi pengikut Kristus
Jika Tuhan Yesus mengatakan untuk meninggalkan sanak saudara ataupun apa yang ada pada kita untuk mengikut Yesus bukan artinya untuk meninggalkannya dan membencinya, namun kita harus utamakan Firman Tuhan dalam hidup kita diatas segalanya dan juga memakai apa yang ada pada kita untuk Tuhan Yesus. 

Jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Tuhan Yesus akibatnya adalah kita akan terjerumus akan godaan iblis, kita ingat bagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis dipadang gurun di dalam Matius 4:1-11, bahwa Yesus lebih mengutamakan apa yang difirmankan oleh Allah daripada kepentingan diriNya sendiri. Misalkan kita jatuh sakit, jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Allah, maka kita akan pergi ke dukun dengan harapan yang penting bisa sembuh, sehingga Allah telah kita sampingkan. Jika tidak sanggup untuk memikul salib, silahkan tinggalkan Yesus............. 

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Bagaimana menjadi pengikut Yesus (LUKAS 14:25-33)

Bacaan Firman Tuhan: LUKAS 14:25-33
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Dalam mengambil suatu tindakan ataupun keputusan yang bijak, pastinya kita sudah melakukan perhitungan akan kesanggupan ataupun resiko yang akan terjadi. Demikian halnya dengan orang yang berkendaraan, jika salah perhitungan ataupun memaksakan melaju kendaraan sementara dia tidak mempunyai perhitungan yang pasti, akibatnya adalah kecelakaan.

Demikian halnya dalam pengajaran Tuhan Yesus kali ini yang membuat suatu perumpamaan seorang yang mendirikan menara tanpa anggaran biaya dan juga seperti seorang raja yang hendak berperang tanpa memperhitungkan pasukannya dengan pasukan lawannya.

Makna dari perumpamaan itu mengarah kepada hal mengikut Yesus. Mengikut Yesus bukanlah hal yang sepele, menjadi seorang Kristen itu bukan untuk ‘ikut-ikutan’ tetapi harus menjadi pengikut, berasal dari kata “ikut” maka kita harus siap untuk maju ke depan dengan mempercayakan diri kepada yang kita ikuti tanpa ragu dan dengan tulus menuruti perintah dan teladan yang ada di depan kita. Mengikut Yesus berarti harus menjadi muridNya, siap untuk di ajar di bimbing, di arahkan oleh Guru Agung kita yaitu Yesus Kristus.

Untuk memahami pengajaran Yesus melalui perumpamaanNya itu dapat dikatakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan untuk memperoleh kemenangan harus terlebih dahulu melihat kesiapan dan kematangan kita menghadapi tujuan yang hendak kita capai. Maka dalam hal menjadi murid Yesus, kita perlu melihat diri kita, kesiapan, tekat dan keputusan yang matang. Sebab untuk mengikut Yesus ada banyak yang harus kita korbankan untuk benar-benar menjadi pengikutNya.

Tuhan Yesus mengajarkan hal mengikut Yesus ketika banyak orang yang mengikuti Yesus dari belakang dan menyatakan bahwa untuk mengikutiNya harus meninggalkan apa yang ada padanya bahkan keluarga sekalipun dan harus siap memikul salib.

Masih banyak dari orang Kristen yang bisa dikatakan sulit memahami ucapan Yesus yang mengatakan Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Banyak yang bertanya apakah demikian adanya untuk mengikut Yesus? Menjadi muridNya harus membenci bapa, ibu, anak, istri dan saudara-saudaranya?. Kata “membenci” yang dimaksud disini bukanlah seperti yang kita pahami secara umum, tetapi “tidak mengacuhkan”

Jika dari konteks nas ini disampaikan oleh Yesus pada saat itu, maka nas ini tidak perlu kita jauh dan pusing untuk menerjemahkan maksudnya. Karena memang orang yang banyak yang tertarik dan takjub akan perbuatan dan pengajaran Yesus adalah orang-orang yang masih terikat oleh agama dan adat Yahudi. 

Sebagaimana kita mengetahui bahwa Yesus sudah melihat bagaimana kebencian dan penolakan para pemuka Yahudi kepada Yesus. System kekerabatan keluarga dan agama yang mengitu kental dalam diri orang Yahudi akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang mau mengikut Yesus. Jika siap mengikut Yesus menjadi muridNya berarti siap untuk dikucilkan dan di singkirkan dari komunitas kekerabatan keluarga dan juga agama. Bagaimana seorang pengikut siap untuk tidak lagi di anggap sebagai bapa, ibu, anak ataupun sebagai saudara. Maka seorang pengikut Yesus harus siap untuk mengacuhkan itu semua.

Namun dalam konteks kita saat ini (terkecuali seseorang yang masih menganut agama lain dan sedang bergumul untuk menentukan keputusan untuk percaya kepada Yesus) dapat dikatakan bahwa kita yang sudah lahir dari keluarga yang sudah percaya kepada Yesus bukanlah maksudnya kita menjadi membenci keluarga kita. Tetapi kita dapat memahami ucapan Yesus ini dalam hal kesungguhan menjadi seorang Kristen. Contohnya: bagaimana kita siap untuk dikatakan tidak ‘gaul’ ataupun kita siap untuk di ejek atau di lecehkan bahkan siap untuk di rendahkan ketika kita memiliki komitmen untuk tidak ikut melakukan perbuatan yang melanggar firman Tuhan. Atau contoh lain bisa juga kita siap menjadi “pejabat miskin” karena kita tidak mau untuk korupsi, atau kita siap meninggalkan kekasih atau “pacar” jika harus meninggalkan iman kita kepada Yesus.
  
Ada beberapa refleksi yang dapat kita pelajari dari nas ini:
1.      Jangan jadi pengikut Yesus yang asal-asalan
Tuhan Yesus menggambarkan dengan “garam yang menjadi tawar”, bahwa garam mempunyai fungsi yang baik dan banyak manfaatnya, namun jika garam itu sendiri tidak mempunyai rasa asin sebagaimana hakikatnya garam, maka tidak akan ada artinya selain untuk dibuang. Jangan kita asal-asalan menjadi orang Kristen, hanya sebatas agama di KTP (kartu identitas) namun harus benar-benar menjadi orang Kristen yang setia dan taat akan Firman Tuhan. 

Buat apa kita menjadi Kristen jika hidup kita sendiri tidak mencerminkan ajaran Kristen sesungguhnya. Seorang yang menamakan dirinya Kristen seharusnya seperti garam yang mempunyai dampak yang baik bagi sekitarnya, namun apalah gunanya jika garam itu menjadi tawar?

2.      Menjadi Kristen harus benar-benar mempersiapkan diri menjadi pengikut Kristus
Jika Tuhan Yesus mengatakan untuk meninggalkan sanak saudara ataupun apa yang ada pada kita untuk mengikut Yesus bukan artinya untuk meninggalkannya dan membencinya, namun kita harus utamakan Firman Tuhan dalam hidup kita diatas segalanya dan juga memakai apa yang ada pada kita untuk Tuhan Yesus. 

Jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Tuhan Yesus akibatnya adalah kita akan terjerumus akan godaan iblis, kita ingat bagaimana Tuhan Yesus mengalahkan godaan iblis dipadang gurun di dalam Matius 4:1-11, bahwa Yesus lebih mengutamakan apa yang difirmankan oleh Allah daripada kepentingan diriNya sendiri. Misalkan kita jatuh sakit, jika kita lebih mementingkan diri kita daripada Allah, maka kita akan pergi ke dukun dengan harapan yang penting bisa sembuh, sehingga Allah telah kita sampingkan. Jika tidak sanggup untuk memikul salib, silahkan tinggalkan Yesus............. 

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Mengikut Yesus / Renungan dengan judul Bagaimana menjadi pengikut Yesus (LUKAS 14:25-33) . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2013/02/bagaimana-menjadi-pengikut-yesus.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: porisman lubis -

Belum ada komentar untuk " Bagaimana menjadi pengikut Yesus (LUKAS 14:25-33) "