Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Wednesday, September 25, 2013

Kasih Allah, Mengasihi Sesama (Matius 25: 34-40)

Renungan kita kali ini merupakan bagian dari pemberitaan Tuhan Yesus mengenai akhir zaman (pasal 24-25). Sebelumnya Tuhan Yesus telah mengingatkan agar senantiasa waspada sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak di duga. Baik melalui perumpamaan maupun nasehat dan kewaspadaan akan mesias-mesias palsu yang menyesatkan. 

Dalam renungan kita saat ini mengarahkan pandangan kita ketika Anak Manusia itu datang dalam kemulianNya untuk melaksanakan penghakiman terakhir, semua bangsa akan dikumpulkan dan akan dilakukan pemisahan kesebelah kiri dan kananNya. Ada beberapa hal
yang boleh kita ambil makna dari pemberitaan Tuhan Yesus ini untuk kita renungkan bersama:
  1. “Terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (ay. 34). Kerajaan Allah dan hidup yang kekal itu adalah bahagian rencana penciptaan Allah sejak awal. Sehingga hal bukanlah sesuatu rencana Allah yang baru, namun Tuhan Yesus memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia untuk memasuki rencana Allah yang kekal itu. Siapapun tidak akan dapat lagi memasukinya jika hanya dengan usahanya sendiri tetapi besar kasih Allah kepada manusia agar dapat memasuki  puncak rencana Allah yang kekal dan indah itu.
     2. “Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya” (ay. 33). Pada nats ini dapat kitaa baca bahwa ternyata domba-domba itu dimasukkan dalam kerajaanNya sementara kambing-kambing ditempatkan di siksaan yang kekal. Mengapa Tuhan Yesus menggambarkan pemisahan yang dilakukanNya dalam penghakimanNya dengan “domba” dan “kambing”? secara ilmiah dapat dilihat bahwa secara umum perbedaan kedua binatang ini dapat kita lihat dari perilaku hidupnya. Kambing adalah binatang yang individualis yang pergi mencari makan sendiri-sendiri, sementara domba adalah binatang yang memiliki insting yang besar untuk hidup bergerombol bersama kawanannya, sehingga domba akan gelisah jika hidup sendiri. Dalam konteks nats ini yang mana Tuhan Yesus menekankan solidaritas umat yang percaya terhadap sesamanya. Hal ini cocok dengan domba yang memang dalam mempertahankan hidup cenderung untuk bersama. Walaupun domba adalah binatang yang penakut jika dibandingkan dengan kambing jika hidup sendiri, namun Tuhan Yesus menggunakan gambaran domba kepada orang-orang yang berkenan di hadapanNya karena domba memiliki insting hidup bergerombol dalam mempertahankan hidupnya, sehingga tidak ada yang berkekurangan sebab mereka semua adalah satu dalam suatu kawanan domba.

3. Mari kita bandingkan jawaban dari orang yang ditempatkan di sebelah kananNya dan yang di sebelah kiriNya:
                                            Disebelah kananNya (ay.37)
“Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?”
                                                         Disebelah kiriNya (ay.44)
“Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?”
Dengan membaca dua bahagian dari nats ini mungkin kita sudah mengetahui perbedaan sikap kedua kelompok orang tersebut. Bahwa sesungguhnya iman yang murni kepada Allah akan melakukan kasih dalam kehidupannya tanpa dia harus menghitung atau memperhatikan kepada siapa dia berbuat kasih. Kasih itu keluar dari iman yang murni mengalir secara alami. Sementara yang disebelah kiriNya dapat kita lihat bahwa orang tersebut memperlihatkan kesombongannya dan tidak berterima akan keputusan Raja yang menghakimi yang mau menyatakan bahwa dia telah banyak berbuat kepada Allah. Maka tepatlah jika dinyatakkan “Imanmulah yang menyelamatkanmu”. 

4.“Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu”. Pertanyaannya: “siapa yang diberkati oleh Bapa yang disorga?” Bukankah saya merasakan nafas kehidupan, memiliki rumah, pekerjaan, anak, harta, memiliki kendaraan roda dua, roda empat dan lain sebagainya adalah berkat Tuhan? Ternyata ada berkat yang lebih indah dan lebih besar dari segala berkat yang masih boleh kita rasakan saat ini yaitu berkat yang kekal yang akan kita rasakan sampai selama-lamanya. Dan lebih sangat disayangkan jika ternyata berkat yang diberikan oleh Allah kepada kita saat ini tidak dapat kita pergunakan dengan baik untuk mendapatkan berkat yang kekal itu. Maka dapatlah kita renungkan siapakah sebenarnya yang diberkati oleh Tuhan? Hal ini dapat kita bandingan pada ayat-ayat sebelumnya mengenai perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.
 
Dalam Lukas 4: 21 Tuhan Yesus menyatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” yaitu untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada yang tertawan, penglihatan kepada yang buta, membebaskan yang tertindas. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kasihNya yang besar bagi kita semua. ini adalah berita keselamatan yang akan diberitakan dan dilakukan oleh orang-orang percaya, sebab kita adalah saksi keselamatan yang telah di bawa oleh Tuhan Yesus. Belas kasih Allah kepada kita yang hina karena dosa telah diperlihatkanNya dan Ia menghendaki kita juga yang telah dilepaskanNya dari keadaan yang hina dapat memperlihatkan belas kasih kepada orang yang hina yang ada disekitar kita sebagai bukti penyelamatan Allah atas hidup kita dari kehidupan yang hina, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. 
Kasih sesungguhnya bukanlah sikap yang harus atau tidak untuk dilakukan, namun hakikatnya kasih adalah perilaku dasar atau naluri alamiah dari iman. Sehingga orang yang memiliki iman kepada Allah yang adalah kasih tidak akan melihat siapa yang di kasihinya ataupun menghitung-hitung kasih yang dilakukannya, namun kasih itu adalah watak, perilaku dasar ataupun insting untuk dilakukan dalam kehidupannya. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kepada kita bagaimana penghakiman yang akan dilakukanNya, bahwa pemisahan yang akan dilakukanNya tidak jauh dari penilaian akan iman yang berbuahkan kasih, sebab itulah perilaku asar dari orang-orang percaya. Walaupun kambing dan domba memiliki banyak persamaan, namun tetaplah perilaku hidup mereka berbeda.
Melakukan belas kasih kepada sesame terlebih kepada orang yang hina bukanlah masalah ada atau tidaknya sesuatu padanya untuk di beri, namun lebih kepada niat dan keinginan untuk bertindak dan melakukan kasih. Sebab ada yang kaya mau berbagi namun ada juga yang tidak demikian juga halnya orang yang berkekurangan bahwa ada orang dalam keterbatasannya namun kasihnya tidak terbatas kepada oang lain. Sekali lagi kita dapat membandingkannya dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.

Renungan kita kali ini merupakan bagian dari pemberitaan Tuhan Yesus mengenai akhir zaman (pasal 24-25). Sebelumnya Tuhan Yesus telah mengingatkan agar senantiasa waspada sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak di duga. Baik melalui perumpamaan maupun nasehat dan kewaspadaan akan mesias-mesias palsu yang menyesatkan. 

Dalam renungan kita saat ini mengarahkan pandangan kita ketika Anak Manusia itu datang dalam kemulianNya untuk melaksanakan penghakiman terakhir, semua bangsa akan dikumpulkan dan akan dilakukan pemisahan kesebelah kiri dan kananNya. Ada beberapa hal
yang boleh kita ambil makna dari pemberitaan Tuhan Yesus ini untuk kita renungkan bersama:
  1. “Terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (ay. 34). Kerajaan Allah dan hidup yang kekal itu adalah bahagian rencana penciptaan Allah sejak awal. Sehingga hal bukanlah sesuatu rencana Allah yang baru, namun Tuhan Yesus memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia untuk memasuki rencana Allah yang kekal itu. Siapapun tidak akan dapat lagi memasukinya jika hanya dengan usahanya sendiri tetapi besar kasih Allah kepada manusia agar dapat memasuki  puncak rencana Allah yang kekal dan indah itu.
     2. “Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya” (ay. 33). Pada nats ini dapat kitaa baca bahwa ternyata domba-domba itu dimasukkan dalam kerajaanNya sementara kambing-kambing ditempatkan di siksaan yang kekal. Mengapa Tuhan Yesus menggambarkan pemisahan yang dilakukanNya dalam penghakimanNya dengan “domba” dan “kambing”? secara ilmiah dapat dilihat bahwa secara umum perbedaan kedua binatang ini dapat kita lihat dari perilaku hidupnya. Kambing adalah binatang yang individualis yang pergi mencari makan sendiri-sendiri, sementara domba adalah binatang yang memiliki insting yang besar untuk hidup bergerombol bersama kawanannya, sehingga domba akan gelisah jika hidup sendiri. Dalam konteks nats ini yang mana Tuhan Yesus menekankan solidaritas umat yang percaya terhadap sesamanya. Hal ini cocok dengan domba yang memang dalam mempertahankan hidup cenderung untuk bersama. Walaupun domba adalah binatang yang penakut jika dibandingkan dengan kambing jika hidup sendiri, namun Tuhan Yesus menggunakan gambaran domba kepada orang-orang yang berkenan di hadapanNya karena domba memiliki insting hidup bergerombol dalam mempertahankan hidupnya, sehingga tidak ada yang berkekurangan sebab mereka semua adalah satu dalam suatu kawanan domba.

3. Mari kita bandingkan jawaban dari orang yang ditempatkan di sebelah kananNya dan yang di sebelah kiriNya:
                                            Disebelah kananNya (ay.37)
“Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?”
                                                         Disebelah kiriNya (ay.44)
“Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?”
Dengan membaca dua bahagian dari nats ini mungkin kita sudah mengetahui perbedaan sikap kedua kelompok orang tersebut. Bahwa sesungguhnya iman yang murni kepada Allah akan melakukan kasih dalam kehidupannya tanpa dia harus menghitung atau memperhatikan kepada siapa dia berbuat kasih. Kasih itu keluar dari iman yang murni mengalir secara alami. Sementara yang disebelah kiriNya dapat kita lihat bahwa orang tersebut memperlihatkan kesombongannya dan tidak berterima akan keputusan Raja yang menghakimi yang mau menyatakan bahwa dia telah banyak berbuat kepada Allah. Maka tepatlah jika dinyatakkan “Imanmulah yang menyelamatkanmu”. 

4.“Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu”. Pertanyaannya: “siapa yang diberkati oleh Bapa yang disorga?” Bukankah saya merasakan nafas kehidupan, memiliki rumah, pekerjaan, anak, harta, memiliki kendaraan roda dua, roda empat dan lain sebagainya adalah berkat Tuhan? Ternyata ada berkat yang lebih indah dan lebih besar dari segala berkat yang masih boleh kita rasakan saat ini yaitu berkat yang kekal yang akan kita rasakan sampai selama-lamanya. Dan lebih sangat disayangkan jika ternyata berkat yang diberikan oleh Allah kepada kita saat ini tidak dapat kita pergunakan dengan baik untuk mendapatkan berkat yang kekal itu. Maka dapatlah kita renungkan siapakah sebenarnya yang diberkati oleh Tuhan? Hal ini dapat kita bandingan pada ayat-ayat sebelumnya mengenai perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.
 
Dalam Lukas 4: 21 Tuhan Yesus menyatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” yaitu untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada yang tertawan, penglihatan kepada yang buta, membebaskan yang tertindas. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kasihNya yang besar bagi kita semua. ini adalah berita keselamatan yang akan diberitakan dan dilakukan oleh orang-orang percaya, sebab kita adalah saksi keselamatan yang telah di bawa oleh Tuhan Yesus. Belas kasih Allah kepada kita yang hina karena dosa telah diperlihatkanNya dan Ia menghendaki kita juga yang telah dilepaskanNya dari keadaan yang hina dapat memperlihatkan belas kasih kepada orang yang hina yang ada disekitar kita sebagai bukti penyelamatan Allah atas hidup kita dari kehidupan yang hina, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. 
Kasih sesungguhnya bukanlah sikap yang harus atau tidak untuk dilakukan, namun hakikatnya kasih adalah perilaku dasar atau naluri alamiah dari iman. Sehingga orang yang memiliki iman kepada Allah yang adalah kasih tidak akan melihat siapa yang di kasihinya ataupun menghitung-hitung kasih yang dilakukannya, namun kasih itu adalah watak, perilaku dasar ataupun insting untuk dilakukan dalam kehidupannya. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kepada kita bagaimana penghakiman yang akan dilakukanNya, bahwa pemisahan yang akan dilakukanNya tidak jauh dari penilaian akan iman yang berbuahkan kasih, sebab itulah perilaku asar dari orang-orang percaya. Walaupun kambing dan domba memiliki banyak persamaan, namun tetaplah perilaku hidup mereka berbeda.
Melakukan belas kasih kepada sesame terlebih kepada orang yang hina bukanlah masalah ada atau tidaknya sesuatu padanya untuk di beri, namun lebih kepada niat dan keinginan untuk bertindak dan melakukan kasih. Sebab ada yang kaya mau berbagi namun ada juga yang tidak demikian juga halnya orang yang berkekurangan bahwa ada orang dalam keterbatasannya namun kasihnya tidak terbatas kepada oang lain. Sekali lagi kita dapat membandingkannya dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Kasih Allah, Mengasihi Sesama (Matius 25: 34-40)

Renungan kita kali ini merupakan bagian dari pemberitaan Tuhan Yesus mengenai akhir zaman (pasal 24-25). Sebelumnya Tuhan Yesus telah mengingatkan agar senantiasa waspada sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak di duga. Baik melalui perumpamaan maupun nasehat dan kewaspadaan akan mesias-mesias palsu yang menyesatkan. 

Dalam renungan kita saat ini mengarahkan pandangan kita ketika Anak Manusia itu datang dalam kemulianNya untuk melaksanakan penghakiman terakhir, semua bangsa akan dikumpulkan dan akan dilakukan pemisahan kesebelah kiri dan kananNya. Ada beberapa hal
yang boleh kita ambil makna dari pemberitaan Tuhan Yesus ini untuk kita renungkan bersama:
  1. “Terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (ay. 34). Kerajaan Allah dan hidup yang kekal itu adalah bahagian rencana penciptaan Allah sejak awal. Sehingga hal bukanlah sesuatu rencana Allah yang baru, namun Tuhan Yesus memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia untuk memasuki rencana Allah yang kekal itu. Siapapun tidak akan dapat lagi memasukinya jika hanya dengan usahanya sendiri tetapi besar kasih Allah kepada manusia agar dapat memasuki  puncak rencana Allah yang kekal dan indah itu.
     2. “Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya” (ay. 33). Pada nats ini dapat kitaa baca bahwa ternyata domba-domba itu dimasukkan dalam kerajaanNya sementara kambing-kambing ditempatkan di siksaan yang kekal. Mengapa Tuhan Yesus menggambarkan pemisahan yang dilakukanNya dalam penghakimanNya dengan “domba” dan “kambing”? secara ilmiah dapat dilihat bahwa secara umum perbedaan kedua binatang ini dapat kita lihat dari perilaku hidupnya. Kambing adalah binatang yang individualis yang pergi mencari makan sendiri-sendiri, sementara domba adalah binatang yang memiliki insting yang besar untuk hidup bergerombol bersama kawanannya, sehingga domba akan gelisah jika hidup sendiri. Dalam konteks nats ini yang mana Tuhan Yesus menekankan solidaritas umat yang percaya terhadap sesamanya. Hal ini cocok dengan domba yang memang dalam mempertahankan hidup cenderung untuk bersama. Walaupun domba adalah binatang yang penakut jika dibandingkan dengan kambing jika hidup sendiri, namun Tuhan Yesus menggunakan gambaran domba kepada orang-orang yang berkenan di hadapanNya karena domba memiliki insting hidup bergerombol dalam mempertahankan hidupnya, sehingga tidak ada yang berkekurangan sebab mereka semua adalah satu dalam suatu kawanan domba.

3. Mari kita bandingkan jawaban dari orang yang ditempatkan di sebelah kananNya dan yang di sebelah kiriNya:
                                            Disebelah kananNya (ay.37)
“Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?”
                                                         Disebelah kiriNya (ay.44)
“Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?”
Dengan membaca dua bahagian dari nats ini mungkin kita sudah mengetahui perbedaan sikap kedua kelompok orang tersebut. Bahwa sesungguhnya iman yang murni kepada Allah akan melakukan kasih dalam kehidupannya tanpa dia harus menghitung atau memperhatikan kepada siapa dia berbuat kasih. Kasih itu keluar dari iman yang murni mengalir secara alami. Sementara yang disebelah kiriNya dapat kita lihat bahwa orang tersebut memperlihatkan kesombongannya dan tidak berterima akan keputusan Raja yang menghakimi yang mau menyatakan bahwa dia telah banyak berbuat kepada Allah. Maka tepatlah jika dinyatakkan “Imanmulah yang menyelamatkanmu”. 

4.“Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu”. Pertanyaannya: “siapa yang diberkati oleh Bapa yang disorga?” Bukankah saya merasakan nafas kehidupan, memiliki rumah, pekerjaan, anak, harta, memiliki kendaraan roda dua, roda empat dan lain sebagainya adalah berkat Tuhan? Ternyata ada berkat yang lebih indah dan lebih besar dari segala berkat yang masih boleh kita rasakan saat ini yaitu berkat yang kekal yang akan kita rasakan sampai selama-lamanya. Dan lebih sangat disayangkan jika ternyata berkat yang diberikan oleh Allah kepada kita saat ini tidak dapat kita pergunakan dengan baik untuk mendapatkan berkat yang kekal itu. Maka dapatlah kita renungkan siapakah sebenarnya yang diberkati oleh Tuhan? Hal ini dapat kita bandingan pada ayat-ayat sebelumnya mengenai perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.
 
Dalam Lukas 4: 21 Tuhan Yesus menyatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” yaitu untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada yang tertawan, penglihatan kepada yang buta, membebaskan yang tertindas. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kasihNya yang besar bagi kita semua. ini adalah berita keselamatan yang akan diberitakan dan dilakukan oleh orang-orang percaya, sebab kita adalah saksi keselamatan yang telah di bawa oleh Tuhan Yesus. Belas kasih Allah kepada kita yang hina karena dosa telah diperlihatkanNya dan Ia menghendaki kita juga yang telah dilepaskanNya dari keadaan yang hina dapat memperlihatkan belas kasih kepada orang yang hina yang ada disekitar kita sebagai bukti penyelamatan Allah atas hidup kita dari kehidupan yang hina, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. 
Kasih sesungguhnya bukanlah sikap yang harus atau tidak untuk dilakukan, namun hakikatnya kasih adalah perilaku dasar atau naluri alamiah dari iman. Sehingga orang yang memiliki iman kepada Allah yang adalah kasih tidak akan melihat siapa yang di kasihinya ataupun menghitung-hitung kasih yang dilakukannya, namun kasih itu adalah watak, perilaku dasar ataupun insting untuk dilakukan dalam kehidupannya. Tuhan Yesus telah memperlihatkan kepada kita bagaimana penghakiman yang akan dilakukanNya, bahwa pemisahan yang akan dilakukanNya tidak jauh dari penilaian akan iman yang berbuahkan kasih, sebab itulah perilaku asar dari orang-orang percaya. Walaupun kambing dan domba memiliki banyak persamaan, namun tetaplah perilaku hidup mereka berbeda.
Melakukan belas kasih kepada sesame terlebih kepada orang yang hina bukanlah masalah ada atau tidaknya sesuatu padanya untuk di beri, namun lebih kepada niat dan keinginan untuk bertindak dan melakukan kasih. Sebab ada yang kaya mau berbagi namun ada juga yang tidak demikian juga halnya orang yang berkekurangan bahwa ada orang dalam keterbatasannya namun kasihnya tidak terbatas kepada oang lain. Sekali lagi kita dapat membandingkannya dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta.

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Akhir Zaman / Khotbah Minggu dengan judul Kasih Allah, Mengasihi Sesama (Matius 25: 34-40) . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2013/09/matius-25-34-40-kasih-allah-mengasihi.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Pdt. Porisman D.M Lubis -

Belum ada komentar untuk " Kasih Allah, Mengasihi Sesama (Matius 25: 34-40) "