Renungan Minggu Sexagesima, 23 Februari 2025
“Mengasihi Musuh” – Matius 5:
38-48
Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (17). Tuhan Yesus hendak menjelaskan kembali makna dari hukum taurat yang sesungguhnya yaitu kasih, kebenaran dan kemurahan hati. Tetapi para ahli taurat menetapkan 613 peraturan sebagai teknis pelaksanaan hukum taurat yang justru mengaburkan makna hukum taurat yang sesungguhnya. Mereka seolah-olah melakukan hukum taurat, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka melakukan perintah manusia. Maka Tuhan Yesus memberikan penjelasan tentang makna yang sebenarnya dari beberapa hukum taurat. Dalam nas bagi kita minggu ini, ada dua contoh, yaitu:
1. Mengampuni dan bermurah hati (38-42)
Para rabi Yahudi bahwa hubungan dengan sesama
manusia boleh mempraktekkan hukum pembalasan dengan dasar Imamat 24: 20 dst. “Mata
ganti mata dan gigi ganti gigi”. Padahal imamat 24 bukan berbicara tentang hubungan
personal tetapi tentang hak pemerintah
untuk menghukum, sebab kepada pemerintah telah diberikan hak menghukum untuk
melindungi masyarakat dari kejahatan. Tetapi rabi Yahudi telah menyalahgunakan
hak pemerintah ini untuk dipakai kepada hubungan perseorangan. Maka Tuhan Yesus
menjelaskan hukum yang sebenarnya tentang hubungan antar sesama “siapapun yang
menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Tuhan Yesus mau
mengajarkan supaya kita mau untuk mengampuni kesalahan orang lain dan tidak
membalas. Bahkan lebih dari itu Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita bermurah
hati kepada siapapun dengan rela berkorban.
2. Mengasihi sesama manusia bahkan mengasihi musuh (43-47)
Dalam Imamat
19:18 dikatakan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, sesama
manusia termasuk orang asing dan musuh. Tetapi pengajaran lisan yang diajarkan
oleh rabi Yahudi adalah “kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Sehingga
pengajaran yang sampai kepada orang Yahudi bahwa perintah mengasihi hanya
berlaku bagi sesama dalam satu golongan. Maka Tuhan Yesus menjelaskan bahwa
Allah tidak membeda-bedakan manusia dengan menerbitkan matahari dan
mendatangkan hujan kepada semua orang. Tuhan Yesus menjelaskan lagi bahwa jika
kasih hanya kepada sesama golongan, kita sama saja dengan orang yang tidak
mengenal Tuhan, sebab mereka juga mengasihi sesama golongannya.
Tuhan Yesus
mengakhiri penjelasanNya tentang hukum taurat dengan berkata “Karena itu
haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (38).
Melalui hidup dan pelayanan Tuhan Yesus telah memberikan kita teladan bagaimana
mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan sempurna. Sehingga muncullah
pertanyaan: “mungkinkah kita dapat menjadi sempurna seperti Bapa yang disorga?”;
“Mungkinkah kita bisa “sama” seperti Allah Bapa?” Jawabannya adalah “sangat
mungkin” dan memang harus demikianlah. Sebab ini adalah panggilan kita sebagai
umat Tuhan, bahwa kita adalah “segambar dengan Allah” (Kejadian 1:26) – “hidup
sama seperti Kristus” (1 Petrus 2:6). Pikiran dan perasaan ketidakmungkinan itu
muncul adalah karena kita salah atau kurang memahami maksud Tuhan untuk menjadi
sempurna. Ketidakmungkinan untuk menjadi sama seperti Kristus jangan menjadi
alasan kita mengabaikan firman Tuhan untuk dilakukan. Tetapi, “menjadi sama
seperti Kristus” adalah kompas untuk menunjuk arah dan magnet yang akan menarik
kita menuju kehidupan yang kudus dan sempurna. Amin
No comments :
Post a Comment