Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Friday, February 21, 2025

Matius 5: 38-48 Mengasihi Musuh

Renungan Minggu Sexagesima, 23 Februari 2025

“Mengasihi Musuh” – Matius 5: 38-48

Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (17). Tuhan Yesus hendak menjelaskan kembali makna dari hukum taurat yang sesungguhnya yaitu kasih, kebenaran dan kemurahan hati. Tetapi para ahli taurat menetapkan 613 peraturan sebagai teknis pelaksanaan hukum taurat yang justru mengaburkan makna hukum taurat yang sesungguhnya. Mereka seolah-olah melakukan hukum taurat, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka melakukan perintah manusia. Maka Tuhan Yesus memberikan penjelasan tentang makna yang sebenarnya dari beberapa hukum taurat. Dalam nas bagi kita minggu ini, ada dua contoh, yaitu:

1.       Mengampuni dan bermurah hati (38-42)

Para rabi Yahudi bahwa hubungan dengan sesama manusia boleh mempraktekkan hukum pembalasan dengan dasar Imamat 24: 20 dst. “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Padahal imamat 24 bukan berbicara tentang hubungan personal tetapi tentang  hak pemerintah untuk menghukum, sebab kepada pemerintah telah diberikan hak menghukum untuk melindungi masyarakat dari kejahatan. Tetapi rabi Yahudi telah menyalahgunakan hak pemerintah ini untuk dipakai kepada hubungan perseorangan. Maka Tuhan Yesus menjelaskan hukum yang sebenarnya tentang hubungan antar sesama “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Tuhan Yesus mau mengajarkan supaya kita mau untuk mengampuni kesalahan orang lain dan tidak membalas. Bahkan lebih dari itu Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita bermurah hati kepada siapapun dengan rela berkorban.

2.       Mengasihi sesama manusia bahkan mengasihi musuh (43-47)

Dalam Imamat 19:18 dikatakan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, sesama manusia termasuk orang asing dan musuh. Tetapi pengajaran lisan yang diajarkan oleh rabi Yahudi adalah “kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Sehingga pengajaran yang sampai kepada orang Yahudi bahwa perintah mengasihi hanya berlaku bagi sesama dalam satu golongan. Maka Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia dengan menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan kepada semua orang. Tuhan Yesus menjelaskan lagi bahwa jika kasih hanya kepada sesama golongan, kita sama saja dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, sebab mereka juga mengasihi sesama golongannya.

Tuhan Yesus mengakhiri penjelasanNya tentang hukum taurat dengan berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (38). Melalui hidup dan pelayanan Tuhan Yesus telah memberikan kita teladan bagaimana mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan sempurna. Sehingga muncullah pertanyaan: “mungkinkah kita dapat menjadi sempurna seperti Bapa yang disorga?”; “Mungkinkah kita bisa “sama” seperti Allah Bapa?” Jawabannya adalah “sangat mungkin” dan memang harus demikianlah. Sebab ini adalah panggilan kita sebagai umat Tuhan, bahwa kita adalah “segambar dengan Allah” (Kejadian 1:26) – “hidup sama seperti Kristus” (1 Petrus 2:6). Pikiran dan perasaan ketidakmungkinan itu muncul adalah karena kita salah atau kurang memahami maksud Tuhan untuk menjadi sempurna. Ketidakmungkinan untuk menjadi sama seperti Kristus jangan menjadi alasan kita mengabaikan firman Tuhan untuk dilakukan. Tetapi, “menjadi sama seperti Kristus” adalah kompas untuk menunjuk arah dan magnet yang akan menarik kita menuju kehidupan yang kudus dan sempurna. Amin

No comments :

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Blog Archive

Popular Posts

Matius 5: 38-48 Mengasihi Musuh

Renungan Minggu Sexagesima, 23 Februari 2025

“Mengasihi Musuh” – Matius 5: 38-48

Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (17). Tuhan Yesus hendak menjelaskan kembali makna dari hukum taurat yang sesungguhnya yaitu kasih, kebenaran dan kemurahan hati. Tetapi para ahli taurat menetapkan 613 peraturan sebagai teknis pelaksanaan hukum taurat yang justru mengaburkan makna hukum taurat yang sesungguhnya. Mereka seolah-olah melakukan hukum taurat, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka melakukan perintah manusia. Maka Tuhan Yesus memberikan penjelasan tentang makna yang sebenarnya dari beberapa hukum taurat. Dalam nas bagi kita minggu ini, ada dua contoh, yaitu:

1.       Mengampuni dan bermurah hati (38-42)

Para rabi Yahudi bahwa hubungan dengan sesama manusia boleh mempraktekkan hukum pembalasan dengan dasar Imamat 24: 20 dst. “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Padahal imamat 24 bukan berbicara tentang hubungan personal tetapi tentang  hak pemerintah untuk menghukum, sebab kepada pemerintah telah diberikan hak menghukum untuk melindungi masyarakat dari kejahatan. Tetapi rabi Yahudi telah menyalahgunakan hak pemerintah ini untuk dipakai kepada hubungan perseorangan. Maka Tuhan Yesus menjelaskan hukum yang sebenarnya tentang hubungan antar sesama “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Tuhan Yesus mau mengajarkan supaya kita mau untuk mengampuni kesalahan orang lain dan tidak membalas. Bahkan lebih dari itu Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita bermurah hati kepada siapapun dengan rela berkorban.

2.       Mengasihi sesama manusia bahkan mengasihi musuh (43-47)

Dalam Imamat 19:18 dikatakan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, sesama manusia termasuk orang asing dan musuh. Tetapi pengajaran lisan yang diajarkan oleh rabi Yahudi adalah “kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Sehingga pengajaran yang sampai kepada orang Yahudi bahwa perintah mengasihi hanya berlaku bagi sesama dalam satu golongan. Maka Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia dengan menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan kepada semua orang. Tuhan Yesus menjelaskan lagi bahwa jika kasih hanya kepada sesama golongan, kita sama saja dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, sebab mereka juga mengasihi sesama golongannya.

Tuhan Yesus mengakhiri penjelasanNya tentang hukum taurat dengan berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (38). Melalui hidup dan pelayanan Tuhan Yesus telah memberikan kita teladan bagaimana mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan sempurna. Sehingga muncullah pertanyaan: “mungkinkah kita dapat menjadi sempurna seperti Bapa yang disorga?”; “Mungkinkah kita bisa “sama” seperti Allah Bapa?” Jawabannya adalah “sangat mungkin” dan memang harus demikianlah. Sebab ini adalah panggilan kita sebagai umat Tuhan, bahwa kita adalah “segambar dengan Allah” (Kejadian 1:26) – “hidup sama seperti Kristus” (1 Petrus 2:6). Pikiran dan perasaan ketidakmungkinan itu muncul adalah karena kita salah atau kurang memahami maksud Tuhan untuk menjadi sempurna. Ketidakmungkinan untuk menjadi sama seperti Kristus jangan menjadi alasan kita mengabaikan firman Tuhan untuk dilakukan. Tetapi, “menjadi sama seperti Kristus” adalah kompas untuk menunjuk arah dan magnet yang akan menarik kita menuju kehidupan yang kudus dan sempurna. Amin

Artikel Terkait

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Khotbah Minggu / Matius dengan judul Matius 5: 38-48 Mengasihi Musuh . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://sukacitamu.blogspot.com/2025/02/matius-5-38-48-mengasihi-musuh.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: Porisman Lubis -

Belum ada komentar untuk " Matius 5: 38-48 Mengasihi Musuh "