Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Thursday, August 22, 2013

Ibadah yang Sejati (Yesaya 58: 9-14)

Bacaan Firman Tuhan: Yesaya 58: 9-14; Lukas 13:10-17
Dalam konteks nats ini dapat dilihat bahwa nubuat akan kedatangan Mesias dalam hal penghiburan kepada umat akan segera dihadirkan. Keselamatan itu hanya bagi umat yang mau meninggalkan kemunafikan dan bagi umat yang menjalankan ibadah yang benar. Praktek peribadahan yang mereka lakukan telah merusak kekudusan ibadah itu sendiri, mereka melakukan puasa namun sambil berbantah dan berkelahi dan menghina hukum sabat dengan melakukan urusan pada hari itu sehingga menghilangkan makna ibadah dan puasa yang sesungguhnya. 

Dalam Lukas 13:10-17 Tuhan Yesus telah menentang kekakuan pelaksanaan hari sabat namun sabat itu adalah menghormati kekudusan Tuhan dengan melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan pelepasan. Martin Luther mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah harta yang menguduskan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan baik perkataan maupun perbuatan yang di dasarkan pada Firman Allah adalah hal kudus di hadapan Allah.

Jika umat Israel ketika itu bertanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?” “Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (Yes. 58: 3). Bahwa ternyata ada yang salah dengan ibadah puasa yang mereka lakukan. Mereka melakukan ibadah jauh melihat ke atas sampai mereka melupakan keadaan yang ada disekitarnya, dia tidak mampu melihat kehadiran Allah ada disekitarnya. Konsep spritualitas yang hanya fokus akan ‘aku’ dan Allah dan melupakan sesama akan semakin menjauhkan diri kita dari kasih karunia Allah. 
Berita keselamatan yang disampaikan Allah melalui nats ini mengarahkan kembali umat Allah untuk memasuki ibadah yang benar-benar memiliki semangat kasih yang utuh dan jika tidak demikian maka itu adalah kemunafikan. Munafik dalam hal ini adalah ketidak jujuran dihadapan Allah. Adalah tindakan yang bodoh jika ada orang Kristen yang mau mencoba bermain-main dengan bersandiwara kepada Tuhan dengan harapan dapat menyelamatkan hidupnya, sementara dia sedang berhadapan dengan Allah yang Maha mengetahui. 
Bagaimana mungkin berkat penyertaan Allah bekerja dalam hidup kita jika kita sendiri tidak jujur di hadapan Allah. Dalam nats kita dikatakan “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati”. Ibadah selayaknya semakin membawa kita mengenal Allah melalui FirmanNya yang kita pergumulkan dan pelajari untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan bukan menonjolkan citra diri yang membawa pada kesombongan rohani. 
Adalah hal wajar jika umat Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak mengindahkan dan memperhatikan ibadah yang mereka lakukan, sebab sampai kapanpun mereka tidak akan mendapat tuntunan Tuhan dalam hidup mereka sebab motivasi ibadah dan perilaku yang mereka lakukan hakikatnya jauh dari ibadah sesungguhnya yang di inginkan oleh Tuhan. 

Ibadah yang kita laksanakan bukanlah untuk menambah pahala ataupun poin namun semakin kita sering memasuki ibadah kepada Tuhan kita akan semakin diperbaharui di dalam FirmanNya untuk memampukan kita menjadi anak Allah di tengah-tengah dunia ini yang walaupun kita berjalan di tanah yang kering namun tuntunan Tuhan selalu memperbaharui kekuatan kita menjalani hidup. Kehadiran hidup kita ditengah-tengah dunia ini seperti taman yang baik yang memberika kesejukan dan keindahan dan juga seperti mata air yang tidak berkesudahan. Tuntunan Tuhan akan nyata dalam hidup ketika kita senantiasa memperbaharui hidup dengan FirmanNya.


Bacaan Firman Tuhan: Yesaya 58: 9-14; Lukas 13:10-17
Dalam konteks nats ini dapat dilihat bahwa nubuat akan kedatangan Mesias dalam hal penghiburan kepada umat akan segera dihadirkan. Keselamatan itu hanya bagi umat yang mau meninggalkan kemunafikan dan bagi umat yang menjalankan ibadah yang benar. Praktek peribadahan yang mereka lakukan telah merusak kekudusan ibadah itu sendiri, mereka melakukan puasa namun sambil berbantah dan berkelahi dan menghina hukum sabat dengan melakukan urusan pada hari itu sehingga menghilangkan makna ibadah dan puasa yang sesungguhnya. 

Dalam Lukas 13:10-17 Tuhan Yesus telah menentang kekakuan pelaksanaan hari sabat namun sabat itu adalah menghormati kekudusan Tuhan dengan melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan pelepasan. Martin Luther mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah harta yang menguduskan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan baik perkataan maupun perbuatan yang di dasarkan pada Firman Allah adalah hal kudus di hadapan Allah.

Jika umat Israel ketika itu bertanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?” “Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (Yes. 58: 3). Bahwa ternyata ada yang salah dengan ibadah puasa yang mereka lakukan. Mereka melakukan ibadah jauh melihat ke atas sampai mereka melupakan keadaan yang ada disekitarnya, dia tidak mampu melihat kehadiran Allah ada disekitarnya. Konsep spritualitas yang hanya fokus akan ‘aku’ dan Allah dan melupakan sesama akan semakin menjauhkan diri kita dari kasih karunia Allah. 
Berita keselamatan yang disampaikan Allah melalui nats ini mengarahkan kembali umat Allah untuk memasuki ibadah yang benar-benar memiliki semangat kasih yang utuh dan jika tidak demikian maka itu adalah kemunafikan. Munafik dalam hal ini adalah ketidak jujuran dihadapan Allah. Adalah tindakan yang bodoh jika ada orang Kristen yang mau mencoba bermain-main dengan bersandiwara kepada Tuhan dengan harapan dapat menyelamatkan hidupnya, sementara dia sedang berhadapan dengan Allah yang Maha mengetahui. 
Bagaimana mungkin berkat penyertaan Allah bekerja dalam hidup kita jika kita sendiri tidak jujur di hadapan Allah. Dalam nats kita dikatakan “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati”. Ibadah selayaknya semakin membawa kita mengenal Allah melalui FirmanNya yang kita pergumulkan dan pelajari untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan bukan menonjolkan citra diri yang membawa pada kesombongan rohani. 
Adalah hal wajar jika umat Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak mengindahkan dan memperhatikan ibadah yang mereka lakukan, sebab sampai kapanpun mereka tidak akan mendapat tuntunan Tuhan dalam hidup mereka sebab motivasi ibadah dan perilaku yang mereka lakukan hakikatnya jauh dari ibadah sesungguhnya yang di inginkan oleh Tuhan. 

Ibadah yang kita laksanakan bukanlah untuk menambah pahala ataupun poin namun semakin kita sering memasuki ibadah kepada Tuhan kita akan semakin diperbaharui di dalam FirmanNya untuk memampukan kita menjadi anak Allah di tengah-tengah dunia ini yang walaupun kita berjalan di tanah yang kering namun tuntunan Tuhan selalu memperbaharui kekuatan kita menjalani hidup. Kehadiran hidup kita ditengah-tengah dunia ini seperti taman yang baik yang memberika kesejukan dan keindahan dan juga seperti mata air yang tidak berkesudahan. Tuntunan Tuhan akan nyata dalam hidup ketika kita senantiasa memperbaharui hidup dengan FirmanNya.


No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Popular Posts

Ibadah yang Sejati (Yesaya 58: 9-14)

Bacaan Firman Tuhan: Yesaya 58: 9-14; Lukas 13:10-17
Dalam konteks nats ini dapat dilihat bahwa nubuat akan kedatangan Mesias dalam hal penghiburan kepada umat akan segera dihadirkan. Keselamatan itu hanya bagi umat yang mau meninggalkan kemunafikan dan bagi umat yang menjalankan ibadah yang benar. Praktek peribadahan yang mereka lakukan telah merusak kekudusan ibadah itu sendiri, mereka melakukan puasa namun sambil berbantah dan berkelahi dan menghina hukum sabat dengan melakukan urusan pada hari itu sehingga menghilangkan makna ibadah dan puasa yang sesungguhnya. 

Dalam Lukas 13:10-17 Tuhan Yesus telah menentang kekakuan pelaksanaan hari sabat namun sabat itu adalah menghormati kekudusan Tuhan dengan melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan pelepasan. Martin Luther mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah harta yang menguduskan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan baik perkataan maupun perbuatan yang di dasarkan pada Firman Allah adalah hal kudus di hadapan Allah.

Jika umat Israel ketika itu bertanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?” “Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (Yes. 58: 3). Bahwa ternyata ada yang salah dengan ibadah puasa yang mereka lakukan. Mereka melakukan ibadah jauh melihat ke atas sampai mereka melupakan keadaan yang ada disekitarnya, dia tidak mampu melihat kehadiran Allah ada disekitarnya. Konsep spritualitas yang hanya fokus akan ‘aku’ dan Allah dan melupakan sesama akan semakin menjauhkan diri kita dari kasih karunia Allah. 
Berita keselamatan yang disampaikan Allah melalui nats ini mengarahkan kembali umat Allah untuk memasuki ibadah yang benar-benar memiliki semangat kasih yang utuh dan jika tidak demikian maka itu adalah kemunafikan. Munafik dalam hal ini adalah ketidak jujuran dihadapan Allah. Adalah tindakan yang bodoh jika ada orang Kristen yang mau mencoba bermain-main dengan bersandiwara kepada Tuhan dengan harapan dapat menyelamatkan hidupnya, sementara dia sedang berhadapan dengan Allah yang Maha mengetahui. 
Bagaimana mungkin berkat penyertaan Allah bekerja dalam hidup kita jika kita sendiri tidak jujur di hadapan Allah. Dalam nats kita dikatakan “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati”. Ibadah selayaknya semakin membawa kita mengenal Allah melalui FirmanNya yang kita pergumulkan dan pelajari untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan bukan menonjolkan citra diri yang membawa pada kesombongan rohani. 
Adalah hal wajar jika umat Israel mempertanyakan mengapa Tuhan tidak mengindahkan dan memperhatikan ibadah yang mereka lakukan, sebab sampai kapanpun mereka tidak akan mendapat tuntunan Tuhan dalam hidup mereka sebab motivasi ibadah dan perilaku yang mereka lakukan hakikatnya jauh dari ibadah sesungguhnya yang di inginkan oleh Tuhan. 

Ibadah yang kita laksanakan bukanlah untuk menambah pahala ataupun poin namun semakin kita sering memasuki ibadah kepada Tuhan kita akan semakin diperbaharui di dalam FirmanNya untuk memampukan kita menjadi anak Allah di tengah-tengah dunia ini yang walaupun kita berjalan di tanah yang kering namun tuntunan Tuhan selalu memperbaharui kekuatan kita menjalani hidup. Kehadiran hidup kita ditengah-tengah dunia ini seperti taman yang baik yang memberika kesejukan dan keindahan dan juga seperti mata air yang tidak berkesudahan. Tuntunan Tuhan akan nyata dalam hidup ketika kita senantiasa memperbaharui hidup dengan FirmanNya.


Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Khotbah Minggu dengan judul Ibadah yang Sejati (Yesaya 58: 9-14) . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://sukacitamu.blogspot.com/2013/08/yesaya-58-9-14-ibadah-yang-sejati.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Pdt. Porisman D.M Lubis -

Belum ada komentar untuk " Ibadah yang Sejati (Yesaya 58: 9-14) "