Habakuk 3:10-19 Bergembira di Dalam Tuhan
Habakuk melihat kejahatan umat Tuhan di Yehuda dan memohon kepada Tuhan supaya bertindak, namun Tuhan menjawab doanya dengan cara yang tidak terduga yaitu dengan membawa Babel ke Yehuda untuk mendisiplinkan umatNya. Dari sudut pandang manusia penjajahan adalah sebuah penderitaan, tetapi itu semua adalah pekerjaan Tuhan dengan memakai bangsa yang jahat untuk menghukum umatNya. Bagi Habakuk mempertanyakan cara Tuhan untuk menghukum umatNya, bagaimana mungkin Tuhan yang baik memakai bangsa yang paling jahat yang memperlakukan manusia seperti binatang. Tetapi Tuhan menjawab bahwa walaupun Tuhan memakai bangsa Babel yang jahat bukan berarti Tuhan menyetujui kejahatan Babel, sebab Tuhan yang adil akan menuntut pertanggungjawaban semua bangsa-bangsa yang sama dengan mereka.
Dalam
pasal 3 kita akan menjumpai doa Habakuk yang memohon supaya Tuhan segera
bertindak seperti yang dilakukan Tuhan pada masa lalu yang menjatuhkan
bangsa-bangsa yang jahat. Habakuk menaikkan puji-pujian kepada Tuhan yang
mengungkapkan pengharapannya kepada Tuhan, bahwa sekalipun dunia ini hancur
karena peperangan, kelaparan, kekeringan dan apapun juga, ia akan tetap percaya
dan bersukacita menanti-nantikan janji Tuhan. Dunia ini bisa menjadi kelam dan
kacau, namun kitab Habakuk mengajak kita untuk tetap percaya kepada Tuhan yang
mengasihi semua orang yang taat, sebab suatu saat Tuhan akan mengalahkan
kejahatan yang ada di dunia ini.
Dikatakan
dalam nas ini “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil
pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan
makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam
kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah
yang menyelamatkanaku” Orang yang berpengharapan kepada Tuhan telah
siap berhadapan dengan situasi terburuk sekalipun, sebab kita dalam diri kita
telah ada keyakinan yang kuat bahwa semuanya itu dapat dilalui bersama kuasa
pertolongan Tuhan.
Sekalipun
kesusahan itu datang, orang yang berpengharapan dapat bersorak-sorai
sebagaimana tertulis di Roma 12: 12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah
dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”. Dalam perjalanan
kehidupan ini kita tetap dapat bersukacita bukan karena materi, harta,
kehormatan yang ada dalam dunia ini, namun karena kita memiliki Tuhan yang
berkuasa atas kehidupan. Kita bersukacita adalah di dalam Tuhan, bukan di dalam
harta, kehormatan dan kenikmatan dunia.
Kita
memiliki janji dan pengharapan yang tidak akan mengecewakan di dalam Tuhan kita
Yesus Kristus. Kita mau untuk membangun kehidupan di atas pengharapan yang
takkan tergoyahkan. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa
kita (Ibrani 6: 19-20), pengharapan kita kepada Tuhan Yesus akan mengokohkan
posisi kita di badai kehidupan yang dapat mendera perahu kita.
Pengharapan
di dalam Tuhan, adalah sauh yang kuat untuk tidak putus harapan, untuk tidak
tawar hati, untuk tidak berputus asa, untuk tidak diatur oleh ketakutan, untuk
tidak ditenggelamkan oleh penderitaan.
Sehingga
di dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu memohonkan kepada Tuhan untuk
selalu memenuhi kita dengan berlimpah-limpah pengharapan (Roma 15: 13). Setiap
saat dalam kehidupan ini tetap mengisi dan membangun hidup kita dengan iman
pengharapan kepada Tuhan, supaya pada saat yang tidak terduga terjadi dalam
hidup ini, kita sudah siap kokoh berdiri mengandalkan kekuatan dari Tuhan.
Sebagaimana
pengajaran Tuhan Yesus tentang dua macam dasar (Matius 7: 24-27)., siapakah
dari kita yang mendirikan di atas batu? Dan siapakah kita yang mendirikan rumah
di atas pasir? Siapakah dari kita yang bijaksana yang membangun kehidupannya di
atas dasar iman pengharapan kepada Tuhan tetap dapat kokoh berdiri ketika badai
angin, hujan dan banjir itu datang. Kita tidak akan ditenggelamkan oleh
kesusahan yang tidak terduga itu datang, sebab jauh hari kita telah membangunan
hidup kita di atas dasar yang kuat.
Dan
hendaklah kita juga ingat peringatan Tuhan Yesus “Bukan setiap orang yang
berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku
yang di sorga” (Matius 7: 21). Jangan setelah kesusahan itu datang kita baru
tahu untuk berteriak “Tuhan”, padahal ketika suasana tenang seakan kita tidak
membutuhkan Tuhan, bahkan seperti orang yang tidak mengenal Tuhan dalam hidup
kita.
Kita
bertekun dalam hidup rohani bukanlah hanya sekedar berpengharapan akan
kehidupan kekal yang akan disediakan oleh Tuhan bagi setiap orang yang percaya,
namun kita percaya bahwa ketekunan kita dalam iman adalah hal yang berguna bagi
kehidupan kita juga dalam dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata
“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari
mulut Allah”.
No comments :
Post a Comment