Khotbah dan Renungan Kristen

Kumpulan Bahan dan Khotbah Kristen terbaru, Kumpulan renungan kristen, Ilustrasi Khotbah, Ayat Emas Alkitab, Kumpulan Gambar Tuhan Yesus Kristus

Showing posts with label Penyertaan Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Penyertaan Tuhan. Show all posts

Saturday, December 27, 2025

2 Tesalonika 3:16-18 Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

 2 Tesalonika 3:16-18 Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

Pendahuluan

Jemaat Tesalonika yang merupakan bayi rohani yang terdiri dari orang-orang yang dulunya penyembah berhala di daerah wilayah kekaisaran Romawi sedang bergumul untuk mengerti identitas mereka di dalam Kristus dan juga bagaimana hidup sebagai anak Tuhan dalam kebudayaan masyarakat yang bermusuhan dengan mereka. Jemaat Tesalonika berada pada situasi yang sangat kritis karena di saat mereka menghadapi penganiayaan mereka juga harus berhadapan kebingunan tentang ajaran kekristenan tentang kedatangan Kristus. Sehingga ada dari antara jemaat yang salah memahami tentang kedatangan Kristus menjadi berhenti bekerja, bermalas-malasan dan perilaku yang tidak teratur. Dalam situasi yang seperti inilah Paulus sebagai bapa rohani bagi jemaat Tesalonika meneguhkan iman jemaat melalui nasehat dan juga pengajaran yang benar tentang iman di dalam Yesus Kristus. 2 Tesalonika 3: 16-18 adalah penutup surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Tesalonika yang merupakan sebuah doa supaya Tuhan mengaruniakan damai sejahtera dan kasih karunia dari Tuhan selalu menyertai jemaat Tesalonika.

Tuesday, April 16, 2024

Yohanes 10: 11-18 Yesus Gembala Yang Baik

 Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 10: 11-18

Yesus Gembala Yang Baik

Yesus memperkenalkan diriNya dan menjelaskan tujuanNya datang ke dunia ini dengan perumpamaan tentang gembala dan domba yang digembalakannya. Secara khusus dalam nas ini, Tuhan Yesus menjelaskan diriNya dengan memperlihatkan perbedaan yang kelihatan antara gembala yang menggembalakan domba miliknya dengan gembala upahan.

Thursday, August 10, 2023

Kejadian 39: 1-5 Menjadi Berkat di Dalam Tuhan

Renungan Minggu X Setelah Trinitatis

“Menjadi Berkat Di Dalam Tuhan” – Kejadian 39: 1-5 

Monday, February 7, 2022

Yeremia 17:5-10 Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan

 Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 17: 5-10

Yeremia menghadapi Yehuda yang sudah melakukan dosa di hadapan Allah. Sebagai peringatan kepadanya, Allah berfirman bahwa Yehuda akan menjadi budak di negeri yang tidak dikenal. Pelanggaran Yehuda sangat nyata di hadapan Allah. Mereka lebih mengandalkan kekuatan sendiri yang menjauhkan hati mereka dari Allah. Hidup mereka digambarkan sebagai semak bulus di padang belantara: tidak mengalami kebaikan, seperti tinggal di tanah tandus. Semua ini menjadi lambang kehancuran dan penderitaan. Namun, umat yang mengandalkan Allah akan diberkati. Hidup mereka seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air (ay. 8).

Kondisi ini diserukan Yeremia kepada Yehuda agar mereka mengerti bahwa mereka harus lebih mengandalkan Allah daripada kekuatan mereka sendiri. Dengan mengandalkan Allah, tidak akan dijumpai adanya hati yang menjauh dari Allah dan penuh kelicikan. Sebaliknya hal itu akan menjadikan mereka memliki hati yang baik yang akan melahirkan kebaikan-kebaikan juga dalam hidup mereka, hati yang selalu melekat pada Allah, itulah yang dikendaki. Yehuda juga harus menjaga hati mereka agar tetap melekat pada Allah karena pada dasarnya Allah mengetahui setiap hal yang ada di dalam hati umat (ay. 10). Hati yang menjauh akan menimbulkan dosa dan kejahatan yang akan melahirkan murka Allah pada umat. 

Beberapa kata kunci yang dapat kita renungkan melalui nas ini:

Kutuk (ayat 5-6)

Dosa akan menjadi kutuk bagi setiap orang, sebagaimana yang tertulis dalam Roma 6:23 “upah dosa adalah maut”. Bangsa Yehuda berdosa kepada Tuhan karena mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri (manusia) daripada mengandalkan Tuhan. Mereka digambarkan seperti semak di padang belantara yang tinggal di tanah yang angus di padang gurun di padang asin yang tidak berpenduduk. Ini menggambarkan kehidupan orang mengandalkan dirinya sendiri dan tidak mengandalkan Tuhan. Walaupun semak bulus itu memiliki kemampuan untuk bertumbuh sendiri, tetapi lingkungan tanah dan cuaca tidak akan mendukungnya dalam pertumbuhannya, sehingga akhirnya semak bulus itu akan mati.

Maka demikianlah orang yang mengandalkan dirinya sendiri, merasa dirinya mampu, pintar, kuat untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Apa yang dia rencanakan dan kerjakan tidak pernah dipertimbangkannya apakah itu berkenan kepada Tuhan atau tidak, dan dia juga tidak pernah menyerahkan hidupnya dalam pemeliharaan Tuhan. Maka orang yang tidak mengandalkan Tuhan berarti merendahkan Tuhan dalam hidupnya.

Ketika kita mengandalkan diri sendiri, maka akan banyak hal-hal dalam dunia ini yang akan menarik, kita akan diombang-ambingkan oleh berbagai keinginan dan nafsu tanpa ada pengangan. Kita hanya akan semakin menyusahkan diri kita sendiri dan akhirnya menimbulkan berbagai dosa. Kita tidak lagi mempertimbangkan apa yang kita perbuat benar atau tidak yang penting kita hendak memuaskan keinginan daging yang justru akan menyesatkan kita.

Berkat (ayat 7-8)

Kebalikan dari orang yang berada dalam kutuk adalah orang yang berada dalam berkat Tuhan adalah orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dalam cuaca apapun daunnya tetap hijau dan terus menghasilkan buah. Hal ini terjadi karena pohon itu ditopang oleh sumber kehidupannya yaitu air yang terus mengalir. Tuhan kita Yesus Kristus adalah mata air kehidupan yang akan selalu memancar hingga hidup yang kekal (bnd. Yoh. 4: 14).

Orang yang diberkati oleh Tuhan bukan artinya hidupnya tidak akan menghadapi kesusahan dan penderitaan, tetapi orang yang diberkati oleh Tuhan adalah orang yang selalu disertai Tuhan untuk dapat melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kekusasahan tidak membuatnya menjadi layu dan mati, justru tetap dapat kuat dan terus bertumbuh dan berbuah karena dia selalu mengandalkan Tuhan yang menjadi kekuatan dan pertolongannya. Maka jika dikatakan "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan" artinya Tuhan memberikan kepada kita jaminan berkat penyertaanNya bagi kita untuk menghadapi berbagai hal dalam hidup kita ini, sekalipun yang kita hadapi adalah situasi yang sulit, tetapi ada Tuhan yang menyertai kita, sehingga ada kekuatan dan pengharapan bagi kita bahwa dalam kelemahan kita ada kuasa Tuhan yang tidak terbatas yang akan menopang kita.

Tuhan mengetahui isi hati (9-10)

Perenungan kita selanjutnya adalah apakah kita sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan? Disini Tuhan menjelaskan bahwa Tuhan mengetahui isi hati manusia, artinya Tuhan tahu kesungguhan kita mengandalkan Dia atau tidak, Tuhan tahu bagaimana kesungguhan kita untuk mau hidup dalam Tuhan. Jika kita membaca di ayat 1-4 Tuhan menjelaskan bahwa dosa-dosa bangsa Yehuda telah tertulis dalam loh hati mereka, maka mereka tidak bisa menyembunyikan dosa-dosa mereka dari hadapan Tuhan.

Demikianlah Tuhan tahu bagaimana kesungguhan kita di hadapan Tuhan, apakah kita benar-benar mengandalkan Tuhan atau justru sebaliknya kita mengandalkan diri kita, sebab Tuhan mengetahui isi hati kita.

Wednesday, December 29, 2021

Yeremia 29: 10-14 Rancangan Damai Sejahtera

Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 29: 10-14

Nabi Yeremia mengirimkan pesan kepada mereka yang terbuang di Babel supaya mereka dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Walaupun situasi hidup yang sulit tetapi mereka harus dapat memanfaatkan situasi yang sulit itu menjadi kebaikan dalam hidup mereka bahkan mereka harus menjadi berkat dimana mereka dibuang. Hal ini pasti bisa mereka lakukan sebab mereka yang terbuang ke Babel itu adalah orang-orang yang penting dalam suatu negeri. Mereka dibawa ke pembuangan supaya negeri mereka tidak bisa lagi terbangun karena semua orang-orang penting, tukang, pandai besi dan pegawai istana sudah terbuang ke Babel. Walaupun situasi hidup mereka sulit, tetapi mereka yang terbuang itu memiliki potensi untuk mampu bertahan dalam pembuangan.

Ayat 10-11. Nasehat ini menjadi penting sebab ada nabi-nabi palsu yang mengatakan bahwa pembuangan itu hanya sebentar saja dan Babel akan runtuh. Sehingga nabi Yeremia hendak menegaskan kembali rancangan Tuhan, bahwa mereka menjadi orang yang terbuang di Babel adalah hajaran Tuhan atas dosa-dosa mereka, tetapi hajaran itu bukanlah hajaran yang mencelakakan tetapi adalah hajaran damai sejahtera supaya hidup mereka lebih baik dimasa yang akan datang. Maka soal berapa lama mereka terbuang ada dalam rancangan Tuhan dan tidak ditentukan oleh mimpi-mimpi ataupun prediksi nabi-nabi palsu.

Ayat 12-14 dalam situasi yang sulit dalam pembuangan, nabi Yeremia juga menyampaikan firman Tuhan bahwa jika mereka terbuang bukan artinya mereka ditinggalkan oleh Tuhan tetapi justru sebaliknya itu semua adalah untuk kebaikan mereka. Walaupun mereka di pembuangan Tuhan tetap memperhatikan dan mendengar mereka. Apabila mereka berdoa, maka Tuhan akan mendengarkan dan apabila mereka mencari Tuhan maka mereka akan menemukan Tuhan. Hingga pada waktunya Tuhan akan memulihkan mereka. Mereka yang tetap taat dan tekun untuk taat kepada Tuhan dalam pembuangan pada saatnya akan menerima pemulihan dari Tuhan.

Renungan

      1.     Situasi yang dihadapi oleh orang Yahudi di pembuangan ini menjadi suatu pelajaran bagi kita ketika menghadapi pergumulan. Suara siapa yang akan kita dengarkan? Apakah kita akan mendengarkan suara nabi-nabi palsu yang terlalu menganggap sepele pergumulan yang kita hadapi atau mendengarkan pikiran negatif dalam pikiran kita yang menganggap Tuhan itu jauh dari kita, Tuhan itu tidak memperhatikan kita. atau apakah kita akan mendengarkan suara Tuhan supaya menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Bagaimanapun situasi kehidupan yang sudah kita lalui dan yang sedang terjadi dalam kehidupan saat ini, kita pasti mampu menghadapinya dan sanggap melaluinya jika kita selalu mendengarkan perintah Tuhan. Bisa muncul bisikan-bisikan yang membuat kita.

      2.     Rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Dari semua yang dapat kita pikirkan dan rencanakan di tahun yang baru yang hendak kita masuki, kita percaya bahwa rancangan Tuhan atas hidup kita adalah yang terbaik. Kita percaya Tuhan tahu bagaimana dan seperti apa kita sekarang ini dan apa yang menjadi harapan kita, tetapi diatas semuanya itu kita mau menundukkan diri dihadapan Tuhan dan memohon kepadaNya mewujudkan rencanaNya yang terbaik atas hidup kita.

     3.     Kehadiran Tuhan dalam hidup kita sungguh nyata, Tuhan berfirman bahwa adalah Tuhan yang mendengar dan Tuhan yang mau untuk ditemui. Dalam pergumulan dan harapan kita disepanjang perjalanan hidup ini ada Tuhan yang selalu ada untuk mendengar doa kita dan yang selalu bersedia untuk ditemui.

Monday, July 19, 2021

2 Raja-raja 4: 42-44 Allah Memelihara UmatNya

 Bacaan Firman Tuhan: 2 Raja-raja 4: 42-44

Dalam kitab 2 Raja-raja 4 kita dapat melihat berbagai mujizat yang Tuhan perbuat melalui pelayanan nabi Elisa. Pemeliharaan Tuhan kepada keluarga janda (1-7), melepaskan perempuan Sunem dari penderitaannya karena tidak memiliki anak dan juga mujizat menghidupkan kembali anaknya yang telah mati (8-37), melepaskan rombongan nabi dari makanan beracun (38-41) dan dalam nas renungan kita saat ini tentang mencukupkan makanan yang sedikit untuk dapat dimakan seratus orang bahkan masih ada sisanya (42-44).

Hal ini memberikan kepada kita suatu penglihatan akan kuasa Allah ditengah-tengah kehidupan kita. Ada beragam pergumulan, namun Tuhan mengetahui dan Tuhan sanggup untuk melepaskan kita dari berbagai pergumulan kita dan cara-cara Tuhan memberikan kelepasan adalah dengan hal-hal yang tidak terduga. Namun yang patut kita perhatikan bahwa mujizat Tuhan terjadi ketika abdi Allah yaitu Elisa ada dalam pergumulan itu. Artinya bahwa kita percaya bahwa ada penyertaan dan pertolongan Tuhan diantara orang-orang yang selalu beserta dengan Tuhan, ketika kita tetap mau untuk tunduk dan taat kepada perintah Tuhan, maka akan selalu ada pertolongan Tuhan.

Ketika seorang dari Baal-Salisa datang kepada Elisa membawa roti hulu, dua puluh roti jelai dan gandum baru, Elisa memerintahkan agar pelayannya membagikannya, namun pelayannya itu merasa kesulitan untuk membagikannya, karena bagaimana mungkin itu cukup untuk dibagikan kepada seratus orang. Namun Elisa meyakinkan pelayannya itu bahwa itu akan cukup karena Tuhan yang sudah berfirman bahwa makanan itu akan cukup bahkan akan ada sisanya.

Kita teringat dengan mujizat yang jauh lebih besar lagi sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus kepada lima ribu orang dan masih sisa dua belas bakul lagi. Sesungguhnya Tuhan memperhatikan dan mencukupkan kebutuhan orang-orang yang mengikutiNya. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Tuhan pasti memelihara orang-orang yang percaya kepadaNya. 

Beberapa hal yang bisa kita renungkan melalui nas ini:

             1.     Tuhan punya banyak cara untuk memelihara hidup kita

Dari nas ini kita dapat melihat bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan hidup Elisa dan rombongan nabi-nabi dengan mendatangkan seorang Baal-Salisa untuk membawa makanan kepada mereka. Maka kita diigatkan untuk menghidupi keyakinan bahwa Allah tahu kebutuhan hidup kita, Dia tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang kita perlukan. Tuhan punya banyak jalan dan cara untuk memberkati kehidupan kita, jangan kita hanya bersandar pasrah pada pikiran dan kemampuan kita yang terbatas, tetapi tetaplah berjalan dan lakukan segala sesuatu yang kita mampu lakukan, selebihnya percayakan kepada Tuhan yang berkuasa atas kehidupan ini. Dia bisa membuka jalan, cara maupun mengutus orang-orang yang mau memberikan kita pertolongan. Ada banyak cara Tuhan memberkati perjalanan hidup kita.

             2.     Jangan kawatir akan hidupmu

Melihat kekawatiran pelayan nabi Elisa untuk membakikan makanan karena tidak akan cukup, hal ini menggambarkan bagaimana keterbatasan kita manusia. Secara pertimbangan pikiran memang makanan itu tidak cukup maka wajar jika pelayan itu kawatir, tetapi disinilah kuasa Tuhan bekerja dalam memelihara hidup mereka, bahwa yang sedikit itu dapat dicukupkan bahkan dilebihkan oleh Tuhan bagi mereka.

Pikiran-pikiran seperti ini bisa muncul dalam kehidupan kita. jika dari pertimbangan pikiran bagaimana penghasilan yang sedikit dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, untuk makan, transportasi, biaya listrik, air, dan lain sebagainya. Namun tanpa kita sadari bahwa Tuhan itu sungguh baik dan penuh rahmat dalam hidup kita, Dia selalu mencukupkan kebutuhan hidup kita diluar kemampuan dan logika kita. Maka kita diajak untuk tidak pernah kawatir akan kehidupan kita, walaupun sedikit tetapi jika kita memakainya dengan rasa syukur kepada Tuhan, maka yang sedikit itu akan menjadi berkat dalam hidup kita. Ada yang berkata “saya bisa apa”; “aku tidak mampu”, banyak orang yang menyerah dengan keadaan karena mempertimbangkan kemampuannya, dia tidak jauh mempertimbangkan bahwa ada Tuhan yang dapat memberkati setiap orang dalam keterbatasannya. Jika semua yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keyakinan akan penyertaan Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan ada bersama kita dalam menyempurnakan segala kelemahan kita.

              3.     Taat kepada perintah Tuhan

Dalam kekawatiran pelayan itu untuk membagikan makanan, Elisa meneguhkannya bahwa apa yang akan diperbuatnya itu bukanlah seperti yang dipikirkannya tetapi akan terjadi seperti kehendak Tuhan. Kita percaya bahwa ketika kita mau untuk taat pada apa yang diperintahkan oleh Tuhan, maka rencana Tuhan yang terbaik atas hidup kita akan terjadi.

Kita dapat melihat bagaimana keyakinan Elisa dan juga keteguhannya meyakinkan hambanya didasarkan atas apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Kita diingatkan kembali ketika Tuhan Yesus mengatakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Maka dasar keyakinan kita adalah firman Allah, itulah yang memberikan kehidupan kepada kita. Yang dapat menjamin kehidupan kita hanyalah Tuhan. Sehingga jika kita ingin hidup, carilah Tuhan bukan mencari roti, karena dengan sendirinya orang yang mencari Tuhan sudah mendapatkan roti, sebab sumber roti yang menjadi kebutuhan fisik kita berasal dari firman yang keluar dari mulut Allah. Sebagaimana juga yang dikatakan Tuhan Yesus: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Yang pertama adalah iman, doa, pengharapan bahwa kita yakin yang kita perlukan untuk hidup kita ada pada Tuhan. Maka apapun yang sedang kita usahakan, rencanakan, butuhkan, inginkan harus memiliki dasar yang jelas. Jika kita ingin menikmati berkat yang melimpah jangan cari buahnya, tetapi carilah pohonnya yang adalah sumber dari buahnya. 

Tuesday, February 23, 2021

Roma 4:13-25 Allah Memperhitungkan Iman Orang Percaya

 Bacaan Firman Tuhan: Roma 4:13-25

Disini rasul Paulus menjelaskan pembenaran oleh iman itu dengan mencontohkan bagaimana Abraham dibenarkan Allah oleh karena imannya. Abraham dibenarkan bukan karena menaati hukum taurat, tetapi karena imannya kepada Tuhan. Walaupun janji Tuhan kepada Abraham kelihatannya mustahil terjadi, namun Abraham mempercayai janji Tuhan. 

Friday, November 13, 2020

Yeremia 29:1-7 Krisis Menjadi Berkat

 Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 29: 1-7

Kota Dubai di Uni Emirat Arab saat ini telah dikenal menjadi destinasi wisata modern yang diminati diseluruh dunia. Mereka berhasil untuk mengubah keadaan mereka dari padang gurun yang tandus karena mereka ketersediaan minyak yang sudah menipis. Mereka mampu untuk menggunakan krisis menjadi berkat. Kita juga bisa banyak belajar dari banyak tokoh-tokoh sukses, yang mana mereka terdorong menjadi sukses adalah karena kepahitan hidup mereka.

About Metro

Powered by Blogger.

Popular Posts

Followers

Blog Archive

Popular Posts

Showing posts with label Penyertaan Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Penyertaan Tuhan. Show all posts
 2 Tesalonika 3:16-18 Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

2 Tesalonika 3:16-18 Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

 2 Tesalonika 3:16-18 Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

Pendahuluan

Jemaat Tesalonika yang merupakan bayi rohani yang terdiri dari orang-orang yang dulunya penyembah berhala di daerah wilayah kekaisaran Romawi sedang bergumul untuk mengerti identitas mereka di dalam Kristus dan juga bagaimana hidup sebagai anak Tuhan dalam kebudayaan masyarakat yang bermusuhan dengan mereka. Jemaat Tesalonika berada pada situasi yang sangat kritis karena di saat mereka menghadapi penganiayaan mereka juga harus berhadapan kebingunan tentang ajaran kekristenan tentang kedatangan Kristus. Sehingga ada dari antara jemaat yang salah memahami tentang kedatangan Kristus menjadi berhenti bekerja, bermalas-malasan dan perilaku yang tidak teratur. Dalam situasi yang seperti inilah Paulus sebagai bapa rohani bagi jemaat Tesalonika meneguhkan iman jemaat melalui nasehat dan juga pengajaran yang benar tentang iman di dalam Yesus Kristus. 2 Tesalonika 3: 16-18 adalah penutup surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Tesalonika yang merupakan sebuah doa supaya Tuhan mengaruniakan damai sejahtera dan kasih karunia dari Tuhan selalu menyertai jemaat Tesalonika.

Yohanes 10: 11-18 Yesus Gembala Yang Baik

Yohanes 10: 11-18 Yesus Gembala Yang Baik

 Bacaan Firman Tuhan: Yohanes 10: 11-18

Yesus Gembala Yang Baik

Yesus memperkenalkan diriNya dan menjelaskan tujuanNya datang ke dunia ini dengan perumpamaan tentang gembala dan domba yang digembalakannya. Secara khusus dalam nas ini, Tuhan Yesus menjelaskan diriNya dengan memperlihatkan perbedaan yang kelihatan antara gembala yang menggembalakan domba miliknya dengan gembala upahan.

Kejadian 39: 1-5 Menjadi Berkat di Dalam Tuhan

Kejadian 39: 1-5 Menjadi Berkat di Dalam Tuhan

Renungan Minggu X Setelah Trinitatis

“Menjadi Berkat Di Dalam Tuhan” – Kejadian 39: 1-5 

Yeremia 17:5-10 Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan

Yeremia 17:5-10 Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan

 Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 17: 5-10

Yeremia menghadapi Yehuda yang sudah melakukan dosa di hadapan Allah. Sebagai peringatan kepadanya, Allah berfirman bahwa Yehuda akan menjadi budak di negeri yang tidak dikenal. Pelanggaran Yehuda sangat nyata di hadapan Allah. Mereka lebih mengandalkan kekuatan sendiri yang menjauhkan hati mereka dari Allah. Hidup mereka digambarkan sebagai semak bulus di padang belantara: tidak mengalami kebaikan, seperti tinggal di tanah tandus. Semua ini menjadi lambang kehancuran dan penderitaan. Namun, umat yang mengandalkan Allah akan diberkati. Hidup mereka seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air (ay. 8).

Kondisi ini diserukan Yeremia kepada Yehuda agar mereka mengerti bahwa mereka harus lebih mengandalkan Allah daripada kekuatan mereka sendiri. Dengan mengandalkan Allah, tidak akan dijumpai adanya hati yang menjauh dari Allah dan penuh kelicikan. Sebaliknya hal itu akan menjadikan mereka memliki hati yang baik yang akan melahirkan kebaikan-kebaikan juga dalam hidup mereka, hati yang selalu melekat pada Allah, itulah yang dikendaki. Yehuda juga harus menjaga hati mereka agar tetap melekat pada Allah karena pada dasarnya Allah mengetahui setiap hal yang ada di dalam hati umat (ay. 10). Hati yang menjauh akan menimbulkan dosa dan kejahatan yang akan melahirkan murka Allah pada umat. 

Beberapa kata kunci yang dapat kita renungkan melalui nas ini:

Kutuk (ayat 5-6)

Dosa akan menjadi kutuk bagi setiap orang, sebagaimana yang tertulis dalam Roma 6:23 “upah dosa adalah maut”. Bangsa Yehuda berdosa kepada Tuhan karena mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri (manusia) daripada mengandalkan Tuhan. Mereka digambarkan seperti semak di padang belantara yang tinggal di tanah yang angus di padang gurun di padang asin yang tidak berpenduduk. Ini menggambarkan kehidupan orang mengandalkan dirinya sendiri dan tidak mengandalkan Tuhan. Walaupun semak bulus itu memiliki kemampuan untuk bertumbuh sendiri, tetapi lingkungan tanah dan cuaca tidak akan mendukungnya dalam pertumbuhannya, sehingga akhirnya semak bulus itu akan mati.

Maka demikianlah orang yang mengandalkan dirinya sendiri, merasa dirinya mampu, pintar, kuat untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Apa yang dia rencanakan dan kerjakan tidak pernah dipertimbangkannya apakah itu berkenan kepada Tuhan atau tidak, dan dia juga tidak pernah menyerahkan hidupnya dalam pemeliharaan Tuhan. Maka orang yang tidak mengandalkan Tuhan berarti merendahkan Tuhan dalam hidupnya.

Ketika kita mengandalkan diri sendiri, maka akan banyak hal-hal dalam dunia ini yang akan menarik, kita akan diombang-ambingkan oleh berbagai keinginan dan nafsu tanpa ada pengangan. Kita hanya akan semakin menyusahkan diri kita sendiri dan akhirnya menimbulkan berbagai dosa. Kita tidak lagi mempertimbangkan apa yang kita perbuat benar atau tidak yang penting kita hendak memuaskan keinginan daging yang justru akan menyesatkan kita.

Berkat (ayat 7-8)

Kebalikan dari orang yang berada dalam kutuk adalah orang yang berada dalam berkat Tuhan adalah orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dalam cuaca apapun daunnya tetap hijau dan terus menghasilkan buah. Hal ini terjadi karena pohon itu ditopang oleh sumber kehidupannya yaitu air yang terus mengalir. Tuhan kita Yesus Kristus adalah mata air kehidupan yang akan selalu memancar hingga hidup yang kekal (bnd. Yoh. 4: 14).

Orang yang diberkati oleh Tuhan bukan artinya hidupnya tidak akan menghadapi kesusahan dan penderitaan, tetapi orang yang diberkati oleh Tuhan adalah orang yang selalu disertai Tuhan untuk dapat melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kekusasahan tidak membuatnya menjadi layu dan mati, justru tetap dapat kuat dan terus bertumbuh dan berbuah karena dia selalu mengandalkan Tuhan yang menjadi kekuatan dan pertolongannya. Maka jika dikatakan "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan" artinya Tuhan memberikan kepada kita jaminan berkat penyertaanNya bagi kita untuk menghadapi berbagai hal dalam hidup kita ini, sekalipun yang kita hadapi adalah situasi yang sulit, tetapi ada Tuhan yang menyertai kita, sehingga ada kekuatan dan pengharapan bagi kita bahwa dalam kelemahan kita ada kuasa Tuhan yang tidak terbatas yang akan menopang kita.

Tuhan mengetahui isi hati (9-10)

Perenungan kita selanjutnya adalah apakah kita sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan? Disini Tuhan menjelaskan bahwa Tuhan mengetahui isi hati manusia, artinya Tuhan tahu kesungguhan kita mengandalkan Dia atau tidak, Tuhan tahu bagaimana kesungguhan kita untuk mau hidup dalam Tuhan. Jika kita membaca di ayat 1-4 Tuhan menjelaskan bahwa dosa-dosa bangsa Yehuda telah tertulis dalam loh hati mereka, maka mereka tidak bisa menyembunyikan dosa-dosa mereka dari hadapan Tuhan.

Demikianlah Tuhan tahu bagaimana kesungguhan kita di hadapan Tuhan, apakah kita benar-benar mengandalkan Tuhan atau justru sebaliknya kita mengandalkan diri kita, sebab Tuhan mengetahui isi hati kita.

Yeremia 29: 10-14 Rancangan Damai Sejahtera

Yeremia 29: 10-14 Rancangan Damai Sejahtera

Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 29: 10-14

Nabi Yeremia mengirimkan pesan kepada mereka yang terbuang di Babel supaya mereka dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Walaupun situasi hidup yang sulit tetapi mereka harus dapat memanfaatkan situasi yang sulit itu menjadi kebaikan dalam hidup mereka bahkan mereka harus menjadi berkat dimana mereka dibuang. Hal ini pasti bisa mereka lakukan sebab mereka yang terbuang ke Babel itu adalah orang-orang yang penting dalam suatu negeri. Mereka dibawa ke pembuangan supaya negeri mereka tidak bisa lagi terbangun karena semua orang-orang penting, tukang, pandai besi dan pegawai istana sudah terbuang ke Babel. Walaupun situasi hidup mereka sulit, tetapi mereka yang terbuang itu memiliki potensi untuk mampu bertahan dalam pembuangan.

Ayat 10-11. Nasehat ini menjadi penting sebab ada nabi-nabi palsu yang mengatakan bahwa pembuangan itu hanya sebentar saja dan Babel akan runtuh. Sehingga nabi Yeremia hendak menegaskan kembali rancangan Tuhan, bahwa mereka menjadi orang yang terbuang di Babel adalah hajaran Tuhan atas dosa-dosa mereka, tetapi hajaran itu bukanlah hajaran yang mencelakakan tetapi adalah hajaran damai sejahtera supaya hidup mereka lebih baik dimasa yang akan datang. Maka soal berapa lama mereka terbuang ada dalam rancangan Tuhan dan tidak ditentukan oleh mimpi-mimpi ataupun prediksi nabi-nabi palsu.

Ayat 12-14 dalam situasi yang sulit dalam pembuangan, nabi Yeremia juga menyampaikan firman Tuhan bahwa jika mereka terbuang bukan artinya mereka ditinggalkan oleh Tuhan tetapi justru sebaliknya itu semua adalah untuk kebaikan mereka. Walaupun mereka di pembuangan Tuhan tetap memperhatikan dan mendengar mereka. Apabila mereka berdoa, maka Tuhan akan mendengarkan dan apabila mereka mencari Tuhan maka mereka akan menemukan Tuhan. Hingga pada waktunya Tuhan akan memulihkan mereka. Mereka yang tetap taat dan tekun untuk taat kepada Tuhan dalam pembuangan pada saatnya akan menerima pemulihan dari Tuhan.

Renungan

      1.     Situasi yang dihadapi oleh orang Yahudi di pembuangan ini menjadi suatu pelajaran bagi kita ketika menghadapi pergumulan. Suara siapa yang akan kita dengarkan? Apakah kita akan mendengarkan suara nabi-nabi palsu yang terlalu menganggap sepele pergumulan yang kita hadapi atau mendengarkan pikiran negatif dalam pikiran kita yang menganggap Tuhan itu jauh dari kita, Tuhan itu tidak memperhatikan kita. atau apakah kita akan mendengarkan suara Tuhan supaya menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Bagaimanapun situasi kehidupan yang sudah kita lalui dan yang sedang terjadi dalam kehidupan saat ini, kita pasti mampu menghadapinya dan sanggap melaluinya jika kita selalu mendengarkan perintah Tuhan. Bisa muncul bisikan-bisikan yang membuat kita.

      2.     Rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Dari semua yang dapat kita pikirkan dan rencanakan di tahun yang baru yang hendak kita masuki, kita percaya bahwa rancangan Tuhan atas hidup kita adalah yang terbaik. Kita percaya Tuhan tahu bagaimana dan seperti apa kita sekarang ini dan apa yang menjadi harapan kita, tetapi diatas semuanya itu kita mau menundukkan diri dihadapan Tuhan dan memohon kepadaNya mewujudkan rencanaNya yang terbaik atas hidup kita.

     3.     Kehadiran Tuhan dalam hidup kita sungguh nyata, Tuhan berfirman bahwa adalah Tuhan yang mendengar dan Tuhan yang mau untuk ditemui. Dalam pergumulan dan harapan kita disepanjang perjalanan hidup ini ada Tuhan yang selalu ada untuk mendengar doa kita dan yang selalu bersedia untuk ditemui.

2 Raja-raja 4: 42-44 Allah Memelihara UmatNya

2 Raja-raja 4: 42-44 Allah Memelihara UmatNya

 Bacaan Firman Tuhan: 2 Raja-raja 4: 42-44

Dalam kitab 2 Raja-raja 4 kita dapat melihat berbagai mujizat yang Tuhan perbuat melalui pelayanan nabi Elisa. Pemeliharaan Tuhan kepada keluarga janda (1-7), melepaskan perempuan Sunem dari penderitaannya karena tidak memiliki anak dan juga mujizat menghidupkan kembali anaknya yang telah mati (8-37), melepaskan rombongan nabi dari makanan beracun (38-41) dan dalam nas renungan kita saat ini tentang mencukupkan makanan yang sedikit untuk dapat dimakan seratus orang bahkan masih ada sisanya (42-44).

Hal ini memberikan kepada kita suatu penglihatan akan kuasa Allah ditengah-tengah kehidupan kita. Ada beragam pergumulan, namun Tuhan mengetahui dan Tuhan sanggup untuk melepaskan kita dari berbagai pergumulan kita dan cara-cara Tuhan memberikan kelepasan adalah dengan hal-hal yang tidak terduga. Namun yang patut kita perhatikan bahwa mujizat Tuhan terjadi ketika abdi Allah yaitu Elisa ada dalam pergumulan itu. Artinya bahwa kita percaya bahwa ada penyertaan dan pertolongan Tuhan diantara orang-orang yang selalu beserta dengan Tuhan, ketika kita tetap mau untuk tunduk dan taat kepada perintah Tuhan, maka akan selalu ada pertolongan Tuhan.

Ketika seorang dari Baal-Salisa datang kepada Elisa membawa roti hulu, dua puluh roti jelai dan gandum baru, Elisa memerintahkan agar pelayannya membagikannya, namun pelayannya itu merasa kesulitan untuk membagikannya, karena bagaimana mungkin itu cukup untuk dibagikan kepada seratus orang. Namun Elisa meyakinkan pelayannya itu bahwa itu akan cukup karena Tuhan yang sudah berfirman bahwa makanan itu akan cukup bahkan akan ada sisanya.

Kita teringat dengan mujizat yang jauh lebih besar lagi sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus kepada lima ribu orang dan masih sisa dua belas bakul lagi. Sesungguhnya Tuhan memperhatikan dan mencukupkan kebutuhan orang-orang yang mengikutiNya. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Tuhan pasti memelihara orang-orang yang percaya kepadaNya. 

Beberapa hal yang bisa kita renungkan melalui nas ini:

             1.     Tuhan punya banyak cara untuk memelihara hidup kita

Dari nas ini kita dapat melihat bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan hidup Elisa dan rombongan nabi-nabi dengan mendatangkan seorang Baal-Salisa untuk membawa makanan kepada mereka. Maka kita diigatkan untuk menghidupi keyakinan bahwa Allah tahu kebutuhan hidup kita, Dia tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang kita perlukan. Tuhan punya banyak jalan dan cara untuk memberkati kehidupan kita, jangan kita hanya bersandar pasrah pada pikiran dan kemampuan kita yang terbatas, tetapi tetaplah berjalan dan lakukan segala sesuatu yang kita mampu lakukan, selebihnya percayakan kepada Tuhan yang berkuasa atas kehidupan ini. Dia bisa membuka jalan, cara maupun mengutus orang-orang yang mau memberikan kita pertolongan. Ada banyak cara Tuhan memberkati perjalanan hidup kita.

             2.     Jangan kawatir akan hidupmu

Melihat kekawatiran pelayan nabi Elisa untuk membakikan makanan karena tidak akan cukup, hal ini menggambarkan bagaimana keterbatasan kita manusia. Secara pertimbangan pikiran memang makanan itu tidak cukup maka wajar jika pelayan itu kawatir, tetapi disinilah kuasa Tuhan bekerja dalam memelihara hidup mereka, bahwa yang sedikit itu dapat dicukupkan bahkan dilebihkan oleh Tuhan bagi mereka.

Pikiran-pikiran seperti ini bisa muncul dalam kehidupan kita. jika dari pertimbangan pikiran bagaimana penghasilan yang sedikit dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, untuk makan, transportasi, biaya listrik, air, dan lain sebagainya. Namun tanpa kita sadari bahwa Tuhan itu sungguh baik dan penuh rahmat dalam hidup kita, Dia selalu mencukupkan kebutuhan hidup kita diluar kemampuan dan logika kita. Maka kita diajak untuk tidak pernah kawatir akan kehidupan kita, walaupun sedikit tetapi jika kita memakainya dengan rasa syukur kepada Tuhan, maka yang sedikit itu akan menjadi berkat dalam hidup kita. Ada yang berkata “saya bisa apa”; “aku tidak mampu”, banyak orang yang menyerah dengan keadaan karena mempertimbangkan kemampuannya, dia tidak jauh mempertimbangkan bahwa ada Tuhan yang dapat memberkati setiap orang dalam keterbatasannya. Jika semua yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keyakinan akan penyertaan Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan ada bersama kita dalam menyempurnakan segala kelemahan kita.

              3.     Taat kepada perintah Tuhan

Dalam kekawatiran pelayan itu untuk membagikan makanan, Elisa meneguhkannya bahwa apa yang akan diperbuatnya itu bukanlah seperti yang dipikirkannya tetapi akan terjadi seperti kehendak Tuhan. Kita percaya bahwa ketika kita mau untuk taat pada apa yang diperintahkan oleh Tuhan, maka rencana Tuhan yang terbaik atas hidup kita akan terjadi.

Kita dapat melihat bagaimana keyakinan Elisa dan juga keteguhannya meyakinkan hambanya didasarkan atas apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Kita diingatkan kembali ketika Tuhan Yesus mengatakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Maka dasar keyakinan kita adalah firman Allah, itulah yang memberikan kehidupan kepada kita. Yang dapat menjamin kehidupan kita hanyalah Tuhan. Sehingga jika kita ingin hidup, carilah Tuhan bukan mencari roti, karena dengan sendirinya orang yang mencari Tuhan sudah mendapatkan roti, sebab sumber roti yang menjadi kebutuhan fisik kita berasal dari firman yang keluar dari mulut Allah. Sebagaimana juga yang dikatakan Tuhan Yesus: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Yang pertama adalah iman, doa, pengharapan bahwa kita yakin yang kita perlukan untuk hidup kita ada pada Tuhan. Maka apapun yang sedang kita usahakan, rencanakan, butuhkan, inginkan harus memiliki dasar yang jelas. Jika kita ingin menikmati berkat yang melimpah jangan cari buahnya, tetapi carilah pohonnya yang adalah sumber dari buahnya. 

Roma 4:13-25 Allah Memperhitungkan Iman Orang Percaya

 Bacaan Firman Tuhan: Roma 4:13-25

Disini rasul Paulus menjelaskan pembenaran oleh iman itu dengan mencontohkan bagaimana Abraham dibenarkan Allah oleh karena imannya. Abraham dibenarkan bukan karena menaati hukum taurat, tetapi karena imannya kepada Tuhan. Walaupun janji Tuhan kepada Abraham kelihatannya mustahil terjadi, namun Abraham mempercayai janji Tuhan. 

Yeremia 29:1-7 Krisis Menjadi Berkat

Yeremia 29:1-7 Krisis Menjadi Berkat

 Bacaan Firman Tuhan: Yeremia 29: 1-7

Kota Dubai di Uni Emirat Arab saat ini telah dikenal menjadi destinasi wisata modern yang diminati diseluruh dunia. Mereka berhasil untuk mengubah keadaan mereka dari padang gurun yang tandus karena mereka ketersediaan minyak yang sudah menipis. Mereka mampu untuk menggunakan krisis menjadi berkat. Kita juga bisa banyak belajar dari banyak tokoh-tokoh sukses, yang mana mereka terdorong menjadi sukses adalah karena kepahitan hidup mereka.