Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Saturday, October 11, 2014

Matius 22: 15-22 | Sudahkah Yang Patut Kita Berikan Kepada Allah?



Bacaan Firman Tuhan Matius 22:15-22; Yesaya 45:1-7
Orang farisi melihat bahwa Yesus telah menjadi suatu masalah yang dapat mengganggu posisi mereka sebagai pemimpin umat. Maka segala cara mereka lakukan agar dapat menyingkirkan Yesus. Maka orang-orang Farisi mengajak orang Herodian (pendukung Herodes) untuk mengajukan suatu pertanyaan, dengan harapan bahwa pertanyaan tersebut dapat menjatuhkan Yesus, yakni “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Pertanyaan ini merupakan isu yang sangat penting bagi orang Yahudi yang sedang dijajah oleh bangsa Romawi.
Bagi orang Yahudi menjadi suatu keterpaksaan untuk memberikan pajak kepada Kaisar, sebab ada ketegangan antara dasar-dasar keagamaan dengan kewajiban mereka sebagai orang jajahan. Bahwa harta milik orang Israel adalah milik Allah, sehingga dengan membayar pajak berarti memberikan milik Allah kepada penjajah.

Melalui pertanyaan tersebut, mereka berharap bahwa Yesus akan terjebak. Bilamana Yesus mengatakan untuk tidak membayar pajak, maka Yesus akan dituduhkan menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan kepada penjajah Romawi, dan bilamana Yesus mengatakan harus membayar pajak, maka Yesus akan dianggap tidak memiliki keberpihakan kepada bangsaNya.

Yesus mengetahui kejahatan hati mereka untuk mencobaiNya. Namun jawaban Yesus membuat mereka heran dan pergi meninggalkan Yesus. Dengan memperlihatkan uang koin yang digunakan untuk membayar pajak yang bertuliskan nama dan gambar kaisar, Yesus mengatakan "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
 
Disini Yesus telah membuat perbedaan untuk meluruskan pemahaman tentang ketaatan, bahwa kita tidak bisa samakan ketaatan kepada kaisar dengan ketaatan kepada Tuhan, sebab segala sesuatunya berada di bawah kuasa Allah yang dapat membinasakan tubuh maupun jiwa (Mat. 10:28; Kis.5:29; Mazmur 24). 

Tuhan Yesus tidak memberikan suatu pertentangan tetapi memberikan perbedaan. Dalam hal membayar pajak, maka ada batasan ketaatan yang diperlihatkan, yakni sekeping uang koin sudah cukup. Namun apakah ketaatan kepada Tuhan dapat dibatasi oleh sekeping uang koin? Untuk taat kepada Tuhan tidak dapat dibatasi dengan apapun juga yang ada di dunia, seperti yang Tuhan Yesus katakan “KerajaanKu bukan dari dunia ini” (Yoh. 18:36). Yang mau disampaikan Yesus bahwa kaisar memiliki batasan kuasa, namun kuasa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh apapun yang ada.

Ketaatan kepada pemerintah justru adalah karena ketaatan kepada Tuhan. Maka ketika suatu pemerintahan tidak berjalan dengan prinsip keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus, otomatis akan ada suatu pertentangan. Jika negara melakukan larangan terhadap perintah Allah, maka negara telah menjadi penentang Allah. Pengakuan dan ketaatan kita kepada pemerintah adalah wujud iman kita kepada Tuhan, bahwa negara tempat kita hidup ini adalah rahmat Allah untuk menyatakan keselamatanNya. Kita mentaati negara sebab negara atau pemerintah adalah perpanjangan tangan Tuhan bagi keselamatanNya. Maka ketaatan dan keberadaan kita adalah sebagai warga negara yang tunduk dan yang melakukan rencana keselamatan Allah bagi dunia ini. 

Tetapi bagaimana kepada Tuhan? Apa yang dari Tuhan dan apa yang diberikan kepada Tuhan? Sudahkah yang patut kita berikan kepada Tuhan? Dalam kehidupan ini kita mungkin memiliki batas-batas tertentu untuk suatu kewajiban, tetapi kepada Tuhan kita tidak dapat membatasi kewajiban dan tanggungjawab. Sebab kehidupan beserta segala sesuatu yang ada dalam hidup ini adalah berasal dari Tuhan, maka kita juga harus memberikannya kepada Tuhan. 

Sehingga apa yang layak kita berikan kepada Tuhan adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita ini untuk taat kepada Tuhan saja. Baik itu waktu, pekerjaan, keluarga, harta milik, semuanya tanpa terkecuali dalam hidup ini diberikan kepada Tuhan hanya untuk kemuliaan namaNya saja. 

Jika Tuhan yang memberikan kehidupan bagi kita, maka kita menyerahkan semua dalam kedaulatan Tuhan. Bukan seenak atau sesuka kita memakai dan menikmati kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Rasul Paulus menuliskan “Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13). Apapun yang boleh kita perbuat dan lakukan dalam hidup ini harus diawali dan dimulai untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan menjadi sebaliknya seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Perintah Tuhan kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (Mrk. 7:8).







No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Matius 22: 15-22 | Sudahkah Yang Patut Kita Berikan Kepada Allah?



Bacaan Firman Tuhan Matius 22:15-22; Yesaya 45:1-7
Orang farisi melihat bahwa Yesus telah menjadi suatu masalah yang dapat mengganggu posisi mereka sebagai pemimpin umat. Maka segala cara mereka lakukan agar dapat menyingkirkan Yesus. Maka orang-orang Farisi mengajak orang Herodian (pendukung Herodes) untuk mengajukan suatu pertanyaan, dengan harapan bahwa pertanyaan tersebut dapat menjatuhkan Yesus, yakni “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Pertanyaan ini merupakan isu yang sangat penting bagi orang Yahudi yang sedang dijajah oleh bangsa Romawi.
Bagi orang Yahudi menjadi suatu keterpaksaan untuk memberikan pajak kepada Kaisar, sebab ada ketegangan antara dasar-dasar keagamaan dengan kewajiban mereka sebagai orang jajahan. Bahwa harta milik orang Israel adalah milik Allah, sehingga dengan membayar pajak berarti memberikan milik Allah kepada penjajah.

Melalui pertanyaan tersebut, mereka berharap bahwa Yesus akan terjebak. Bilamana Yesus mengatakan untuk tidak membayar pajak, maka Yesus akan dituduhkan menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan kepada penjajah Romawi, dan bilamana Yesus mengatakan harus membayar pajak, maka Yesus akan dianggap tidak memiliki keberpihakan kepada bangsaNya.

Yesus mengetahui kejahatan hati mereka untuk mencobaiNya. Namun jawaban Yesus membuat mereka heran dan pergi meninggalkan Yesus. Dengan memperlihatkan uang koin yang digunakan untuk membayar pajak yang bertuliskan nama dan gambar kaisar, Yesus mengatakan "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
 
Disini Yesus telah membuat perbedaan untuk meluruskan pemahaman tentang ketaatan, bahwa kita tidak bisa samakan ketaatan kepada kaisar dengan ketaatan kepada Tuhan, sebab segala sesuatunya berada di bawah kuasa Allah yang dapat membinasakan tubuh maupun jiwa (Mat. 10:28; Kis.5:29; Mazmur 24). 

Tuhan Yesus tidak memberikan suatu pertentangan tetapi memberikan perbedaan. Dalam hal membayar pajak, maka ada batasan ketaatan yang diperlihatkan, yakni sekeping uang koin sudah cukup. Namun apakah ketaatan kepada Tuhan dapat dibatasi oleh sekeping uang koin? Untuk taat kepada Tuhan tidak dapat dibatasi dengan apapun juga yang ada di dunia, seperti yang Tuhan Yesus katakan “KerajaanKu bukan dari dunia ini” (Yoh. 18:36). Yang mau disampaikan Yesus bahwa kaisar memiliki batasan kuasa, namun kuasa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh apapun yang ada.

Ketaatan kepada pemerintah justru adalah karena ketaatan kepada Tuhan. Maka ketika suatu pemerintahan tidak berjalan dengan prinsip keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus, otomatis akan ada suatu pertentangan. Jika negara melakukan larangan terhadap perintah Allah, maka negara telah menjadi penentang Allah. Pengakuan dan ketaatan kita kepada pemerintah adalah wujud iman kita kepada Tuhan, bahwa negara tempat kita hidup ini adalah rahmat Allah untuk menyatakan keselamatanNya. Kita mentaati negara sebab negara atau pemerintah adalah perpanjangan tangan Tuhan bagi keselamatanNya. Maka ketaatan dan keberadaan kita adalah sebagai warga negara yang tunduk dan yang melakukan rencana keselamatan Allah bagi dunia ini. 

Tetapi bagaimana kepada Tuhan? Apa yang dari Tuhan dan apa yang diberikan kepada Tuhan? Sudahkah yang patut kita berikan kepada Tuhan? Dalam kehidupan ini kita mungkin memiliki batas-batas tertentu untuk suatu kewajiban, tetapi kepada Tuhan kita tidak dapat membatasi kewajiban dan tanggungjawab. Sebab kehidupan beserta segala sesuatu yang ada dalam hidup ini adalah berasal dari Tuhan, maka kita juga harus memberikannya kepada Tuhan. 

Sehingga apa yang layak kita berikan kepada Tuhan adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita ini untuk taat kepada Tuhan saja. Baik itu waktu, pekerjaan, keluarga, harta milik, semuanya tanpa terkecuali dalam hidup ini diberikan kepada Tuhan hanya untuk kemuliaan namaNya saja. 

Jika Tuhan yang memberikan kehidupan bagi kita, maka kita menyerahkan semua dalam kedaulatan Tuhan. Bukan seenak atau sesuka kita memakai dan menikmati kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Rasul Paulus menuliskan “Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13). Apapun yang boleh kita perbuat dan lakukan dalam hidup ini harus diawali dan dimulai untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan menjadi sebaliknya seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “Perintah Tuhan kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (Mrk. 7:8).







Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Khotbah Minggu / Renungan dengan judul Matius 22: 15-22 | Sudahkah Yang Patut Kita Berikan Kepada Allah? . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2014/10/matius-22-15-22-sudahkah-yang-patut.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Matius 22: 15-22 | Sudahkah Yang Patut Kita Berikan Kepada Allah? "