Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Thursday, August 21, 2014

Markus 8:31-38 | Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus

Bacaan Firman Tuhan: Markus 8: 31-38; Matius 16: 21-28
Mesias Anak Allah harus menderita dan dibunuh?. Mungkin ini adalah reaksi dari Petrus menanggapi pernyataan Tuhan Yesus bahwa Dia akan menderita dan akan dibunuh oleh imam-imam kepala, tua-tua dan ahli-ahli taurat. Langsung Petrus menegor Yesus: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau”. Sebab sebelumnya Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16,20).

Tuhan Yesus yang keras menanggapi reaksi dari Petrus (“Enyahlah iblis...”), memperlihatkan keseriusanNya untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada Petrus dan kepada murid-murid yang lainnya bahwa keinginannya itu adalah kehendak dari iblis, sikap yang diperlihatkan Petrus itu justru adalah suatu penolakan akan penyelamatan Allah. Murid-murid Yesus masih memahami Yesus sebagai Mesias secara manusiawi yang akan melakukan penyelamatan secara politis dengan penuh kuasa belum memahami Yesus dalam konteks kehendak Allah.

Jika Yesus tadi telah menyatakan identitasNya yang sesungguhnya, maka tiba saatnya untuk menjelaskan identitas seseorang yang akan menjadi murid Tuhan Yesus. Syarat untuk mengikutiNya, adalah: Menyangkal diri, Memikul salib dan Mengikut Yesus. Syarat ini bukanlah paksaan, mau ikut atau tidak terserah kepada kita (“Setiap orang yang mau mengikut Aku...”), sehingga mengikut Yesus harus ada keiklasan yang penuh.
  1. Menyangkal diri (Penyerahan diri)
    Menjadi murid berarti mau untuk mempertaruhkan seluruh dirinya, maka harus bersedia untuk menanggalkan haknya untuk mengorbankan diri dan mempersembahkan hidup hanya untuk Yesus. Menyangkal diri adalah pengendalian diri, mau jujur menilai diri sebagai respon iman kepada Tuhan, bahwa kita dipanggil bukan untuk keinginan duniawi tetapi untuk keinginan Tuhan.
  2. Memikul salib (Setia)
    Siap menerima konsekuensi untuk kehilangan nyawa untuk mengikut Yesus. Ketika salib itu diletakkan dibahu kita untuk dipikul, apakah kita akan tetap setia menjadi murid Yesus? Seorang teolog Kristen Kosuke Koyama mengatakan “No Handle on the Cross” bahwa “Tidak ada Gagang pada Salib”, yang mau menegaskan bahwa salib harus dipikul dan tidak ada gagang pada salib untuk memudahkan. Salib adalah penderitaan yang harus ditanggung sebagaimana Kristus juga telah mengalamiNya.
    Kelihatannya memikul salib adalah beban yang begitu berat, namun sadarilah dengan memikul salib akan memampukan kita menyangkal diri dan mengikut Yesus. Dengan salib yang kita pikul, maka kita akan tetap fokus pada tujuan hidup kita.
  3. Mengikut Yesus (Taat)
    Mengikut yang dimaksud adalah tetap secara terus-menerus. Yang hidup dalam diri seorang murid hanyalah perintah Tuhan Yesus. Mau ikut Yesus berarti taat mengukuti dan melakukan perintah Tuhan Yesus.

Apakah syarat tersebut terlalu berat? Keputusan ada pada kita, mau ikut Yesus atau tidak. Namun yang pasti bahwa kita sedang diperhadapkan pada pilihan antara kehidupan dan kehilangan hidup.
Sudah menjadi hukum alam untuk "menyelamatkan nyawa", setiap orang, bahkan hewan juga memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup. Contoh kecil: seorang yang sedang dikejar oleh anjing, maka dalam situasi yang sulit itu, dia akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya, bahkan mungkin dalam situasi normal, mungkin kita tidak mampu memanjat pohon atau tembok, namun dalam situasi sulit tersebut, hal itu mungkin saja akan terjadi. Banyak cara dilakukan manusia untuk menyelamatkan nyawanya, bahkan ketika kita sakit, maka berapapun biaya akan kita keluarkan untuk dapat sembuh. Sebagai manusia yang normal kita akan berusaha untuk bertahan hidup, tetapi Tuhan Yesus mengatakan:
"Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya".

Hidup yang diberikan Tuhan adalah sesuatu yang berharga untuk kita hargai dan syukuri. Namun bagaimanapun juga hidup di dunia ada batasnya, sehingga dalam ucapan Yesus selanjutnya ditegaskan: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya". Maka esensi kehidupan tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi jauh lebih dari itu adalah bertahan untuk tetap hidup bersama Dia yang memberi kehidupan. Jika hanya sekedar menyelamatkan nyawa, maka kita sedang mengejar hidup yang akan segera binasa, kita sedang mencari dan menikmati kebahagiaan yang palsu yang dengan sekejap akan lenyap.

Apakah kita bisa menyelamatkan nyawa? Karena itulah Yesus datang membawa keselamatan bagi manusia agar memperoleh kehidupan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa kita selain dari mengikut Yesus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus melanjutkan ucapanNya “Apa yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Apapun yang boleh kita peroleh dalam dunia ini tidak akan dapat mengganti nyawa kita. Nyawa yang dimaksud Tuhan Yesus disini jauh lebih tinggi yakni sesuatu yang kekal, sehingga tidak terbatas kepada kematian saja. Maka tidak ada yang dapat menukar keselamatan hidup dengan apapun yang dapat diperoleh dari dunia ini.

Mengikut Yesus adalah anugerah Allah yang terbesar bagi manusia untuk meninggalkan kehidupan lama yang mengikat manusia mencintai hidup yang dikuasai oleh dosa dan memasuki kehidupan yang baru bersama Yesus untuk menuju pada kehidupan yang kekal. Sebab akan tiba saatnya Anak Manusia diiringi malaikat-malaikatNya untuk menjadi hakim dan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Pengakuan iman harus disertai pembaharuan hidup. Kita dapat belajar dari Petrus bahwa pengakuan iman saja jelas tidak cukup, sebab pengakuan itu sendiri harus berdampak kepada sikap, tindakan dan pandangan hidup, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Tuhan Yesus: Menyangkal diri, Memikul salib dan Mengikut Yesus.

Dalam menjalani kehidupan ini kita sedang berjalan mengikut Yesus untuk mau menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan lagi kepada keinginan duniawi, tetap setia mengikut Yesus walaupun menghadapi berbagai pergumulan dan penderitaan, tetap taat mengikuti perintah Tuhan disepanjang hidup. Maka kita sampai kepada ungkapan yang mengatakan “No Crown withuot Cross, No Gain without Pain” tidak adak ada mahkota tanpa salib dan tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Setiap orang memiliki “salib” masing-masing untuk dipikul. Dalam kehidupan kita ada banyak tantangan yang harus kita hadapi, “Apakah kita menghadapinya sesuai dengan pengakuan iman bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat?” Dalam tekanan, pergumulan, dalam suka maupun duka dalam menjalani kehidupan ini, apakah kita mau menyerahkan diri, setia dan taat kepada penggembalaan Kristus seumur hidup sampai kita diam di rumah Tuhan sepanjang masa?

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Markus 8:31-38 | Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus

Bacaan Firman Tuhan: Markus 8: 31-38; Matius 16: 21-28
Mesias Anak Allah harus menderita dan dibunuh?. Mungkin ini adalah reaksi dari Petrus menanggapi pernyataan Tuhan Yesus bahwa Dia akan menderita dan akan dibunuh oleh imam-imam kepala, tua-tua dan ahli-ahli taurat. Langsung Petrus menegor Yesus: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau”. Sebab sebelumnya Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16,20).

Tuhan Yesus yang keras menanggapi reaksi dari Petrus (“Enyahlah iblis...”), memperlihatkan keseriusanNya untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada Petrus dan kepada murid-murid yang lainnya bahwa keinginannya itu adalah kehendak dari iblis, sikap yang diperlihatkan Petrus itu justru adalah suatu penolakan akan penyelamatan Allah. Murid-murid Yesus masih memahami Yesus sebagai Mesias secara manusiawi yang akan melakukan penyelamatan secara politis dengan penuh kuasa belum memahami Yesus dalam konteks kehendak Allah.

Jika Yesus tadi telah menyatakan identitasNya yang sesungguhnya, maka tiba saatnya untuk menjelaskan identitas seseorang yang akan menjadi murid Tuhan Yesus. Syarat untuk mengikutiNya, adalah: Menyangkal diri, Memikul salib dan Mengikut Yesus. Syarat ini bukanlah paksaan, mau ikut atau tidak terserah kepada kita (“Setiap orang yang mau mengikut Aku...”), sehingga mengikut Yesus harus ada keiklasan yang penuh.
  1. Menyangkal diri (Penyerahan diri)
    Menjadi murid berarti mau untuk mempertaruhkan seluruh dirinya, maka harus bersedia untuk menanggalkan haknya untuk mengorbankan diri dan mempersembahkan hidup hanya untuk Yesus. Menyangkal diri adalah pengendalian diri, mau jujur menilai diri sebagai respon iman kepada Tuhan, bahwa kita dipanggil bukan untuk keinginan duniawi tetapi untuk keinginan Tuhan.
  2. Memikul salib (Setia)
    Siap menerima konsekuensi untuk kehilangan nyawa untuk mengikut Yesus. Ketika salib itu diletakkan dibahu kita untuk dipikul, apakah kita akan tetap setia menjadi murid Yesus? Seorang teolog Kristen Kosuke Koyama mengatakan “No Handle on the Cross” bahwa “Tidak ada Gagang pada Salib”, yang mau menegaskan bahwa salib harus dipikul dan tidak ada gagang pada salib untuk memudahkan. Salib adalah penderitaan yang harus ditanggung sebagaimana Kristus juga telah mengalamiNya.
    Kelihatannya memikul salib adalah beban yang begitu berat, namun sadarilah dengan memikul salib akan memampukan kita menyangkal diri dan mengikut Yesus. Dengan salib yang kita pikul, maka kita akan tetap fokus pada tujuan hidup kita.
  3. Mengikut Yesus (Taat)
    Mengikut yang dimaksud adalah tetap secara terus-menerus. Yang hidup dalam diri seorang murid hanyalah perintah Tuhan Yesus. Mau ikut Yesus berarti taat mengukuti dan melakukan perintah Tuhan Yesus.

Apakah syarat tersebut terlalu berat? Keputusan ada pada kita, mau ikut Yesus atau tidak. Namun yang pasti bahwa kita sedang diperhadapkan pada pilihan antara kehidupan dan kehilangan hidup.
Sudah menjadi hukum alam untuk "menyelamatkan nyawa", setiap orang, bahkan hewan juga memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup. Contoh kecil: seorang yang sedang dikejar oleh anjing, maka dalam situasi yang sulit itu, dia akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya, bahkan mungkin dalam situasi normal, mungkin kita tidak mampu memanjat pohon atau tembok, namun dalam situasi sulit tersebut, hal itu mungkin saja akan terjadi. Banyak cara dilakukan manusia untuk menyelamatkan nyawanya, bahkan ketika kita sakit, maka berapapun biaya akan kita keluarkan untuk dapat sembuh. Sebagai manusia yang normal kita akan berusaha untuk bertahan hidup, tetapi Tuhan Yesus mengatakan:
"Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya".

Hidup yang diberikan Tuhan adalah sesuatu yang berharga untuk kita hargai dan syukuri. Namun bagaimanapun juga hidup di dunia ada batasnya, sehingga dalam ucapan Yesus selanjutnya ditegaskan: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya". Maka esensi kehidupan tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi jauh lebih dari itu adalah bertahan untuk tetap hidup bersama Dia yang memberi kehidupan. Jika hanya sekedar menyelamatkan nyawa, maka kita sedang mengejar hidup yang akan segera binasa, kita sedang mencari dan menikmati kebahagiaan yang palsu yang dengan sekejap akan lenyap.

Apakah kita bisa menyelamatkan nyawa? Karena itulah Yesus datang membawa keselamatan bagi manusia agar memperoleh kehidupan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa kita selain dari mengikut Yesus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus melanjutkan ucapanNya “Apa yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Apapun yang boleh kita peroleh dalam dunia ini tidak akan dapat mengganti nyawa kita. Nyawa yang dimaksud Tuhan Yesus disini jauh lebih tinggi yakni sesuatu yang kekal, sehingga tidak terbatas kepada kematian saja. Maka tidak ada yang dapat menukar keselamatan hidup dengan apapun yang dapat diperoleh dari dunia ini.

Mengikut Yesus adalah anugerah Allah yang terbesar bagi manusia untuk meninggalkan kehidupan lama yang mengikat manusia mencintai hidup yang dikuasai oleh dosa dan memasuki kehidupan yang baru bersama Yesus untuk menuju pada kehidupan yang kekal. Sebab akan tiba saatnya Anak Manusia diiringi malaikat-malaikatNya untuk menjadi hakim dan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Pengakuan iman harus disertai pembaharuan hidup. Kita dapat belajar dari Petrus bahwa pengakuan iman saja jelas tidak cukup, sebab pengakuan itu sendiri harus berdampak kepada sikap, tindakan dan pandangan hidup, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Tuhan Yesus: Menyangkal diri, Memikul salib dan Mengikut Yesus.

Dalam menjalani kehidupan ini kita sedang berjalan mengikut Yesus untuk mau menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan lagi kepada keinginan duniawi, tetap setia mengikut Yesus walaupun menghadapi berbagai pergumulan dan penderitaan, tetap taat mengikuti perintah Tuhan disepanjang hidup. Maka kita sampai kepada ungkapan yang mengatakan “No Crown withuot Cross, No Gain without Pain” tidak adak ada mahkota tanpa salib dan tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Setiap orang memiliki “salib” masing-masing untuk dipikul. Dalam kehidupan kita ada banyak tantangan yang harus kita hadapi, “Apakah kita menghadapinya sesuai dengan pengakuan iman bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat?” Dalam tekanan, pergumulan, dalam suka maupun duka dalam menjalani kehidupan ini, apakah kita mau menyerahkan diri, setia dan taat kepada penggembalaan Kristus seumur hidup sampai kita diam di rumah Tuhan sepanjang masa?

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Khotbah Minggu / Mengikut Yesus / Pergumulan Hidup dengan judul Markus 8:31-38 | Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2014/08/matius-1621-28-menyangkal-diri-memikul.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Markus 8:31-38 | Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus "