Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Thursday, March 30, 2017

Roma 8:6-11 | Roh yang menghidupkan



Bacaan Firman Tuhan: Roma 8: 6-11
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.



Nas ini hendak menghantar kita untuk mengingatkan dan mendalami kembali akan maksud dari “hidup”. Sebab jika kita mendalami nas ini, maka akan jauh bedanya hidup yang diartikan oleh dunia ini dengan hidup yang dimaksud oleh Tuhan.

Jika dunia ini mengatakan seseorang yang hidup itu: masih ada fisik, masih bisa bergerak, bekerja, bernafas, berfikir. Namun dihadapan Tuhan seseorang dikatakan hidup tidak hanya sebatas pengertian itu. Lebih dari situ pengertian seseorang dikatakan hidup. Sebab ada satu unsur yang terpenting yang harus dimiliki setiap orang barulah dia dikatakan hidup dalam arti yang sesungguhnya, yaitu dalam dirinya ada Roh Tuhan.

Itulah sebabnya dikatakan di ayat 6 “Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”. Maka inilah yang menjadi keunikan kita, yang membedakan kita dengan orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, bahwa dalam diri kita ada Roh Tuhan yang dicurahkan untuk kehidupan kita. Dari kehidupan daging tidak ada ubahnya kita dengan mereka, sama-sama bernafas, bekerja dan berusaha, namun dihadapan Tuhan yang terbilang orang yang hidup adalah yang dalam dirinya Roh Tuhan berdiam dan bekerja.

Itulah sebabnya jika kita menyimak Yehezkiel 37: 1-14 digambarkan orang Israel itu seperti “tulang-tulang kering”, walaupun mereka hidup secara daging, namun sesungguhnya mereka adalah mati seperti tulang-tulang kering. Sebab mereka hidup sesuai dengan keinginannya, hidup yang tidak ada ubahnya dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Hanya keinginan dagingnya saja yang terus dipelihara.

Sehingga tidak heran jika banyak orang saat ini mempertanyakan tentang “apa arti kehidupan”. Mereka mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi di ujungnya mereka mempertanyakan “apa arti dari semuanya ini?” yang didapatkan adalah kekosongan dan kesia-siaan.

Itulah sebabnya hikmat Salomo dalam kitab Pengkhotbah sudah mengingatkan kita “Hidup dibawah matahari adalah kesia-siaan” seperti menjaring angin. Salomo memiliki semuanya dalam kehidupannya, kekuasaan, harta melimpah, kesenangan duniawi, ratusan istri. Namun dia mengatakan “semuanya sia-sia”. Karena bukan itu yang membuat manusia menikmati hidupnya, tetapi hikmat Salomo mengatakan “Takutlah akan Tuhan”. Hanya itu yang dapat membuat kita menjalani hidup yang sesungguhnya, yang benar-benar menikmati hidup yang diberikan oleh Tuhan.

Tuhan Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10: 10b). Kehadiran Yesus dalam diri manusia adalah untuk hidup berkelimpahan. Bukan karena dunia ini manusia menikmati hidupnya, tetapi karena Tuhan ada dalam hidupnya.

Maka firman Tuhan bagi kita saat ini hendak menggugah kita menjawab pertanyaan ini: “Apakah kita benar-benar hidup?” entah kita sebagai orang Kristen tidak ada ubahnya dengan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, atau bahkan mungkin kita seperti gambaran dalam kitab Yehezkiel hidup seperti “tulang-tulang kering?”

Adalah bijak jika kita mau untuk melihat perjalanan kehidupan yang kita telah lalui. Kemana sebenarnya kita membawa diri kita, keluarga kita, anak-anak kita. Ataukah tanpa kita sadari bahwa kita sedang membawa diri, anak dan keluarga kita ke jurang yang dalam. 

Maka perlulah untuk kita menjawabnya dalam diri kita, apakah Tuhan sudah menjadi guru, mentor, pembimbing dalam hidup kita. Apakah diri kita menjadi guru, “hidup semau gue”, apakah dunia ini “apa yang dilakukan orang itu yang kita lakukan”; apakah Tuhan? Yang mau menguji segala sesuatu yang berkenan kepada Tuhan.

Walaupun hikmat Salomo mengatakan “hidup di bawah matahari adalah kesia-siaan” bukan artinya kita tidak lagi perlu mengejar harapan, cita-cita dan karir kita. Namun justru sebaliknya mari kita mengejar apapun selama kita diberikan Tuhan kesempatan, tetapi kejarlah semuanya dibawah bimbingan dan tuntunan Tuhan. Supaya apapun yang kita perbuat dan lakukan semuanya berguru pada Roh Tuhan.

Tuhan menempatkan Rohnya dalam diri setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah supaya kita “memiliki hidup dan damai sejahtera”. Yang Tuhan inginkan adalah apa yang terbaik dalam hidup kita. Bagaimana kita supaya menikmati hidup yang diberikan oleh Tuhan, kita bersukacita, kita memiliki damai sejahtera menjalani hari-hari hidup kita.
Seperti membaca sebuah buku, jika kita serius memperdalam ilmu sebuah buku. Namun ketika buku itu hilang dan lenyap, ilmu dari buku itu tidak akan pernah lenyap karena sudah ada dalam otak kita. Demikian juga hidup ini, apapun yang kita dapatkan dan raih dalam hidup ini pada akhirnya semuanya akan lenyap, tetapi hidup kita tidak akan lenyap bersama dengan dunia ini karena kita telah memiliki hidup yang sesungguhnya.

Maka orang Kristen itu dikatakan hidup, bukan karena dagingnya yang bergerak, tetapi karena dagingnya yang digerakkan oleh Roh Tuhan. Keinginan daging adalah maut, jangan terkecoh dengan nikmatnya dunia karena keinginan daging hanya akan membawa kesusahan, tetapi keinginan Roh akan membawa kita pada kehidupan dan damai sejahtera.

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Blog Archive

Popular Posts

Roma 8:6-11 | Roh yang menghidupkan



Bacaan Firman Tuhan: Roma 8: 6-11
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.



Nas ini hendak menghantar kita untuk mengingatkan dan mendalami kembali akan maksud dari “hidup”. Sebab jika kita mendalami nas ini, maka akan jauh bedanya hidup yang diartikan oleh dunia ini dengan hidup yang dimaksud oleh Tuhan.

Jika dunia ini mengatakan seseorang yang hidup itu: masih ada fisik, masih bisa bergerak, bekerja, bernafas, berfikir. Namun dihadapan Tuhan seseorang dikatakan hidup tidak hanya sebatas pengertian itu. Lebih dari situ pengertian seseorang dikatakan hidup. Sebab ada satu unsur yang terpenting yang harus dimiliki setiap orang barulah dia dikatakan hidup dalam arti yang sesungguhnya, yaitu dalam dirinya ada Roh Tuhan.

Itulah sebabnya dikatakan di ayat 6 “Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”. Maka inilah yang menjadi keunikan kita, yang membedakan kita dengan orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, bahwa dalam diri kita ada Roh Tuhan yang dicurahkan untuk kehidupan kita. Dari kehidupan daging tidak ada ubahnya kita dengan mereka, sama-sama bernafas, bekerja dan berusaha, namun dihadapan Tuhan yang terbilang orang yang hidup adalah yang dalam dirinya Roh Tuhan berdiam dan bekerja.

Itulah sebabnya jika kita menyimak Yehezkiel 37: 1-14 digambarkan orang Israel itu seperti “tulang-tulang kering”, walaupun mereka hidup secara daging, namun sesungguhnya mereka adalah mati seperti tulang-tulang kering. Sebab mereka hidup sesuai dengan keinginannya, hidup yang tidak ada ubahnya dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Hanya keinginan dagingnya saja yang terus dipelihara.

Sehingga tidak heran jika banyak orang saat ini mempertanyakan tentang “apa arti kehidupan”. Mereka mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi di ujungnya mereka mempertanyakan “apa arti dari semuanya ini?” yang didapatkan adalah kekosongan dan kesia-siaan.

Itulah sebabnya hikmat Salomo dalam kitab Pengkhotbah sudah mengingatkan kita “Hidup dibawah matahari adalah kesia-siaan” seperti menjaring angin. Salomo memiliki semuanya dalam kehidupannya, kekuasaan, harta melimpah, kesenangan duniawi, ratusan istri. Namun dia mengatakan “semuanya sia-sia”. Karena bukan itu yang membuat manusia menikmati hidupnya, tetapi hikmat Salomo mengatakan “Takutlah akan Tuhan”. Hanya itu yang dapat membuat kita menjalani hidup yang sesungguhnya, yang benar-benar menikmati hidup yang diberikan oleh Tuhan.

Tuhan Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10: 10b). Kehadiran Yesus dalam diri manusia adalah untuk hidup berkelimpahan. Bukan karena dunia ini manusia menikmati hidupnya, tetapi karena Tuhan ada dalam hidupnya.

Maka firman Tuhan bagi kita saat ini hendak menggugah kita menjawab pertanyaan ini: “Apakah kita benar-benar hidup?” entah kita sebagai orang Kristen tidak ada ubahnya dengan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, atau bahkan mungkin kita seperti gambaran dalam kitab Yehezkiel hidup seperti “tulang-tulang kering?”

Adalah bijak jika kita mau untuk melihat perjalanan kehidupan yang kita telah lalui. Kemana sebenarnya kita membawa diri kita, keluarga kita, anak-anak kita. Ataukah tanpa kita sadari bahwa kita sedang membawa diri, anak dan keluarga kita ke jurang yang dalam. 

Maka perlulah untuk kita menjawabnya dalam diri kita, apakah Tuhan sudah menjadi guru, mentor, pembimbing dalam hidup kita. Apakah diri kita menjadi guru, “hidup semau gue”, apakah dunia ini “apa yang dilakukan orang itu yang kita lakukan”; apakah Tuhan? Yang mau menguji segala sesuatu yang berkenan kepada Tuhan.

Walaupun hikmat Salomo mengatakan “hidup di bawah matahari adalah kesia-siaan” bukan artinya kita tidak lagi perlu mengejar harapan, cita-cita dan karir kita. Namun justru sebaliknya mari kita mengejar apapun selama kita diberikan Tuhan kesempatan, tetapi kejarlah semuanya dibawah bimbingan dan tuntunan Tuhan. Supaya apapun yang kita perbuat dan lakukan semuanya berguru pada Roh Tuhan.

Tuhan menempatkan Rohnya dalam diri setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah supaya kita “memiliki hidup dan damai sejahtera”. Yang Tuhan inginkan adalah apa yang terbaik dalam hidup kita. Bagaimana kita supaya menikmati hidup yang diberikan oleh Tuhan, kita bersukacita, kita memiliki damai sejahtera menjalani hari-hari hidup kita.
Seperti membaca sebuah buku, jika kita serius memperdalam ilmu sebuah buku. Namun ketika buku itu hilang dan lenyap, ilmu dari buku itu tidak akan pernah lenyap karena sudah ada dalam otak kita. Demikian juga hidup ini, apapun yang kita dapatkan dan raih dalam hidup ini pada akhirnya semuanya akan lenyap, tetapi hidup kita tidak akan lenyap bersama dengan dunia ini karena kita telah memiliki hidup yang sesungguhnya.

Maka orang Kristen itu dikatakan hidup, bukan karena dagingnya yang bergerak, tetapi karena dagingnya yang digerakkan oleh Roh Tuhan. Keinginan daging adalah maut, jangan terkecoh dengan nikmatnya dunia karena keinginan daging hanya akan membawa kesusahan, tetapi keinginan Roh akan membawa kita pada kehidupan dan damai sejahtera.

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Khotbah Minggu / Roh Kudus dengan judul Roma 8:6-11 | Roh yang menghidupkan . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2017/03/roma-86-11-roh-yang-menghidupkan.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Roma 8:6-11 | Roh yang menghidupkan "