Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Friday, September 26, 2014

Tiap Orang Bertanggungjawab Atas Dosanya Sendiri



Bacaan Firman Tuhan: Yehezkiel 18:1-4 + 25-32
Ada sindiran yang berkembang pada masa Yehezkiel ketika itu yang menyatakan “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu”. Dengan maksud umat Israel ketika itu ingin berdalih bahwa penghukuman yang akan mereka terima adalah karena dosa orangtua mereka dan juga ketidakadilan Allah. Maka firman Allah dengan tegas mengatakan disini bahwa “Aku menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya” (ay. 30). Bahwa Allah berurusan langsung dengan manusia sebagai individu.

Setiap orang bertanggung jawab atas dosa-dosanya sendiri di hadapan Allah dan dosa yang dilakukan seorang ayah tidak berhubungan dengan anaknya. Jika ternyata seorang anak menolak mengikuti perbuatan ayahnya, maka dia akan selamat. Demikian juga halnya jika seorang ayah melakukan yang benar, namun anaknya menolak meniru perbuatan baik ayahnya maka si anak akan dihukum sesuai dengan kesalahannya.

Maka jelaslah disini bahwa seseorang tidak mewarisi dosa kepada keturunannya, keadilan Allah nyata kepada setiap individu dan kasihNya nyata bagi setiap individu yang bertobat dari dosanya. Sehingga dalam hal berbuat dosa kita tidak dapat berdalih mempersalahkan siapapun. Tidak ada yang tersembunyi dihadapan Allah, semua yang kita perbuat harus kita pertanggung jawabkan kepada Tuhan “apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya” (Gal. 6:7).

Tabiat dosa yang telah merasuki kehidupan manusia sudah sejak dari Adam pertama yakni mencoba berdalih untuk membenarkan diri dan melihat kesalahan orang lain. Semakin kita menyangkal kesalahan dan semakin kita hanya melihat kesalahan orang lain, maka keselamatan dari Tuhan akan semakin jauh dari hidup kita. Jika gagal memukul bola golf sampai beberapa kali, jauh lebih baik mengakui kekurangan kita, daripada menyalahkan lapangan maupun stik golf yang kurang baik, karena sikap seperti itu tidak akan membawa kebaikan dalam kemampuan permainan kita.

Dapat dilihat bagaimana penerimaan Yesus terhadap orang yang berdosa, yakni adanya pengakuan dan penyesalan atas dosanya. Bukan seperti imam-imam, tua-tua Yahudi dan ahli taurat yang selalu menganggap diri benar dan kudus sebagaimana mereka sebagai pejabat (Sanhedrin) yang dihormati, dan hanya melihat dosa orang lain.

Dalam kehidupan ini, ada banyak orang yang berani mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi mempertahankan eksistensinya secara kedagingan. Mengandalkan kekuatan pikiran dan perasaannya daripada mengandalkan kuasa Tuhan bekerja dalam dirinya. Sudah tahu bahwa dia memiliki kekurangan, namun untuk mempertahankan kekuatan pikiran, perasaan dan kepentingan kemanusiaannya dia lebih senang untuk memperhatikan dan memperlihatkan kesalahan dan kelemahan orang lain. 

Untuk mempertahankan ego seseorang sanggup untuk tidak melihat kekurangannya untuk berbantah atas kekurangan orang lain. Maka seseorang yang memiliki sifat seperti ini akan selalu menganggap salah perbuatan saudaranya tanpa mempercakapkan pendapatnya, padahal Firman Tuhan justru mengajar kita “Terimalah orang yang lemah imannya, tanpa mempercakapkan pendapatnya” (Roma 14:1).

Seruan pertobatan Tuhan adalah untuk melihat dan merubah kesalahan dalam diri kita bukan untuk melihat kelemahan dan dosa orang lain. Karena pada akhirnya Tuhan mempertanyakan perbuatan kita bukan mempertanyakan perbuatan orang lain.
Kita bisa saja marah atas dosa orang lain, namun yang Tuhan perintahkan bukan menghakimi tetapi menasehati.
Kita bisa saja marah atas dosa kita, namun yang Tuhan perintahkan bukan untuk membenci diri tetapi membenci dosa dengan pertobatan.

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Tiap Orang Bertanggungjawab Atas Dosanya Sendiri



Bacaan Firman Tuhan: Yehezkiel 18:1-4 + 25-32
Ada sindiran yang berkembang pada masa Yehezkiel ketika itu yang menyatakan “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu”. Dengan maksud umat Israel ketika itu ingin berdalih bahwa penghukuman yang akan mereka terima adalah karena dosa orangtua mereka dan juga ketidakadilan Allah. Maka firman Allah dengan tegas mengatakan disini bahwa “Aku menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya” (ay. 30). Bahwa Allah berurusan langsung dengan manusia sebagai individu.

Setiap orang bertanggung jawab atas dosa-dosanya sendiri di hadapan Allah dan dosa yang dilakukan seorang ayah tidak berhubungan dengan anaknya. Jika ternyata seorang anak menolak mengikuti perbuatan ayahnya, maka dia akan selamat. Demikian juga halnya jika seorang ayah melakukan yang benar, namun anaknya menolak meniru perbuatan baik ayahnya maka si anak akan dihukum sesuai dengan kesalahannya.

Maka jelaslah disini bahwa seseorang tidak mewarisi dosa kepada keturunannya, keadilan Allah nyata kepada setiap individu dan kasihNya nyata bagi setiap individu yang bertobat dari dosanya. Sehingga dalam hal berbuat dosa kita tidak dapat berdalih mempersalahkan siapapun. Tidak ada yang tersembunyi dihadapan Allah, semua yang kita perbuat harus kita pertanggung jawabkan kepada Tuhan “apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya” (Gal. 6:7).

Tabiat dosa yang telah merasuki kehidupan manusia sudah sejak dari Adam pertama yakni mencoba berdalih untuk membenarkan diri dan melihat kesalahan orang lain. Semakin kita menyangkal kesalahan dan semakin kita hanya melihat kesalahan orang lain, maka keselamatan dari Tuhan akan semakin jauh dari hidup kita. Jika gagal memukul bola golf sampai beberapa kali, jauh lebih baik mengakui kekurangan kita, daripada menyalahkan lapangan maupun stik golf yang kurang baik, karena sikap seperti itu tidak akan membawa kebaikan dalam kemampuan permainan kita.

Dapat dilihat bagaimana penerimaan Yesus terhadap orang yang berdosa, yakni adanya pengakuan dan penyesalan atas dosanya. Bukan seperti imam-imam, tua-tua Yahudi dan ahli taurat yang selalu menganggap diri benar dan kudus sebagaimana mereka sebagai pejabat (Sanhedrin) yang dihormati, dan hanya melihat dosa orang lain.

Dalam kehidupan ini, ada banyak orang yang berani mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi mempertahankan eksistensinya secara kedagingan. Mengandalkan kekuatan pikiran dan perasaannya daripada mengandalkan kuasa Tuhan bekerja dalam dirinya. Sudah tahu bahwa dia memiliki kekurangan, namun untuk mempertahankan kekuatan pikiran, perasaan dan kepentingan kemanusiaannya dia lebih senang untuk memperhatikan dan memperlihatkan kesalahan dan kelemahan orang lain. 

Untuk mempertahankan ego seseorang sanggup untuk tidak melihat kekurangannya untuk berbantah atas kekurangan orang lain. Maka seseorang yang memiliki sifat seperti ini akan selalu menganggap salah perbuatan saudaranya tanpa mempercakapkan pendapatnya, padahal Firman Tuhan justru mengajar kita “Terimalah orang yang lemah imannya, tanpa mempercakapkan pendapatnya” (Roma 14:1).

Seruan pertobatan Tuhan adalah untuk melihat dan merubah kesalahan dalam diri kita bukan untuk melihat kelemahan dan dosa orang lain. Karena pada akhirnya Tuhan mempertanyakan perbuatan kita bukan mempertanyakan perbuatan orang lain.
Kita bisa saja marah atas dosa orang lain, namun yang Tuhan perintahkan bukan menghakimi tetapi menasehati.
Kita bisa saja marah atas dosa kita, namun yang Tuhan perintahkan bukan untuk membenci diri tetapi membenci dosa dengan pertobatan.

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Dosa / Epistel / Renungan dengan judul Tiap Orang Bertanggungjawab Atas Dosanya Sendiri . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2014/09/tiap-orang-bertanggungjawab-atas.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Tiap Orang Bertanggungjawab Atas Dosanya Sendiri "