Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Monday, September 12, 2016

Lukas 16: 1-13 | Menjadi Orang Kepercayaan Tuhan

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 16: 1-13
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”

Tuhan Yesus menyampaikan suatu perumpamaan tentunya tidaklah asal mengungkapkan tanpa ada makna dari perumpamaan yang disampaikannya. Terkhusus perumpamaan yang ada dalam nas ini tentang “Bendahara yang tidak jujur”. Ada banyak yang bingung dan sulit memahami perumpamaan ini, sebab dalam perumpamaan ini bendahara yang tidak jujur itu akhirnya mendapatkan pujian. Seakan ada pengajaran untuk “mendukung” ataupun “membenarkan” kejahatan.

Walaupun perumpamaan ini berkisah tetang perilaku orang yang jahat, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Yaitu hal apa yang harus kita hindari, dan hal apa yang bisa kita pelajari

1.      Cerdik tetapi bodoh (Dihindari)
Menjadi bendahara seorang yang memiliki banyak harta tentunya menjadi suatu kehormatan tersendiri, sebab pada bendahara tersebut dipercayakan harta kepemilikan dan keuntungan segala usaha yang dimiliki orang kaya tersebut. Bahkan dalam perumpaan yang singkat itu, kita dapat melihat bagaimana bendahara itu memiliki “kuasa” dalam mengatur harta kepemilikan orang kaya itu.
Tetapi kepercayaan yang diberikan kepada bendahara itu ternodai oleh ketidakjujuran. Ternyata bendahara itu telah menyalahgunakan kepercayaan tuannya. Maka orang kaya tersebut meminta pertanggungjawaban atas segala kepemilikan yang dipercayakan kepada bendahara itu.

Layaknya bendahara tadi yang diberi kepercayaan untuk mengurus harta kepemilikan tuannya, demikian juga dengan kita. Bahwa Tuhan mempercayakan anugerah dan berkat-Nya bagi kita. Apakah itu hidup kita, anak, keluarga, harta bahkan Firman-Nya juga dipercayakan bagi kita untuk kita jaga dalam kehidupan kita ini.

Bagaimana kita memegang kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita suatu saat akan dipertanyakan oleh Tuhan “berilah pertanggunggan jawab atas urusanmu?” sebab akan tiba saat dimana kita akan berdiri di hadapan penghakiman Tuhan mempertanggungjawabkan atas apapun yang kita perbuat selama hidup.

Pada kita diperlihatkan bagaimana hidup seorang yang cerdik tetapi bodoh, yaitu seorang yang membangun masa depan dengan kebodohan (mendirikan rumah di atas pasir). “mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu” artinya pemalas dan tinggi hati. Ia membangun masa depannya dengan memanfaatkan orang lain. Seandainya dia mengakui kesalahannya kepada tuannya mungkin saja dimaafkan. Artinya adalah kebodohan membangun kehidupan di atas dosa, tetapi alangkah bijaknya orang yang hidup di atas pertobatan – di atas kasih karunia Tuhan.

2.     Bodoh tetapi cerdik (Di pelajari)
Ternyata di balik kebodohannya terdapat juga kecerdikan yang bisa kita pelajari. Walaupun fakta bahwa yang dilakukan bendahara itu membangun hidup dalam dosa, tetapi yang mau kita pelajari adalah kesigapannya “sedia payung sebelum hujan”. Dia jauh menatap ke depan untuk keselamatan hidupnya. Bendahara itu memanfaatkan waktu yang sempit dan genting itu dengan tidak mengsia-siakannya.

Sebagaimana yang dituliskan oleh Paulus “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5: 15). Jika kita pernah mempelajari berapa tahun umur dari bumi ini, manusia lahir dan mati. Maka dapat dikatakan bahwa sungguh singkat umur manusia jika kita membandigkan usia bumi yang ditempati oleh manusia.

Hidup manusia di dunia ini pada dasarnya adalah singkat. Namun sebagaimana pengetahuan kita akan iman di dalam Yesus Kristus bahwa Tuhan telah menyediakan kehidupan yang kekal. Kesitulah tujuan akhir kehidupan kita, bukan di dunia ini. Maka kita bisa belajar dari bendahara tadi yang menatap jauh ke depan dan mempergunakan waktu yang ada sebelum ia di pecat oleh tuannya.
Maka bagaimana kita memanfaatkan segala anugerah dan berkat Tuhan dalam kehidupan kita di dunia ini untuk memperoleh kehidupan kekal. Pada dasarnya apapun yang kita pegang dan miliki di dunia ini akhirnya akan kita tinggalkan, ‘tak satupun dapat kita bawa. Akan tetapi, kepemilikan kita yang ada di dunia ini sebagai anugerah Tuhan dapat kita pakai untuk memperoleh harta yang abadi. 

Kita tidak bisa memiliki harta yang abadi itu dengan uang yang banyak, tetapi harta yang banyak itu dapat kita pakai untuk memperoleh harta yang kekal jika itu kita perbuat dengan keyakinan iman. Maka maksudnya bukanlah masalah banyak atau sedikit yang kita miliki di dunia ini untuk memperoleh harta yang abadi, tetapi bagaimana kita memanfaatkan apa yang Tuhan percayakan dalam hidup ini kita dengan sebaiknya. Tidak mengsia-siakan hidup dan anugerah yang Tuhan berikan pada kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi” (Lukas 16: 9).

Nas khotbah ini sesungguhnya memiliki makna yang tidak jauh beda dengan apa yang tertulis dalam 1 Timoteus 1: 12-17, yang mana disitu Paulus mengatakan “karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”. Artinya, bahwa Tuhan mempercayakan kebaikanNya – kasihNya kepada Paulus dan itu adalah anugerah. Setiap apapun yang ada pada kita dalam dunia ini adalah anugerah Tuhan, bahwa Tuhan menganggap kita dapat dipercaya.

Sama halnya seperti bendahara tadi yang dianggap dapat dipercaya oleh tuannya untuk memegang harta tuannya. Bahwa apapun yang ada pada kita saat ini semuanya berasal dari Tuhan, yang dipercayakan pada kita untuk kita pegang dan pelihara dan pakai dengan sebaiknya.

Maka bagaimana kita untuk dapat memahami bahwa apapun yang ada pada kita semua adalah anugerah Tuhan dan dengan tetap memegang teguh kepercayaan yang diberikan Tuhan pada kita. Jika “titipan” harta duniawi yang akan lenyap saja kita sudah tidak bisa lagi dipercaya bagaimana mungkin kita di percaya untuk menerima harta yang sesungguhnya? (ay. 11).

Itulah sebabnya dikatakan Tuhan Yesus “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Jika kita dapat dipercaya dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik, maka Tuhan juga akan mempercayakan pada kita kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal bersama Allah. Maka jadilah menjadi seorang Ayah, Ibu, Anak yang dapat dipercaya; jadilah gembala yang dapat dipercaya; jadilah menjadi pegawai atau karyawan yang dapat dipercaya; jadilah pedagang yang dapat dipercaya; jadilah bendahara yang dapat dipercaya; jadilah orang kepercayaan Tuhan.

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
(Matius 6: 19-20)

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Lukas 16: 1-13 | Menjadi Orang Kepercayaan Tuhan

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 16: 1-13
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”

Tuhan Yesus menyampaikan suatu perumpamaan tentunya tidaklah asal mengungkapkan tanpa ada makna dari perumpamaan yang disampaikannya. Terkhusus perumpamaan yang ada dalam nas ini tentang “Bendahara yang tidak jujur”. Ada banyak yang bingung dan sulit memahami perumpamaan ini, sebab dalam perumpamaan ini bendahara yang tidak jujur itu akhirnya mendapatkan pujian. Seakan ada pengajaran untuk “mendukung” ataupun “membenarkan” kejahatan.

Walaupun perumpamaan ini berkisah tetang perilaku orang yang jahat, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Yaitu hal apa yang harus kita hindari, dan hal apa yang bisa kita pelajari

1.      Cerdik tetapi bodoh (Dihindari)
Menjadi bendahara seorang yang memiliki banyak harta tentunya menjadi suatu kehormatan tersendiri, sebab pada bendahara tersebut dipercayakan harta kepemilikan dan keuntungan segala usaha yang dimiliki orang kaya tersebut. Bahkan dalam perumpaan yang singkat itu, kita dapat melihat bagaimana bendahara itu memiliki “kuasa” dalam mengatur harta kepemilikan orang kaya itu.
Tetapi kepercayaan yang diberikan kepada bendahara itu ternodai oleh ketidakjujuran. Ternyata bendahara itu telah menyalahgunakan kepercayaan tuannya. Maka orang kaya tersebut meminta pertanggungjawaban atas segala kepemilikan yang dipercayakan kepada bendahara itu.

Layaknya bendahara tadi yang diberi kepercayaan untuk mengurus harta kepemilikan tuannya, demikian juga dengan kita. Bahwa Tuhan mempercayakan anugerah dan berkat-Nya bagi kita. Apakah itu hidup kita, anak, keluarga, harta bahkan Firman-Nya juga dipercayakan bagi kita untuk kita jaga dalam kehidupan kita ini.

Bagaimana kita memegang kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita suatu saat akan dipertanyakan oleh Tuhan “berilah pertanggunggan jawab atas urusanmu?” sebab akan tiba saat dimana kita akan berdiri di hadapan penghakiman Tuhan mempertanggungjawabkan atas apapun yang kita perbuat selama hidup.

Pada kita diperlihatkan bagaimana hidup seorang yang cerdik tetapi bodoh, yaitu seorang yang membangun masa depan dengan kebodohan (mendirikan rumah di atas pasir). “mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu” artinya pemalas dan tinggi hati. Ia membangun masa depannya dengan memanfaatkan orang lain. Seandainya dia mengakui kesalahannya kepada tuannya mungkin saja dimaafkan. Artinya adalah kebodohan membangun kehidupan di atas dosa, tetapi alangkah bijaknya orang yang hidup di atas pertobatan – di atas kasih karunia Tuhan.

2.     Bodoh tetapi cerdik (Di pelajari)
Ternyata di balik kebodohannya terdapat juga kecerdikan yang bisa kita pelajari. Walaupun fakta bahwa yang dilakukan bendahara itu membangun hidup dalam dosa, tetapi yang mau kita pelajari adalah kesigapannya “sedia payung sebelum hujan”. Dia jauh menatap ke depan untuk keselamatan hidupnya. Bendahara itu memanfaatkan waktu yang sempit dan genting itu dengan tidak mengsia-siakannya.

Sebagaimana yang dituliskan oleh Paulus “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5: 15). Jika kita pernah mempelajari berapa tahun umur dari bumi ini, manusia lahir dan mati. Maka dapat dikatakan bahwa sungguh singkat umur manusia jika kita membandigkan usia bumi yang ditempati oleh manusia.

Hidup manusia di dunia ini pada dasarnya adalah singkat. Namun sebagaimana pengetahuan kita akan iman di dalam Yesus Kristus bahwa Tuhan telah menyediakan kehidupan yang kekal. Kesitulah tujuan akhir kehidupan kita, bukan di dunia ini. Maka kita bisa belajar dari bendahara tadi yang menatap jauh ke depan dan mempergunakan waktu yang ada sebelum ia di pecat oleh tuannya.
Maka bagaimana kita memanfaatkan segala anugerah dan berkat Tuhan dalam kehidupan kita di dunia ini untuk memperoleh kehidupan kekal. Pada dasarnya apapun yang kita pegang dan miliki di dunia ini akhirnya akan kita tinggalkan, ‘tak satupun dapat kita bawa. Akan tetapi, kepemilikan kita yang ada di dunia ini sebagai anugerah Tuhan dapat kita pakai untuk memperoleh harta yang abadi. 

Kita tidak bisa memiliki harta yang abadi itu dengan uang yang banyak, tetapi harta yang banyak itu dapat kita pakai untuk memperoleh harta yang kekal jika itu kita perbuat dengan keyakinan iman. Maka maksudnya bukanlah masalah banyak atau sedikit yang kita miliki di dunia ini untuk memperoleh harta yang abadi, tetapi bagaimana kita memanfaatkan apa yang Tuhan percayakan dalam hidup ini kita dengan sebaiknya. Tidak mengsia-siakan hidup dan anugerah yang Tuhan berikan pada kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi” (Lukas 16: 9).

Nas khotbah ini sesungguhnya memiliki makna yang tidak jauh beda dengan apa yang tertulis dalam 1 Timoteus 1: 12-17, yang mana disitu Paulus mengatakan “karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”. Artinya, bahwa Tuhan mempercayakan kebaikanNya – kasihNya kepada Paulus dan itu adalah anugerah. Setiap apapun yang ada pada kita dalam dunia ini adalah anugerah Tuhan, bahwa Tuhan menganggap kita dapat dipercaya.

Sama halnya seperti bendahara tadi yang dianggap dapat dipercaya oleh tuannya untuk memegang harta tuannya. Bahwa apapun yang ada pada kita saat ini semuanya berasal dari Tuhan, yang dipercayakan pada kita untuk kita pegang dan pelihara dan pakai dengan sebaiknya.

Maka bagaimana kita untuk dapat memahami bahwa apapun yang ada pada kita semua adalah anugerah Tuhan dan dengan tetap memegang teguh kepercayaan yang diberikan Tuhan pada kita. Jika “titipan” harta duniawi yang akan lenyap saja kita sudah tidak bisa lagi dipercaya bagaimana mungkin kita di percaya untuk menerima harta yang sesungguhnya? (ay. 11).

Itulah sebabnya dikatakan Tuhan Yesus “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Jika kita dapat dipercaya dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik, maka Tuhan juga akan mempercayakan pada kita kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal bersama Allah. Maka jadilah menjadi seorang Ayah, Ibu, Anak yang dapat dipercaya; jadilah gembala yang dapat dipercaya; jadilah menjadi pegawai atau karyawan yang dapat dipercaya; jadilah pedagang yang dapat dipercaya; jadilah bendahara yang dapat dipercaya; jadilah orang kepercayaan Tuhan.

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
(Matius 6: 19-20)

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Epistel / Perumpamaan Tuhan Yesus dengan judul Lukas 16: 1-13 | Menjadi Orang Kepercayaan Tuhan . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2016/09/lukas-16-1-13-menjadi-orang-kepercayaan.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Lukas 16: 1-13 | Menjadi Orang Kepercayaan Tuhan "