Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Wednesday, July 24, 2013

Siapakah Sesamaku Manusia? (Lukas 10:25-37)

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 10:25-37; Imamat 19: 9-18
Jika kita merenungkan dan semakin mendalami pertanyaan dari ahli Taurat kepada Yesus “Siapakah sesamaku manusia?”. Seandainya pertanyaan itu ditujukan kepada kita kira-kira apa yang akan kita jawab. Mungkin Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah perumpamaan adalah supaya jawaban Yesus tidak kasar kepada ahli Taurat itu. Dapat kita bayangkan jika seorang “manusia” bertanya “Siapakah sesamaku manusia?” seorang manusia tidak lagi dapat mengenal sesamanya manusia. Apakah dia telah menganggap orang lain “binatang” ataupun benda mati? Ataukah saat ini orang hanya mengenal sesamanya manusia hanya yang satu golongan, ras, agama, bangsa ataupun yang hanya satu ide dengan dia baru dapat dikatakan sesamanya manusia.
Pertanyaan “Siapakah sesamaku manusia” sesungguhnya adalah tanda dari dosa yang telah menggerogoti kehidupan kita saat ini, sehingga dia tidak lagi mampu untuk mengenal sesamanya manusia konsep gambar dan rupa Allah itu tidak lagi mampu di lihat pada sesamanya. Sehingga bagaimana mungkin saya mampu mengasihi sesamaku manusia sementara saya tidak mampu untuk mengetahui siapa sesamaku manusia. Sehingga tidak heran jika ada manusia yang lebih mengasihi “Binatang” peliharaannya dari pada sesamanya manusia dan orang-orang saat ini tidak sungkan-sungkan lagi untuk menghabisi nyawa orang lain dan memperlakukan orang lain seperti “Binatang” (Mungkin kita masih ingat beberapa waktu yang lalu bagaimana terbongkarnya kasus pabrik periuk yang memperlakukan karyawannya dengan tidak manusiawi).
Dosa telah membutakan mata hati kita untuk dapat melihat siapa sesama kita manusia. Yesus telah hadir ditengah-tengah kehidupan kita untuk membersihkan mata hati kita untuk mampu melihat siapa sesama kita. Ketika kita telah menerima kasih dan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang memampukan kita melihat dan mengenal siapa sesama kita, maka sudut pandang kita adalah supaya saling mengasihi sesama manusia.
Perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati ingin memperlihatkan bahwa kasih yang terpancar dari hati manusia itu pada dasarnya tidak memandang latarbelakang ataupun status. Walaupun orang Samaria itu tidak mengenal status dari orang yang terkena rampok itu, namun dia mengenal bahwa dia adalah sesamanya yang membutuhkan pertolongan dan bukan demikian halnya dengan Imam dan orang Lewi yang tidak memancarkan rasa belas kasihan yang walaupun mereka memiliki latarbelakang agama yang baik. Menjadi sesama manusia kita tidak memandang status dan kondisi keadaan tetapi kita memiliki hati dan tindakan yang berbelas kasihan kepada orang lain.  

Belas kasih tidak akan pernah bisa tersalur dengan baik kepada semua orang ketika dosa menyelimuti diri kita. Sehingga belas kasih hanya dapat diterapkan pada batas-batas tertentu saja. Alangkah sulitnya kasih itu tersalur ketika kebencian, dendam dan sakit hati menyelimuti diri kita. Belas kasih menjadi hal sulit dilakukan dengan ketulusan ketika pandangan diri kita kepada orang lain masih dibatasi oleh perbedaan-perbedaan yang ada. Belas kash akan terasa sulit jika diri kita masih diselimuti oleh rasa takut untuk melakukan kasih.
Kasih Allah melalui Yesus Kristus adalah untuk semua orang maka kehadiran kita sebagai pengikut Kristus juga adalah untuk semua orang. Maka kita tidak memakai cara pandang dunia untuk melakukan belas kasih melainkan cara pandang iman dalam Yesus Kristus. Jika kita memiliki iman yang teguh di dalam Kristus, maka belas kasih bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, malah sebaliknya belas kasih menjadi kekuatan kita. Semampu kita belas kasih akan terpancar kepada orang lain ketika kita benar-benar menyadari hidupku oleh hanya karena belas kasih Allah.
Bacaan Firman Tuhan: Lukas 10:25-37; Imamat 19: 9-18
Jika kita merenungkan dan semakin mendalami pertanyaan dari ahli Taurat kepada Yesus “Siapakah sesamaku manusia?”. Seandainya pertanyaan itu ditujukan kepada kita kira-kira apa yang akan kita jawab. Mungkin Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah perumpamaan adalah supaya jawaban Yesus tidak kasar kepada ahli Taurat itu. Dapat kita bayangkan jika seorang “manusia” bertanya “Siapakah sesamaku manusia?” seorang manusia tidak lagi dapat mengenal sesamanya manusia. Apakah dia telah menganggap orang lain “binatang” ataupun benda mati? Ataukah saat ini orang hanya mengenal sesamanya manusia hanya yang satu golongan, ras, agama, bangsa ataupun yang hanya satu ide dengan dia baru dapat dikatakan sesamanya manusia.
Pertanyaan “Siapakah sesamaku manusia” sesungguhnya adalah tanda dari dosa yang telah menggerogoti kehidupan kita saat ini, sehingga dia tidak lagi mampu untuk mengenal sesamanya manusia konsep gambar dan rupa Allah itu tidak lagi mampu di lihat pada sesamanya. Sehingga bagaimana mungkin saya mampu mengasihi sesamaku manusia sementara saya tidak mampu untuk mengetahui siapa sesamaku manusia. Sehingga tidak heran jika ada manusia yang lebih mengasihi “Binatang” peliharaannya dari pada sesamanya manusia dan orang-orang saat ini tidak sungkan-sungkan lagi untuk menghabisi nyawa orang lain dan memperlakukan orang lain seperti “Binatang” (Mungkin kita masih ingat beberapa waktu yang lalu bagaimana terbongkarnya kasus pabrik periuk yang memperlakukan karyawannya dengan tidak manusiawi).
Dosa telah membutakan mata hati kita untuk dapat melihat siapa sesama kita manusia. Yesus telah hadir ditengah-tengah kehidupan kita untuk membersihkan mata hati kita untuk mampu melihat siapa sesama kita. Ketika kita telah menerima kasih dan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang memampukan kita melihat dan mengenal siapa sesama kita, maka sudut pandang kita adalah supaya saling mengasihi sesama manusia.
Perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati ingin memperlihatkan bahwa kasih yang terpancar dari hati manusia itu pada dasarnya tidak memandang latarbelakang ataupun status. Walaupun orang Samaria itu tidak mengenal status dari orang yang terkena rampok itu, namun dia mengenal bahwa dia adalah sesamanya yang membutuhkan pertolongan dan bukan demikian halnya dengan Imam dan orang Lewi yang tidak memancarkan rasa belas kasihan yang walaupun mereka memiliki latarbelakang agama yang baik. Menjadi sesama manusia kita tidak memandang status dan kondisi keadaan tetapi kita memiliki hati dan tindakan yang berbelas kasihan kepada orang lain.  

Belas kasih tidak akan pernah bisa tersalur dengan baik kepada semua orang ketika dosa menyelimuti diri kita. Sehingga belas kasih hanya dapat diterapkan pada batas-batas tertentu saja. Alangkah sulitnya kasih itu tersalur ketika kebencian, dendam dan sakit hati menyelimuti diri kita. Belas kasih menjadi hal sulit dilakukan dengan ketulusan ketika pandangan diri kita kepada orang lain masih dibatasi oleh perbedaan-perbedaan yang ada. Belas kash akan terasa sulit jika diri kita masih diselimuti oleh rasa takut untuk melakukan kasih.
Kasih Allah melalui Yesus Kristus adalah untuk semua orang maka kehadiran kita sebagai pengikut Kristus juga adalah untuk semua orang. Maka kita tidak memakai cara pandang dunia untuk melakukan belas kasih melainkan cara pandang iman dalam Yesus Kristus. Jika kita memiliki iman yang teguh di dalam Kristus, maka belas kasih bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, malah sebaliknya belas kasih menjadi kekuatan kita. Semampu kita belas kasih akan terpancar kepada orang lain ketika kita benar-benar menyadari hidupku oleh hanya karena belas kasih Allah.

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Siapakah Sesamaku Manusia? (Lukas 10:25-37)

Bacaan Firman Tuhan: Lukas 10:25-37; Imamat 19: 9-18
Jika kita merenungkan dan semakin mendalami pertanyaan dari ahli Taurat kepada Yesus “Siapakah sesamaku manusia?”. Seandainya pertanyaan itu ditujukan kepada kita kira-kira apa yang akan kita jawab. Mungkin Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah perumpamaan adalah supaya jawaban Yesus tidak kasar kepada ahli Taurat itu. Dapat kita bayangkan jika seorang “manusia” bertanya “Siapakah sesamaku manusia?” seorang manusia tidak lagi dapat mengenal sesamanya manusia. Apakah dia telah menganggap orang lain “binatang” ataupun benda mati? Ataukah saat ini orang hanya mengenal sesamanya manusia hanya yang satu golongan, ras, agama, bangsa ataupun yang hanya satu ide dengan dia baru dapat dikatakan sesamanya manusia.
Pertanyaan “Siapakah sesamaku manusia” sesungguhnya adalah tanda dari dosa yang telah menggerogoti kehidupan kita saat ini, sehingga dia tidak lagi mampu untuk mengenal sesamanya manusia konsep gambar dan rupa Allah itu tidak lagi mampu di lihat pada sesamanya. Sehingga bagaimana mungkin saya mampu mengasihi sesamaku manusia sementara saya tidak mampu untuk mengetahui siapa sesamaku manusia. Sehingga tidak heran jika ada manusia yang lebih mengasihi “Binatang” peliharaannya dari pada sesamanya manusia dan orang-orang saat ini tidak sungkan-sungkan lagi untuk menghabisi nyawa orang lain dan memperlakukan orang lain seperti “Binatang” (Mungkin kita masih ingat beberapa waktu yang lalu bagaimana terbongkarnya kasus pabrik periuk yang memperlakukan karyawannya dengan tidak manusiawi).
Dosa telah membutakan mata hati kita untuk dapat melihat siapa sesama kita manusia. Yesus telah hadir ditengah-tengah kehidupan kita untuk membersihkan mata hati kita untuk mampu melihat siapa sesama kita. Ketika kita telah menerima kasih dan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang memampukan kita melihat dan mengenal siapa sesama kita, maka sudut pandang kita adalah supaya saling mengasihi sesama manusia.
Perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati ingin memperlihatkan bahwa kasih yang terpancar dari hati manusia itu pada dasarnya tidak memandang latarbelakang ataupun status. Walaupun orang Samaria itu tidak mengenal status dari orang yang terkena rampok itu, namun dia mengenal bahwa dia adalah sesamanya yang membutuhkan pertolongan dan bukan demikian halnya dengan Imam dan orang Lewi yang tidak memancarkan rasa belas kasihan yang walaupun mereka memiliki latarbelakang agama yang baik. Menjadi sesama manusia kita tidak memandang status dan kondisi keadaan tetapi kita memiliki hati dan tindakan yang berbelas kasihan kepada orang lain.  

Belas kasih tidak akan pernah bisa tersalur dengan baik kepada semua orang ketika dosa menyelimuti diri kita. Sehingga belas kasih hanya dapat diterapkan pada batas-batas tertentu saja. Alangkah sulitnya kasih itu tersalur ketika kebencian, dendam dan sakit hati menyelimuti diri kita. Belas kasih menjadi hal sulit dilakukan dengan ketulusan ketika pandangan diri kita kepada orang lain masih dibatasi oleh perbedaan-perbedaan yang ada. Belas kash akan terasa sulit jika diri kita masih diselimuti oleh rasa takut untuk melakukan kasih.
Kasih Allah melalui Yesus Kristus adalah untuk semua orang maka kehadiran kita sebagai pengikut Kristus juga adalah untuk semua orang. Maka kita tidak memakai cara pandang dunia untuk melakukan belas kasih melainkan cara pandang iman dalam Yesus Kristus. Jika kita memiliki iman yang teguh di dalam Kristus, maka belas kasih bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, malah sebaliknya belas kasih menjadi kekuatan kita. Semampu kita belas kasih akan terpancar kepada orang lain ketika kita benar-benar menyadari hidupku oleh hanya karena belas kasih Allah.

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Kasih / Khotbah Minggu dengan judul Siapakah Sesamaku Manusia? (Lukas 10:25-37) . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2013/07/lukas-1025-37-siapakah-sesamaku-manusia.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Pdt. Porisman D.M Lubis -

Belum ada komentar untuk " Siapakah Sesamaku Manusia? (Lukas 10:25-37) "